Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Pindah ke kontrakan


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Setelah mengacak-acak pakaian Jeni dan Adrian serta mengeluarkan semua barang-barang mereka dari kamar Jeni, Olivia pun masuk ke kamarnya. Didalam kamar Olivia menangis menumpahkan semua kesedihannya. Selama ini Olivia berusaha untuk kuat dan terlihat tegar, nyatanya hatinya rapuh.


Tok


Tok


Tok


Olivia mengabaikan ketukan pintu kamarnya yang di ketuk terus menerus. Olivia tidak mau di ganggu, dia mau sendiri dan tidak mau bertemu dengan siapapun.


" Olivia buka pintunya !! Kamu tidak bisa mengusir Jeni begitu saja, cepat kembalikan kunci kamar Jeni Olivia !!."Teriak ibu Harti meminta kunci kamar Jeni yang memang sudah Olivia ambil.


Sebelum kembali kekamarnya, Olivia tadi mengunci kamar yang ditempati Jeni dan mengambil kuncinya. Dia tidak perduli dengan teriakan dan makian Jeni yang membuat telinganya sakit.


Braakkk


Olivia membuka pintu dengan kasar dan langsung membentak ibu Harti.


" Apa ibu juga mau aku usir dari rumah ini? Jika itu mau ibu, silahkan ibu pergi dengan anak kesayangan ibu itu. Jangan pernah main-main denganku bu, aku bukanlah Olivia yang dulu yang selalu mengalah dan diam jika kalian tindas. Jika malam ini Jeni dan Adrian tidak keluar dari rumahku, aku pastikan semua barang-barangnya akan aku bakar."Seru Olivia mengancam dengan tegas.


Braaakkk

__ADS_1


Selesai bicara seperti itu, Olivia langsung menutup pintu kamarnya kembali. Pintu kamar yang tidak salah apa-apa, menjadi sasaran amarah Olivia.


Di luar kamar, terdengar perdebatan antara Jeni dan Ibu Harti. Jeni nampak marah-marah karena ibunya tidak berhasil mengambil kunci kamarnya. Terdengar pak Anwar juga meminta Adrian dan Jeni segera pergi sebelum Olivia benar-benar melakukan ancamannya.


" Terus kita mau tinggal dimana bu?."Tanya Jeni dengan manja.


" Untuk sementara waktu, lebih baik kalian tinggal di rumah orang tua Adrian saja. Nanti kalau keadaannya sudah membaik dan ibu sudah bisa merayu Olivia, kalian bisa pindah kerumah ini lagi. Sejujurnya ibu juga tidak mau tinggal jauh-jauh dari kamu, Jen. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini Olivia memang sedang marah."Ucap Ibu Marni bicara sangat hati-hati agar Jeni tidak marah.


Hhhuuuuufffff


Jeni membuang nafasnya dengan kasar, selama ini dia tidak pernah membayangkan jika dia akan keluar dari rumah yang selama ini dia bangga-banggakan akan menjadi miliknya. Untuk kali ini dia benar-benar kalah dari Olivia.


Jika mau kerumah orang tua Adrian tidak mungkin dan Jeni pun tidak mau tinggal disana. Mau tidak mau, Adrian dan Jeni harus mencari rumah kontrakan.


" Aku tidak mau tinggal di rumah orang tuanya Adrian, selain rumahnya kecil jarak dari rumah ke kantor itu jauh banget. Ada 1 jam perjalanan, yang ada Aku dan Adrian akan telat terus. Mas sana kamu cari rumah kontrakan, mumpung belum malam."Ucap Jeni seenaknya menyuruh Adrian.


" Tapi cari kontrakan dimana Jen? Ini sudah magrib loh Jen, sama saja sudah malam."Jawab Adrian bingung mau mencari rumah kontrakan dimana.


Ceeeekkkk


Jeni berdercak kesal, tapi apa boleh buat jika memang hanya rumah itu yang ada. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari rumah orang tuanya ini, jalan kaki sekitar 10 menit sampai.


Adrian di temani pak Anwar langsung mendatangi rumah pak Rt. Setelah sampai rumah pak Rt, alhamdulillah rumah masih kosong dan bisa langsung di tempati oleh Jeni dan Adrian. Setelah sampai rumah, Adrian dan Jeni segera membawa sebagian barang-barangnya ke rumah kontrakannya dibantu oleh pak Anwar dan ibu Harti.


