Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Rumah milik Olivia


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Ibu Harti akhirnya mengiyakan untuk menggadaikan rumah. Demi Jeni apapun akan dia lakukan, dia yakin jika Adrian dan Jeni pasti bisa untuk membayar uang cicilan setiap bulannya. Rumah peninggalan orang tua Olivia terbilang cukup besar, rumah dengan 4 kamar itu berdiri di atas tanas yang luas.


" Bagaimana sayang? Apa ibu setuju jika rumah ini digadaikan?."Tanya Adrian dengan sangat antusius ingin cepat tahu keputusan sang ibu mertuanya.


" Ibu setuju mas. Tapi ibu juga akan bicara dulu dengan Ayah, dan aku yakin ayah juga akan setuju. Aku ini anak kesayangannya, pasti akan diturutinya semua permintaanku. Aku sudah tidak sabar lagi ingin membeli mobil mas, setelah kita beli mobil kita pamerkan sama Olivia. Si anak pungut itu pasti akan kepanasan saat tahu kita punya mobil."Ucap Jeni yang sudah mempunyai tujuan tidak baik.


" Sayang, nanti cicilan tiap bulannya bagaimana? Kamu tahu sendirikan kalau aku juga masih punya cicilan motor, masih 1 setengah tahun lagi baru selesai motor itu. Dan aku juga masih harus memberi nafkah untuk ibuku, sebagai anak laki-laki aku wajib memberikan nafkah untuk ibu."Ucap Adrian justru sekarang baru bingung memikirkan cicilan pinjaman.


Hhhhhaaaaaahhhhh


Jeni membuang nafasnya dengan kasar, sebenarnya dia kurang setuju jika Adrian memberikan uang bulanan untuk ibunya. Sudah pernah Jeni memprotesnya tapi Adrian tetap bersikukuh jika dia wajib menafkahi ibunya, anak laki-laki selamanya akan menjadi milik ibunya. Itulah yang selalu menjadi alasan Adrian, padahal Ayah Adrian sendiri masih ada dan masih bekerja.


" Mas kalau cicilan itu harus aku tanggung sendiri pasti berat dong mas? Sedangkan kamu hanya memberikan nafkah kepadaku cuma 1 juta, barang-barang ku itu mahal mas. Kalau untuk cicilan, aku tidak bisa belanja-belanja dong."Ucap Jeni dengan wajah sedihnya.


" Sayang, bagaimana kalau Olivia juga bantu bayar cicilan mobilnya. Dia kan tinggal disini juga, nah kita alasan saja kalau mobil itu dibeli memang atas nama keluarga tapi tetap kita berdua yang berkuasa atas mobil itu. Bagaimana?."Ucap Adrian memberikan ide yang menurutnya sangat briliant.


Sudah pasti tanpa menunggu lama, Jeni menyetujui ide bagus dari suaminya. Suami dan istri itu memang cocok, sama-sama benalu dan pengeretan. Tidak tahu malu, sudah hidup menumpang tapi mau enak sendiri.

__ADS_1


" Wahh kamu memang pintar Mas."Ucap Jeni langsung memeluk Adrian.


" Adrian gitu loh."Jawab Adrian dengan bangganya.


Sorepun berganti malam, keluarga Olivia sedang makan malam bersama. Kali ini tanpa Olivia, memang hari-hari biasanya Olivia sudah jarang sekali bergabung dengan keluarganya meskipun hanya untuk makan.


" Pak, selesai makan malam jangan keluar dulu ya? Ibu dan Jeni mau bicara penting."Ucap ibu Harti.


" Hemmm... "Jawab pak Anwar hanya berdehem saja.


Mereka berempat menikmati makan malamya dalam diam. Jeni dan Adrian ingin sekali cepat selesai makan agar mereka bisa segera membahas soal gadai rumah untuk membeli mobil impian mereka.


Setelah 20 menit, acara makan malam mereka sudah selesai. Kini mereka berempat duduk di ruang tamu untuk membicarakan soal keinginan Jeni yang akan membeli mobil.


" Pak Jeni ini ingin membeli mobil, bapak tahu sendirikan kalau Jeni ini sedang hamil? Nah untuk memudahkan Jeni jadi mereka memutuskan untuk membeli mobil, menurut bapak bagaimana?." Tanya ibu Harti meminta persetujuan Pak Anwar.


" Ya itu terserah Jeni dan Adrian, mereka yang punya duitnya dan mereka yang akan membelinya."Jawab pak Anwar dengan santainya.


