
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Urusan ke hebohan tadi pagi sudah tidak di bahas lagi. Beruntungnya memang para karyawan tidak ada yang ikut mencibir Olivia, ada beberapa yang memang hanya berkasak kusuk dan tidak berani melontarkan umpatan untuk Olivia.
Saat jam makan siang, Adrian menrmui Jeni yang ada di ruang kesehatan. Dari pagi tadi Jeni belum kembali bekerja meskipun dia sudah siuman.
" Kenapa kamu tidak kembali bekerja malah enak-enakan tidur disini? Apa kamu mau pak Miko semakin marah dan memecat mu? Cepat kamu temui Olivia dan pak Miko untuk meminta maaf agar kamu tidak di pecat." Seru Adrian menegur Jeni dengan kesal.
" Aku malas ! Aku juga tidak mau meminta maaf kepada Olivia, bisa besar kepala dia kalau aku meminta maaf kepada anak angkat itu."Jawab Jeni seenaknya seakan perusahaan itu milik orang tuanya saja.
Arrrgghhhh.....
Adrian menjerit dalam hatinya, dia tidak habis fikir dengan pemikiran Jeni. Sudah tahu dia yang salah tapi tidak sadar diri juga, justru merasa dirinya paling benar. Jika Jeni terus-terusan seperti itu tidak menutup kemungkinan jabatan Adrian juga yang akan menjadi taruhannya.
Adrian mengacak rambutnya dengan kasar, Jeni terlalu keras kepala. Tidak tahu lagi harus bagaimana dia menasehati Jeni.
" Jen, kamu jangan seenaknya seperti ini? Kamu tahu kan berhadapan dengan siapa? Kalau kamu di pecat bagaimana? Dan jangan sampai aku juga terkena imbasnya, Jeni."Ucap Adrian lagi.
" Jika aku di pecat, aku akan mengadukan Olivia kepada ayah dan ibu ku. Mereka pasti akan memarahi Olivia, seenaknya saja main pecat. Lagipula perusahaan ini kan milik Miko, status dia itu iparku masa iya dia mau memecat aku? Aku ini kan kakak iparnya, keluarganya juga."Jawab Jeni tidak berlogika sama sekali.
Jeni keluar dari ruangan kesehatan, perutnya sudah lapar bahakan cacing dalam perutnya sudah meronta-ronta minta diberi makan. Jeni langsung berjalan menuju kantin, benar-benar muka tembok. Tidak punya rasa malu sama sekali, setelah pagi tadi membuat keributan dan menghina istri Ceo.
" Wahhh masih punya muka juga kamu Jen?." Tanya Rindu sambil terkekeh.
" Diam kamu ! Jangan mengganggu aku makan, berani cari masalah dengan ku siap-siap saja kamu di pecat."Ucap Jeni dengan entengnya.
__ADS_1
" Maksudmu dipecat bagaimana? Bukannya kamu yang bakalan di pecat pak Miko? Heheee.. Selain tidak tahu malu kamu itu pelakor juga ya? Ternyata mendapatkan Adrian dengan cara jadi selingkuhannya, tega benar kamu sama adikmu sendiri Jen. Tapi beruntung juga Olivia tidak jadi menikah dengan Adrian, karena dia dapat pengganti yang 100 kali lipat dari Adrian."Ucap Rindu mencibir Jeni.
Prannggg...
Jeni melemparkan gelas yang berisi es jeruk ke arah Rindu. Beruntung gelas itu tidak mengenai Rindu, karena mereka duduk terhalang kursi dan gelas itu menghantam kursi.
Semua pasang mata memandang ke arah Jeni dan Rindu yang saat ini sedang adu mulut.
" Kurangajar !! Aku ini bukan pelakor !."Seru Jeni dengan lantang.
" Pelakor kok tidak mau di sebut pelakor. Sadar diri dong Jen, tidak lama lagi pasti kamu akan di pecat. Setelah kamu di pecat, devisi pemasaran akan semakin tenang dan tidak ada lagi orang yang sok pintar dan sombong sepertimu. Sebenarnya kami semua ini muak dengan kesombongan dan keangkuhan kamu. Apalagi semenjak Adrian menjadi menejer kamu semakin sombong dan tidak tahu diri !!."Ucap Rindu dengan berani.
Akhirnya keluar juga uneg-uneg para karyawan melalui Rindu. Mereka memang tidak suka dengan Jeni, Jeni terlalu sombong dan angkuh serta banyak bicara. Memamerkan akan beli mobil dari zaman dulu, sampai sekarang mobil itu tidak ada juga.
