
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Adrian bertemu dengan Olivia saat dia masuk ke gedung perusahaan. Terlihat Adrian berjalan lebih cepat untuk bisa menyapa Olivia. Padahal Olivia sengaja menghindari Adrian agar tidak terjadi fitnah. Sebab orang-orang di kantor sudah tahu jika Adrian adalah mantan pacarnya. Apalagi status Adrian juga sebagai kakak iparnya.
" Olivia tunggu !!."Seru Adrian memanggil Olivia.
Dengan sangat terpaksa Olivia menghentikan langkah kakinya, lalu dia berbalik badan melihat ke arah Adrian.
" Ada apa?."Tanya Olivia dengan cepat.
" Kamu apa kabar? Pasti kamu bahagia kan menikah dengan Pak Miko? Karena pak Miko orang kaya dan dia bisa memberikan apa yang kamu mau. Hidupmu pasti terjamin karena kamu menjadi istri dari pemilik Perusahaan WR Group."Pertanyaan beruntun langsung Adrian tujukan kepada Olivia.
" Maksud kamu apa bicara seperti itu? Bukannya kita juga kemarin-kemarin bertemu di perusahaan ini juga? Jangan mendramatisir kamu Adrian, seolah-olah aku ini wanita yang jahat. Dan seolah-olah aku yang sudah meninggalkan kamu dan lebih memilih menikah dengan Miko. Heee... Semua orang juga tahu jika kamulah yang mengkhianatiku dengan berselingkuh. Kamu jangan lupa itu Adrian."Seru Olivia bicara sedikit pelan agar orang-orang di sekitar tidak tahu dan tidak terjadi keributan lagi.
Adrian terdiam, Sepertinya dia sedang memikirkan ucapan Olivia barusan. Dalam hatinya dia memang membenarkan jika dialah yang selama ini sudah bersalah. Dia sudah berselingkuh dengan Jeni dan lebih memilih menikahi Jeni ketimbang Olivia. Padahal pernikahan mereka saat itu tinggal menghitung jam saja.
Olivia melanjutkan langkah kakinya, dia masuk lift untuk membawanya ke lantai atas dimana ruangannya berada. Sesampainya di devisi pemasaran, Olivia segera masuk ruangan menejer. Saat dia masuk, diatas meja sudah ada bunga mawar dan cokelat untuk Olivia.
Awalnya Olivia bingung siapa yang sudah memberi bunga dan cokelat itu. Dia mengira jika Adrian lah yang memberinya, namun ternyata di sana ada kartu ucapannya.
[ Selamat pagi istriku tercinta. Mulai harimu dan pekerjaanmu dengan fikiran yang positif. Full senyum sayang. I Love You.]
Ternyata bunga dan cokelat itu dari Miko. Olivia senang mendapatkan kejutan kecil seperti itu dari sang suami.
" Mas Miko, Hemm I love you too."Ucap Olivia sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Bunga itu Olivia letakkan di pojok meja kerjanya dan cokelat dia letakkan di laci meja. Dia akan memakannya nanti siang.
Tring
Tring
Baru juga Olivia memulai pekerjaannya tiba-tiba ponselnya bunyi. Ada pesan masuk di ponsel Olivia.
[ Hehhh... Olivia !! Awas saja kalau kamu menggoda suamiku. Jangan mentang-mentang aku sudah tidak bekerja di perusahaan itu kamu dengan seenaknya mau dekat-dekat suamiku. Jangan kegatelan kamu.]
[ Awas sampai aku dengar kamu mendekati suamiku, aku akan buat perhitungan.]
Ternyata pesan itu dari Jeni, pesan yang memperingatkan Olivia agar tidak mengganggu Adrian. Olivia hanya menggekengkan kepalanya, dan sedikitpun tidak berniat untuk membalas pesan aneh dari Jeni.
Ting
Belum sempat Olivia meletakkan ponselnya sudah ada lagi pesan masuk.
Pesan itu dari ibu Harti yang meminta uang untuk arisannya.
" Anak dan ibu sama saja, sepertinya mereka ini kompak kirim pesan barengan. Seenaknya saja minta uang 3 juta, apa dia fikir aku ini pencetak uang? Hemm.. Dulu memang setiap arisan aku yang kasih duit dan aku yang masak ini itu. Tapi itu dulu sebelum aku tahu busuknya mereka."Ucap Olivia pada dirinya sendiri.
