Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Sertifikat palsu


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Bbrrraaakkk


Jeni membanting tas dan map yang berisi sertifikat rumah. Dia kesal dan sangat marah, karena sertifikat yang ingin digadaikan ternyata sertifikat palsu. Setelah dari penggadaian, Jeni dan Ibu Darti tadi juga sempat ke bank dan ternyata hasilnya sama saja.


Jeni dan Ibunya sampai malu, Jeni sempat marah-marah di bank sehingga Jeni dan ibunya terpaksa di usir oleh satpam. Melihat Jeni dan ibu Darti pulang, Pak Anwar menghampiri mereka dan menanyakan hasil dari gadai sertifikat rumah.


" Kenapa dengan wajah kalian? Apa sudah selesai urusannya? Dapat berapa total pinjamannya?."Tanya pak Anwar secara beruntun.


" Pak !! Kenapa bapak tidak bilang kalau sertifikat ini palsu? Ibu sama Jeni malu pak, kami sudah ke penggadaian dan bank nyatanya mereka berdua bilang kalau sertifikat ini palau ! Pasti bapak yang sudah memalsukan sertifikat ini kan?." Tanya Ibu Harti dengan penuh emosi dia menuduh suaminya yang sengaja memalsukan nya.


Haah ? Palsu?


Tentu saja pak Anwar syok dan kaget saat istrinya mengatakan sertifikat itu palsu. Selama ini dia sama sekali tidak mengutak-atik sertifikat rumah, selama bertahun-tahun sertifikat itu ada didalam lemari dan istrinya pun tahu soal itu.


" Apa ? Palsu bu? Kok bisa? Bapak sama sekali tidak tahu menahu soal sertifikat itu bu. Bukannya ibu sendiri yang menyimpan sertifikat itu? Kenapa bapak yang disalahkan, pakai menuduh bapak yang memalsukan segala. Jangan fitnah kamu bu."Seru pak Anwar tidak terima dituduh memalsukan sertifikat rumah.


" Lantas siapa pak? Sertifikat ini ada di lemari rias ibu selama bertahun-tahun tapi kenapa sekarang jadi palsu begini, Pak? Siapa yang sudah memalsukan sertifikatnya?."Tanya ibu Harti.


Huuufffff

__ADS_1


Jeni menghela nafas dengan kasar, hari ini dia benar-benar kesal dan emosi. Rencana pembelian mobil harus batal karena sertifikat rumah tidak bisa di jaminkan. Padahal dia sudah koar-koar di sosial media dan group teman-teman arisannya kalau dia akan membeli mobil.


" Terus bagaimana ini bu? Jeni sudah terlanjur bilang sama teman arisan kalau Jeni mau beli mobil. Malu dong kalau sampai tidak jadi, mau di tarok mana muka Jeni bu."Ucap Jeni dengan wajah cemberut di tekuk-tekuk.


" Ya mana ibu tahu, Jeni. Kamu juga belum jadi beli mobil sudah pamer sana-sini, kalau seperti inikan kamu yang malu sendiri. Ibu saja masih bingung kenapa sertifikat ini palsu, atau jangan-jangan.... "Ucap ibu Harti menjeda ucapannya lalu memandang kearah pak Anwar.


Ibu Harti mencurigai jika Rumi dan Arman lah yang sudah memalsukan sertifikat rumah. Sebab selama ini hanya mereka yang tahu seluk beluk tentang harta orang tua Olivia, bahkan tetangga sini saja belum ada yang tahu jika Olivia adalah anak tirinya. Sebab rumah yang ditempati mereka dulunya rumah baru dan belum sempat di tempati oleh kedua orang tua kandung Olivia.


" Pasti Rumi dan Arman yang memalsukan sertifikat itu pak. Iya benar, pasti mereka karena mereka iri dengan kita."Ucap ibu Harti.


" Tapi bu, sertifikat rumah itu waktu itu kita ambil sertifikat itu dari bengkel kan? Bengkel yang selama ini menjadi tempat tinggal Orang tua Olivia? Aku tidak yakin kalau Arman dan Rumi yang memalsukannya. Sudahlah bu, jangan cari masalah sama mereka yang ada ibu bakal susah sendiri."Ucap pak Anwar.


Sejujurnya pak Anwar sendiri juga bingung kenapa sertifikat rumah itu palsu. Tiba-tiba saja dia teringat kata-kata Olivia akhir-akhir ini yang mengatakan akan mengusir Adrian dan Jeni.


