
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Ibu Harti sudah memberitahu anak kesayangannya jika rumah yang saat ini mereka tempati sudah di sita oleh Bank. Pupus sudah harapan Jeni ingin mengusai rumah itu, semuanya sudah sia-sia karena Bank sudah bertindak.
Sore saat pekerjaannya dikantor sudah selesai, Jeni dan Adrian pulang bersama mengendarai motor Adrian. Mereka langsung pulang ke rumah kontrakannya.
" Mas, sekarang rumah ibu sudah di sita bank."Ucap Jeni memberitahu Adrian.
" Hahh.. !! Kenapa di sita?."Tanya Adrian juga nampak kaget.
" Olivia tidak bisa membayar cicilan bank jadi mau tidak mau rumah yang jadi korbannya. Ayah dan ibu besok akan pindah dari sana, mau tinggal di kontrakan juga."Seru Jeni terlihat tidak bersemangat.
Haahhhhh
Masalah datang bertubi-tubi, mereka kehilangan calon anaknya. Rumah mertuanya di sita dan Adrian juga dibuat pusing dengan masalah pekerjaan kantor yang seakan tidak ada habisnya. Semua itu terjadi semenjak Olivia menikah dengan Miko, sehingga Adrian juga beranggapan pernikahan Olivia membawa si4l.
" Mas, kenapa diam saja?."Seru Jeni sambil menggoyangkan tubuh Adrian.
" Kamu merasa tidak sih Jen, kalau masalah itu terus berdatangan semenjak Olivia menikah dengan pria kere itu."Ucap Adrian mengutarakan pendapatnya.
" Bukannya aku sudah bilang jika pernikahan mereka itu pembawa sial. Apalagi pria miskin itu juga hanya menumpang hidup, dia itu pria kere dan miskin pasti nanti hidup Olivia juga akan semakin susah dan blangsak."Ucap Jeni terus-terusan menghakimi hidup Olivia.
Tok
Tok
__ADS_1
Saat mereka sedang serius membicarakan soal Olivia dan suaminya. Tiba-tiba pintu kontrakan diketuk, Jeni bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar dari kamar. Lalu dia mengintip dari balik gorden jendelanya. Ternyata didepan pintu sudah ada ibu Juleha sang mertuanya.
Ceklekk
Pintu terbuka dan Jeni pura-pura tersenyum manis menyambut kedatangan ibu mertuanya.
" Lama amat buka pintunya, Jen?."Seru ibu Juleha terlihat kesal.
" Iya maaf bu, Jeni dan mas Adrian baru pulang kerja jadi tadi kami rebahan dikamar. Capek banget bu, tumben ibu datang kesini? Ada apa bu?." Tanya Jeni penuh selidik.
Ibu mertuanya itu setiap datang pasti selalu berurusan dengan uang. Pasti kali inipun tetap uang yang membawanya sampai rumah kontrakannya.
" Mau jengukin kamu, maaf ya saat kamu di rawat ibu tidak bisa jengukin kamu. Soalnya ibu juga kurang enak badan, oh iya apa kamu sudah baik-baik saja dan tidak bersedih lagi kan? Kamu itu masih muda, masih bisa hamil lagi. Lebih baik kamu tunda saja dulu punya anakkya, menabung dulu agar bisa cepat punya rumah. Ehh.. Tapi bukannya kamu nanti dapat warisan rumah dari orang tua kamu kan? Kenapa juga kalian malah tinggal di kontrakan begini?."Tanya ibu Juleha secara beruntun sampai bingung Jeni mau menjawabnya.
" Masuk saja dulu bu."Seru Jeni dengan wajah yang mulai kesal dengan ibu mertuanya.
Mendengar suara ibunya, Adrian pun keluar dari kamar dan menemui sang Ibu. Tidak lupa Andrian menyalami Ibunya dan mencium tangannya lebih dulu. Berbeda dengan Jeni, dia tidak menualami Ibu mertuanya sama sekali padahal dia yang membukakan pintu dan menyambut kedatangan Ibu mertuanya tadi.
" Kabar baik bu."Jawab Adrian singkat.
" Tumben ibu datang kesini tanpa memberitahu Adrian atau Jeni lebih dulu?."Tanya Adrian sama dengan yang ditanyakan Jeni tadi.
" Masa iya mengunjungi anak sendiri harus bilang-bilang dulu. Oh iya Jen, ibu minta minum dong. Yang segar-segar gitu, ibu haus banget nih."Ucap Ibu Juleha sambil mengusap lehernya.
Hhuuuhhhh
Jeni mendengus dalam hatinya, dia kesal karena kedatangan ibu mertuanya mengganggu waktu istirahatnya. Dengan terpaksa Jeni mengambilkan minum untuk ibu mertuanya, tapi hanya air putih biasa sebab di kontrakannya tidak ada kulkas.