Drreettt Dreeett Dreett
Pesan belum juga di balas, ibu Harti sudah menghubunginya langsung. Olivia mengabaikan nya, dia tidak mau mood nya pagi ini rusak karena Jeni dan Ibu Harti.
" Maaf bu, aku bukan Olivia yang dulu. Yang mudah kamu kendalikan dan yang selalu kamu suruh ini dan itu."Seru Olivia lagi.
Akhirnya dering ponsel Olivia berhenti sendiri. Mungkin ibu Harti sudah lelah berkali-kali menghubunginya.
*******
__ADS_1
Braakkkk
Ibu Harti memukul meja yang ada di hadapannya karena Olivia tidak membalas pesannya dan tidak mau mengangkat teleponnya. Jika Olivia tidak memberikan uang yang dia minta, Ibu Harti akan malu dengan teman-teman arisannya.
" Ada apa sih bu? Pagi-pagi sudah marah-marah?."Tanya pak Anwar yang baru saja selesai mencuci motornya.
" Ibu sedang kesal pak, itu si anak durh4k4 tidak mau membalas pesan ibu. Ibu telepon pun tidak mau angkat, mentang-mentang sudah kaya jadi sombong."Seru ibu Harti marah-marah tidak jelas.
" Olivia yang ibu maksud?." Tanya pak Anwar memperjelas.
" Iya, siapa lagi anak durh4k4 kalau bukan dia? Dia itukan sekarang sudah kaya raya, masa Ibu cumq meminta uang 3 juta saja tidak dia berikan. Ibu kirim pesan, Ibu telepon semua dia abaikan. Kalau begitu dulu Ibu tidak mau mengurus dia, biarkan saja dia dulu diurus Arman dan Rumi."Ucap Ibu Harti dengan kesal.
Lagi-lagi ibu Harti mengungkit masa lalu. Padahal dengan adanya Olivia bersama mereka, dulu kehidupan mereka sangat terbantu. Harta warisan peninggalan kedua orang tua Olivia bisa mereka nikmati, bisa untuk biaya hidup dan sekolah Jeni. Jika hanya mengandalkan gaji Pak Anwar tidaklah cukup. Gaji pak Anwar kecil, hanya cukup untuk bayar arisan ibu Harti dan untuk belanja ini itu juga tidak akan cukup.
" Hhuuh... Jangan minta uang Olivia lagi bu. Biarkan Olivia bahagia dengan suaminya, dulu kita sudah banyak memakan haknya Olivia."Seru pak Anwar pelan.
" Kalau tidak minta Olivia minta siapa? Memangnya bapak bisa memberikan apa yang ibu mau? Minggu ini arisan ibu yang narik pak, ibu malu kalau tidak ada hidangan yang mewah. Makanya bapak itu kerja yang benar agar bisa dapat uang banyak. Kerja cuma jadi ojek mana bisa dapat uang banyak, dari dulu bapak itu kere terus. Dasar pria miskin !!"Seru ibu Harti semakin tidak terkontrol lagi ucapannya. Tanpa dia menyadari jika ucapannya itu sudah menyakiti pak Anwar.
Plaakkk
Untuk pertama kalinya pak Anwar menampar ibu Harti. D4d4nya bergemuruh saat ibu Harti menghina dan mencacinya. Pak Anwar memang terlahir dari keluarga yang miskin, akan tetapi bukan mau pak Anwar untuk menjadi miskin juga. Pak Anwar sudah berusaha bekerja dengan baik dan pada akhirnya 5 tahun yang lalu dia PHK oleh pabrik tempatnya bekerja. Merasa beruntung sekali ada harta peninggalan orang tua Olivia, sehingga saat itu dia tidak pusing-pusing dengan kebutuhan istrinya dan Jeni yang membengkak.
" Kamu menamparku pak?."Seru ibu Harti dengan tangan kanannya memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas.
" Maaf..Maaf bu. Bapak tidak bermaksud menampar ibu, bapak tadi reflek. Bapak tidak suka ibu menghina bapak seperti tadi, maafkan bapak."Ucap Pak Anwar seolah dia menyesal sudah menampar istrinya.
" Kurang4jar kamu pak !! Bapak sekarang sudah berani main tangan dengan ibu."Seru ibu Harti tetap saja marah.
Pak Anwar menyesal sudah menampar istrinya, seumur dia menikah dengan ibu Harti, seingat dia baru kali ini saja dia menampar ibu Harti.
**************
__ADS_1