* Apa jangan-jangan Olivia sudah tahu jika kami ini bukan orang tua kandungnya. Dan rumah ini adalah rumah orang tuanya, sehingga dia mengambil sertifikat aslinya dan menukar dengan yang palsu. Jika memang benar seperti dugaanku ini, berarti Rumi dan Arman ikut andil. Jika memang benar Olivia yang menukar sertifikat itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memang berhak atas rumah ini. Selama ini aku dan istriku sudah terlalu serakah memakan haknya, apalagi dia yatim piatu. Mungkin inilah yang membuat hidupku terus begini-begini saja.*Gumam Pak Anwar dalam hatinya.


" Mau kemana bu?."Tanya pak Anwar yang melihat istrinya sudah bersiap pergi.


" Mau kerumah Rumi, ibu yakin pasti dia dalang semua ini. Ayok Jen, kita kerumah Rumi. Ibu akan bikin perhitungan dan akan mengambil sertifikat rumah ini."Seru ibu Harti.


" Jangan cari masalah sama mereka bu ! Ibu tahukan kalau harta Olivia sudah kita habiskan? Apa ibu lupa kejadian beberapa tahun yang lalu, yang bengkel bangkrut dan kita menjualnya? Bagaimana marahnya Arman ibu masih ingat kan? Sekarang bapak minta jangan cari masalah dengan mereka lagi bu."Ucap pak Anwar.


Ibu Harti tidak perduli, dia tetap meminta Jeni untuk mengantarkannya kerumah Rumi dengan mengendarai motor pak Anwar. Pak Anwar tidak bisa mencegah istrinya, dia hanya bisa memandangi kepergian istri dan anaknya dengan tatapan nanar.


Hanya butuh waktu sekitar 35 menit, ibu Harti dan Jeni sudah sampai dirumah tante Rumi. Dengan langkah terburu-buru dan Ibu Harti menghampiri pintu utama dang mengetuknya tanpa sopan.


Duuggh

__ADS_1


Duughh


" Rumi !! Rumi !! Keluar kamu !!."Teriak ibu Harti sama sekali tidak punya sopan samtun.


Jeni berdiri di belakang ibunya dengan bersedekap tangan. Biarlah ibunya yang berurusan dengan tantenya itu, jika terdesak baru dia akan ikut turun tangan.


Ceklekk...


Pintu terbuka dan terlihat tante Rumi yang membukakan pintu.


" Harti ! Mau apa kamu datang kerumah ku? Datang tidak punya sopan santun, apa begini cara kamu bertamu tempat oran?."Tanya Tante Rumi.


" Hehh.. Mana sertifikat rumah ku?."Tanya ibu Harti dengan tangan berkacak pinggang.


* Hahh Sertifikat rumah? Kenapa dia mencari sertifikat kerumah? Atau jangan-jangan dia sudah tahu kalau sertifikay sudah diganti sertifikat palsu dan dia tahu yang asli ada disini? Hemm tapi bagaimana bisa?.*Gumam tante Rumi dalam hati.


Tante Rumi menyembunyikan keterkejutannya, dia tidak boleh kelihatan gugup agar Ibu Harti dan Jeni tidak curiga.


" Memangnya rumahku ini penggadaian sampai kamu cari sertifikat rumah kesini?."Tanya tante Rumi pura-pura tidak paham dengan ucapan Ibu Harti.


" Jangan pura-pura tidak tahu kamu, Rumi !! Kamu dan suami kamu kan yang sudah menukar sertifikat rumah ku dengan sertifikat palsu. Mana sekarang sertifikatnya? Cepat bawa sini!!."Ucap ibu Harti membentak Tante Rumi.


" Sudahlah tante, cepat bawa sini itu sertifikat dam setelah itu kami akan pergi. Tante itu tidak ada hak atas rumah itu, sudah tua saja banyak tingkah ! Lebih baik tante urusin saja itu anak gadis tante yang sampai sekarang belum juga menikah, awas jadi perawan tua alias tidak laku."Ucap Jeni justru dia membuat tante Rumi naik darah.


Pllaakk


Tamparan dari tante Rumi mendarat dengan sempurna di pipi Jeni. Mulut Jeni sama persis dengan mulut ibunya, sama-sama pedas dan berbisa.

__ADS_1


***************


__ADS_2