" Rumahnya kecil bener, cuma ada 1 kamar saja."Seru Jeni dengan wajah cemberut.


" Namanya juga rumah bujangan, Jen. Saudara pak Rt itukan memang bujangan, dan dia pindah ke Surabaya karena pindah tugas disana. Tapi lumayan sih, jadi kamu tidak capek membersihkannya. Kalian tinggal beli peralatan rumah tangga yang belum ada saja, itu sepertinya di dapur cuma ada kompor saja. Tapi kasur ini sudah ada, ruang tamu belum ada sofanya."Seru ibu Harti.


Uang lagi, uang lagi. Itulah yang saat ini ada dalam fikiran Adrian. Tadi saja di rumah pak Rt dia sudah keluar uang 1 juta untuk bayar kontrakan selama 2 bulan. Padahal baru tadi siang juga dia dapat uang sekarang sudah habis juga untuk bayar kontrakan.

__ADS_1


" Berapa ini satu bulannya?."Tanya Jeni.


" Sebulannya 500 ribu, tadi aku sudah bayar langsung untuk 2 bulan."Jawab Adrian jujur.


" Itu kamu ada uang ? Uang darimana?."Tanya Jeni mendesak Adrian.


" Dari mbak Firda, itu uang dari hasil kebun yang dia garap, aku dapat 1 juta itu pun sudah habis. Kebunnya juga kecil, baru kali ini aku dapat bagian 1 juta. Biasanya cuma 200 sampai 500 ribu saja."Ucap Adrian bicara dengan jujur.


Orang tua adrian memang mempunyai sepetak kebun, dan sudah diberikan kepada Firda sebagai anak tertua dan sudah berumah tangga lebih dulu. Kebun itu di garap oleh Firda, meskipun tidak luas dan hasilnya tidak seberapa. Firda tidak melupakan untuk membaginya kepada orang tuanya dan juga Adrian setiap kali panen.


" Kalau begitu Ayah sama ibu pulang dulu. Kalian baik-baik di rumah ini, jangan suka ribut. Yang akur juga sama tetangga."Ucap pak Anwar menasehati Adrian dan Jeni.


" Jangan sok bijak deh pak. Lebih baik bapak fikirkan bagaimana caranya agar Olivia tidak semakin berkuasa dirumah itu agar Jeni bisa kembali lagi dirumah itu. Ibu tidak mau Jeni tinggal di rumah sempit ini terlalu lama."Seru ibu Harti tidak ada hormatnya sama sekali dengan suaminya.


Pak Anwar tidak menjawab, dia melangkah keluar dari rumah lalu menghidupkan mesin motornya meninggalkan ibu Harti yang masih ada didalam rumah kontrakan Jeni.


" Loh kenapa bapakmu malah meninggalkan ibu? Dasar pria tua yang bodoh !!."Maki ibu Harti dengan kesal.


" Nanti Adrian antar saja bu. Adrian bereskan barang-barang dulu ya."Ucap Adrian lalu membongkar kopernya dan menyusun pakaiannya kedalam lemari yang memang sudah ada.


Jeni yang malas untuk menyusun pakaiannya, dia meminta tolong ibunya yang membereskan barang-barangnya. Setelah 15 menit, barang-barang pribadi Jeni sebagian sudah masuk lemari dan sebagian lagi ada dalam koper karena lemarinya sudah tidak muat lagi.


" Bu, Aku yakin jika sertifikat rumah itu ada sama Olivia. Dia sengaja mengambil sertifikat rumah itu, karena dia sudah tahu kalau itu rumahnya. Pasti semua ini karena mulut lemes tante Rumi yang memberitahu Olivia."Ucap Jeni mulai membahas soal sertifikat rumah.


" Kamu benar Jen, ibu akan mencari sertifikat itu. Kemungkinan ada dikamar Olivia. Setelah sertifikat itu ibu dapatkan, ibu akan ganti nama kepemilikan rumah itu menjadi nama ibu."Ucap ibu Harti mulai menyusun rencana licik.


" Kok ibu? Jeni dong, Jeni yang lebih berhak atas rumah itu."Seru Jeni memprotes ibunya.


Dia tidak mau jika rumah itu diatas namakan ibunya. Dia mau rumah itu diatas namakan dirinya agar dia bisa berkuasa. Dan dia bisa mempermalukan Olivia serta mengusirnya dengan paksa.

__ADS_1


************


__ADS_2