" Emm.. Iya sih pak. Tapi Jeni tidak ada uang, uang tabungan mereka untuk persiapan persalinan sama syukuran anak mereka nanti. Jeni minta kita untuk gadaikan rumah ini pak."Ucap ibu Harti akhirnya berterus terang.


Apa?


Olivia kaget saat Jeni meminta menggadaikan rumah untuk membeli mobil. Padahal mobil belum butuh-butuh amat, motor Adrian sendiri sudah bagus dan mahal. Jika rumah ini akan digadaikan sudah pasti akan segera ketahuan jika sertifikat rumah yang mereka simpan itu sertifikat palsu.


" Apa ? Menggadaikan rumah bu?." Tanya pak Anwar dengan kaget.

__ADS_1


" Ayah tenang saja, nanti pasti kami akan membayar cicilannya setiap bulannya. Kita juga akan meminta Olivia untuk membantu membayar cicilannya, lagipula mobil itu juga nanti untuk kita semua. Siapa saja bisa memakainya."Ucap Jeni dengan janji-janji manisnya.


" Tapi masalahnya rumah ini milik Olivia."Seru pak Anwar dengan tegas.


Jeni dan Adrian saling beradu pandangan. Mereka heran, bagaimana bisa rumah ini milik Olivia. Sedangkan Olivia hanya anak pungut, yang Jeni katahui tidak mempunyai hak apapun atas rumah yang saat ini mereka tempati.


" Ayah tidak sedang bercanda kan?."Tanya Jeni dengan wajah keheranan. Jeni dan Olivia memanggil pak Anwar memang dengan panggilan Ayah. Jadi jangan ada yang protes kenapa kok ibunya panggil bapak sedangkan anak-anaknya memanggil Ayah.


" Ayah serius. Apapun yang kita pernah miliki ini adalah milik Olivia, sawah, bengkel dan rumah ini peninggalan Orang tua Olivia. Sawah sudah bapak jual untuk biaya operasi kamu dulu dan sisanya untuk biaya hidup kita. Bengkel bangkrut dan itu juga sudah Ayah jual, uangnya untuk biaya sekolah kamu Jen. Dan untuk rumah ini Ayah tidak mau menjualnya, karena ini milik Olivia. Dia berhak atas rumah peninggalan orang tuanya ini."Ucap Pak Anwar menjelaskan semuanya kepada Jeni dan Adrian.


Diluar rumah, Olivia yang sedang mendengarkan percakapan mereka pun tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ternyata pak Anwar masih peduli dengannya, dia mempertahankan rumah ini untuknya.


" Tapi Jeni juga berhak atas rumah ini, Jeni juga anak Ayah dan ibu. Pokoknya Jeni tidak mau tahu, rumah ini harus dibagi dengan adil."Seru Jeni dengan bersikeras meminta rumah dibagi dengan adil.


" Pak, apa yang dikatakan Jeni ada benarnya juga. Sudah cukup kita merawat Olivia dari bayi sampai detik ini, rumah ini kita juga berhak. Tidak perlu dijual juga pak, hanya digadaikan saja."Ucap ibu Harti ikut membenarkan pendapat anaknya.


" Tapi bu, bapak kawatir kalau Jeni dan Adrian tidak bisa membayar cicilannya. Rumah ini pasti akan disita bank, kalau sudah disita bagaimana dengan Olivia? Tapi terserah kalian saja, jika sampai terjadi sesuatu dikemudian hari dengan rumah ini bapak tidak mau ikut campur, silahkan saja kalau kalian mau menggadaikan rumah ini."Ucap pak Anwar lalu bangkit dan melangkahkan kakinya hendak keluar rumah.


Mendengar langkah kaki yang mendekat kearah pintu, Olivia buru-buru bersembunyi agar tidak diketahui keberadaannya. Terlihat pak Anwar membuka pintu rumah dan keluar menjauh dari pekarangan rumah. Biasanya jika malam seperti ini pak Anwar akan berkumpul dengan teman-temannya di pos ronda.


Olivia kembali mendekati pintu dan langsung membukanya. Di ruang tamu masih ada Ibu Harti, Jeni dan Adrian. Olivia hanya melirik sekilas saja, tidak ada keinginan untuk menyapanya.


* Silahkan saja kalian gadaikan rumah ini, nanti justru kalian yang akan malu sendiri. Sertifikat palsu digadaikan, yang ada dikira sudah tidak waras lagi. Hemm... Sepertinya aku juga akan bermain-main dengan Jeni, dia sangat ingin membeli mobil. Bagaimana kalau aku beli duluan biar dia semakin kepanasan? Hahaa... *Gumam Olivia dalam hatinya.


**************

__ADS_1


__ADS_2