
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Miko tidak mungkin ikut Olivia nonton dengan kedua temannya, apalagi penampilan dia kali ini mode penyamaran. Tapi jika dia tidak ikut juga dia tidak bisa berlama-lama dengan Olivia, padahal ingin seharian bersama Olivia. Berangkat bareng pulangpun harus bareng lagi.
" Tapi penampilanku seperti ini?." Seru Miko sambil menunjuk dirinya sendiri.
" Tidak masalah, justru begitu lebih baik. Jadi Rita dan Maya tidak akan tahu kalau kamu itu boss nya. Kalau mereka tahu kamu itu pak Miko, pasti mereka yang akan sungkan dan bisa-bisa tidak jadi nonton."Ucap Olivia tidak mempermasalahkan penampilan Miko.
Miko mencoba cari ide agar Olivia tidak jadi nonton dengan kedua temannya. Dia mau hanya nonton berdua saja, jika Maya dan Rita ikut yang ada justru Miko yang akan dijadikan obat nyamuk mereka. Hanya akan menjadi pendengar setia saja tanpa bisa ikut berbicara.
* Sepertinya aku ada ide agar kedua teman Olivia tidak jadi nonton. Hemm.. Maafkan aku ya Olivia, nanti libur kedua teman mu itu bisa diganti dilain hari saja.*Gumam Miko dalam hatinya.
Miko mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimkan ke menejer Resto. Setelah pesan itu terkirim, Miko memasukkan ponsel dalam kantong celananya.
" Boleh deh aku ikut. Aku juga ingin refreshing, bosan ngurusin pekerjaan terus menerus. Bisa-bisa aku nanti tua mendadak kalau pekerjaan terus yang aku urusin."Jawab Miko dengan santainya.
Baru juga Miko selesai bicara tiba-tiba ponsel Olivia bergetar, ada pesan masuk secara beruntun. Olivia membuka dan membaca pesan itu satu persatu.
[ Maaf ya Olivia sayang, sepertinya kita gagal nonton. Baru saja pak menejer telepon kalau Aku diminta untuk lembur, ada orang yang boking Resto untuk acara ulang tahun dan Resto kekurangan pelayan.] Satu pesan dari Rita.
__ADS_1
Olivia pun membuka pesan dari Maya dan ternyata isinya sama saja dengan yang di kirim oleh Rita. Intinya Maya juga tidak bisa ikut menonton karena dia harus ke Resto.
" Kenapa?." Tanya Miko pura-pura tidak tahu.
" Maya sama Rita tidak jadi nonton, mereka harus ke Resto karena Resto ada yang boking dan kekurangan karyawan. Biasa sih setiap hari libur memang biasanya Resto ramai, kamu kan pemilik Restonya masa kamu tidak tahu kalau hari ini ada yang boking Resto."Seru Olivia menatap aneh Miko.
" Mana aku tahu, aku memang pemiliknya eh bukan aku juga sih tapi kak Imelda. Tapi aku juga tidak setiap hari ke Resto dan apa saja acara di Resto aku tidak tahu. Ada pak Faisal yang sudah menanganinya, dia kan menejer Restonya."Jawab Miko ada benarnya juga. Pemilik Resto tidak selamanya harus tahu apa saja acara yang ada di Resto.
" Benar juga sih. Ya sudah, kalau begitu nanti kita nonton berdua saja ya."Seru Olivia tetap mau nonton meskipun berdua dengan Miko.
Miko mengangguk dengan cepat karena memang itu yang dia mau. Film baru akan mulai jam 1 siang nanti, saat ini baru jam 11 menjelang siang. Miko dan Olivia menghabiskan waktunya di kedai boba dulu sembari membantu melayani pembeli. Meskipun kaku, Miko tetap berusaha untuk membantu Olivia.