" Awas kamu, Rindu !!."Seru Jeni mengancam Rindu.
" Aku tidak takut denganmu."Jawab Rindu dengan santainya.
Setelah keributan kecil itu akhirnya jam makan siang pun habis. Jeni diminta untuk mengganti rugi gelas yang tadi dia pecahkan dengan di sengaja.
" Ada apa kamu memanggil ku?." Tanya Jeni dengan tidak sopan.
" Bisa sopan tidak? Aku ini bos kamu, jangan seenaknya saja kamu bicara dengan ku. Jaga sikap kamu. Aku tidak perduli siapa kamu, sekarang aku minta kamu minta maaf kepada istriku dan kepadaku. Setelah ini aku akan mempertimbangkan lagi untuk memperkerjakanmu ."Seru Miko mencoba bicara baik-baik dengaan Jeni.
" Apaan sih ? Aku tidak mau meminta maaf kepada Olivia si adik kurangajar itu. Meskipun kamu itu bosku, tetap saja kamu itu adik iparku. Seharusnya kamu yang bersikap sopan dan menjaga sikap, jangan mentang-mentang kamu pemilik perusahaan kamu mau pecat seenak nya." Ucap Jeni lagi tanpa menunjukan rasa bersalahnya sama sekali.
Brraaakkk
Miko sudah tidak bisa bicara baik-baik lagi, karena pada dasarnya Jeni memang tidak bisa di ajak bicara baik - baik. Hanya untuk meminta maaf saja dia tidak mau, tidak ada alasan lagi untuk Miko mempertahankan Jeni di kantornya.
" Hari ini juga kamu saya PECAT !!!."Seru Miko akhirnya memcat Jeni.
__ADS_1
Keluar juga kata Pecat dari mulut Miko, sedari tadi dia sudah berusaha untuk bicara baik-baik dengan Jeni akan tetapi tanggapan Jeni tidak mengindahkannya.
" Loh kok aku di pecat? Tega kamu memecat kakak iparmu sendiri."Seru Jeni tidak terima di pecat.
" Siapa kakak iparku? Kamu ?."Seru Miko menunjuk tepat di wajah Jeni.
Hahahaaaa
Miko tertawa dengan lebar, dia merasa geli dengan ucapan Jeni barusan. Sejak kapan Jeni menganggapnya sebagai adik ipar.
" Kemarin-kemarin kamu kemana saja? Sekarang baru mengakui ku sebagai ipar? Bahkan istriku saja dulu tidak kamu anggap, sekarang cepat keluar dari ruanganku dan bereskan barang-barangmu. Jangan lupa ambil gaji terakhirmu dibagian keuangan."Ucapan Miko pelan tapi pasti. Pasti membuat syok dan menyakitkan.
Jeni melongos dan mengepalkan kedua tangannya. Dia memang tidak membantah ucapan Miko, akan tetapi saat ini amarahnya bergejolak dan dendamnya pun menguasai dirinya. Dia menyalahkan Olivia atas apa yang terjadi dengan dirinya hari ini. Jeni keluar dari ruangan Miko dan langsung menuju devisi pemasaran dimana Olivia berada.
Braakk
Braak
Jeni memukul pintu ruangan Olivia dengan penuh emosi. Olivia sudah tahu jika Miko memecat Jeni, dia sudah mengantisipasi kemarahan Jeni sehingga pintu ruangannya sengaja dia kunci.
" Olivia !! Keluar kamu !! Hadapi aku, jangan jadi pengecut kamu ! Gara-gara kamu aku di pecat !!"Teriak Jeni dengan lantang.
Sepertinya hari ini judulnya keributan yang diciptakan oleh Jeni. Hari ini sudah 3 kali ini Jeni membuat keributan dan kali ini mengganggu karyawan yang sedang bekerja.
" Dasar adik tidak tahu diri ! Masih bagus orang tuaku merawatmu dari bayi, tidak tahu terima kasih kamu Olivia."Teriak Jeni terus memaki Olivia.
" Jeni, bisa diam tidak sih. Kami ini sedang bekerja, kamu kira ini hutan teriak- teriak seperti itu. Lagian kalau kamu di pecat itu salah kamu sendiri bukan salahnya Olivia, kamu juga yang cari masalah dan sudah diingatkan malah ngeyel."Seru Rindu kembali mengomeli Jen.
" Iya Jen, kamu ini ganggu orang kerja saja."Ucap Vera ikut berkomentar.
Ciihhh...
__ADS_1
Jeni berdercak dengan kesal, para karyawan sekarang sudah berani dengannya dan semua itu Jeni tetap beranggapan gara-gara Olivia.
************