" Rumah kontrakan kamu ini sempit banget Adrian, mana cuma satu kamar juga. Kalau ada kamar lain kan enak kalau ibu mau menginap, kalau seperti ini bagaimana mau nenginap. Ada bagusnya juga kemarin Jeni keguguran, jadi kalian bisa nabung dulu untuk beli rumah. Tapi kalau kalian nanti beli rumah, bagaimana dengan rumah mertua mu? Masa iya mau dikuasai oleh Olivia itu?." Pertanyaan ibu Juleha berhasil membuat Adrian bingung.
Untuk apa juga ibunya membahas soal rumah, lagian itu juga bukan rumah mereka. Lebih tepatnya rumah yang memang menjadi hak mutlaknya Olivia. Jeni keluar dengan membawa segelas air putih dan meletakkan diatas meja tepat depan ibu mertuanya.
__ADS_1
Mata ibu Juleha membulat sempurna saat tahu jika Jeni hanya menghidangkan air putih biasa saja. Bukan minuman dingin atau yang segar-segar seperti permintaannya tadi.
" Jangan ptotes bu, disini tidak ada kulkas jadi hanya ini yang bisa Jeni hidangkan."Seru Jeni yang tahu jika ibu mertuanya akan memprotesnya.
" Ya sudah, kalau memang tidak ada mau bagaimana lagi."Ucap ibu Juleha.
Jeni ikut duduk di samping Adrian, ibu Juleha meminum air putih yang tadi di suguhkan oleh Jeni. Air itu ibu Juleha minum sampai tandas, sepertinya ibu Juleha memang sangat haus sekali.
" Emm.. Ibu kesini mau bicara soal gaji kamu sebagai menejer. Memangnya gaji menejer itu berapa, pasti besarkan? Kalau begitu ibu minta jatah bulanan ibu ditambah dua kali lipat. Ibu banyak kebutuhan, ibu juga rencananya mau buka warung. Ibu pernahloh menemui Olivia dan meminjam uang modal sama dia, tapi dia tidak mau memberikannya."Ucap ibu Juleha bicara dengan jujur.
Hahhhh
Apa? Ibu pernah menemui Olivia hanya untuk meminjam uang? Tentu saja Adrian kaget dengan pengakuan ibunya barusan. Bagaimana bisa sang ibu mau meminjam uang Olivia, sudah pasti Olivia tidak akan meminjamkannya.
" Ibu pinjam uang Olivia sudah pasti tidak dikasih. Uang darimana dia bu? Olivia saja banyak hutang sampai akhirnya rumah disita oleh pihak bank. Uang dapat hutang untuk beli mobil tuh sama si Olivia."Ucap Jeni sambil melengos.
" Jadi rumah orang tuamu disita bank? Tidak bisa begitu dong Jen, kamu juga punya hak atas rumah itu. Mau tidak mau Olivia harus mengganti bagian kamu, enak saja dia yang punya hutang dan rumah yang disita. Kamu minta bagian kamu, rumah orang tua kamu itu besar loh. Kalah 300 - 400 juta sepertinya laku mana tanahnya juga luas. Kamu minta saja bagian 200 juta sama Olivia."Ucap Ibu Juleha.
Adrian dan Jeni nampak menganggukkan kepalanya, sepertinya mereka setuju dengan yang dikatakan oleh ibu Juleha. Tidak ada salahnya meminta bagiannya berupa uang secara langsung kepada Olivia. Anggap saja bagian Olivia sudah habis untuk bayar hutang.
" Wahh kenapa Jeni tidak kefikiran begitu ya bu? Sepertinya nanti malam aku harus menemui Olivia sebelum dia pindah ikut suaminya."Seru Jeni dengan senyum penuh kemenangan.
" Olivia sudah menikah?."Tanya ibu Juleha kaget.
" Sudah bu, sekitar seminggu yang lalu. Tepat saat Jeni masuk rumah sakit itu."Jawab Adrian.
Pernikahan Olivia memang banyak orang yang tidak tahu. Bahkan pihak tetangga saja banyak tahu dari istrinya pak Rt yang memang datang menyaksikan pernikahan Olivia dan Miko.
" Suami Olivia itu norak bu, dia kampungan sekali. Mana miskin, sangat jauh beda sama mas Adrian. Pokoknya suami Olivia itu cocok banget deh sama Olivia. Hahaaa."Seru Jeni lalu dia tertawa lebar.
Adrian hanya melirik sekilas ke arah Jeni, dia tidak suka jika Jeni menjelekkan Olivia. Ada cinta yang kembali tumbuh untuk Olivia sehingga Adrian masih berharap Olivia bisa kembali bersamanya lagi.
__ADS_1
***********