* Aku tidak salah pilih, Olivia adalah pilihan yang tepat. Selain cantik, ternyata dia juga mandiri dan tidak mudah putus asa. Aku berjanji akan selalu membahagiakan Olivia dan kelak menjadikannya Ratu dalam rumah ku.*Gumam Miko dengan mata terus memandangi Olivia yang sangat cekatan membuat minuman pesanan pembeli.
Sementara itu saat ini di rumah ibu Harti, Jeni menceritakan kepada Adrian jika sekarang Olivia sudah mempunyai pacar baru. Tentunya hal itu membuat Adrian tidak terima, meskipun dia sudah menikah dengan Jeni rasa cintanya untuk Olivia masih ada. Didepan Jeni, Adrian berusaha menutupi keterkejutan dan ketidaksukaannya.
" Aku tidak tahu, tapi yang jelas pacar Olivia itu sangat kampungan sekali. Rambut belah tengah klimis, pakai kacamata besar dan wajahnya juga lumayan dekil. Meskipun aku tidak melihat dari dekat, tapi kelihatan benar kampungannya."Ucap Jeni secara terang-terangan menghina pacar Olivia didepan Miko.
* Aku tidak yakin dalam waktu kurang lebih satu bulan Olivia sudah bisa mencari penggantiku. Pasti pria itu hanya dijadikan pelarian saja, setahu ku Olivia itu sangat mencintaiku. Aku jadi penasaran seperti apa wajah pacar Olivia itu. Tapi aku tidak suka jika Olivia dekat dengan pria lain.* Gumam Adrian dalam hatinya.
Jeni terus tertawa sambil menceritakan pacar Olivia yang menurutnya sangat kampungan itu. Motor yang dikendarai pun motor yang sudah jelek, keluaran sekitar 5 atau 8 tahun yang lalu. Melihat Jeni terus menjelekkan Olivia dan pacarnya membuat Adrian kesal. Jika hanya pacar Olivia saja Adrian tidak akan kesal, tapi jangan bawa-bawa Olivia terus.
" Sepertinya kamu senang banget Jen?." Tanya Adrian.
" Senang dong sayang, ternyata aku bisa mengalahkan Olivia. Aku bisa mendapatkan suami setampan kamu dan pegawai kantoran, sedangkan Olivia ? Pacarnya saja tidak jelas begitu bentuknya."Seru Jeni dengan bangganya.
__ADS_1
Adrian ikut tersenyum bangga dengan pujian yang diberikan oleh Jeni. Dengan begitu dia memang lebih baik segalanya jika dibandingkan dengan pacarnya Olivia. Adrian semakin percaya diri untuk mulai mendekati Olivia, tentunya tanpa diketahui oleh Jeni.
" Ehhh sayang, sudah baca group kantor belum?."'Tanya Jeni mengganti topik pembicaraannya.
" Belum, memangnya ada apa?."Tanya Adrian yang memang belum memegang ponsel sama sekali dari bangun tidur tadi.
" Katanya mau ada beberapa karyawan yang mau naik jabatan, dan posisi tertinggi sebagai menejer keuangan menggantikan ibu Aulia yang risign beberapa hari yang lalu. Semoga saja kita berdua bisa ikut di rekomendasikan naik jabatan, siapa tahu bisa jadi menejernya."Ucap Jeni penuh harap.
Arya pun segera mengambil ponselnya yang dia simpan di atas nakas samping tempat tidurnya. Lalu membuka group kantor, dan ternyata benar jika akan ada beberapa karyawan yang naik jabatan. Dan besok akan di umumkan nama-nama yang akan naik jabatan, dan salah satunya menjadi menejer keuangan yang tentunya siapapun pasti mau untuk menduduki posisi itu.
" Jika aku jadi menejer, aku akan membelikan mobil baru untuk kamu Jen."Seru Adrian sudah menghayal tinggi-tinggi.
" Itu harus dong mas, masa iya menejer ke kantor mau naik motor terus. Tapi bukannya menejer nanti dapat fasilitas mobil dari kantor mas? Kamu minta mobil yang paling bagus saja mas, jadi bisa kita pamerkan kepada Olivia dan para tetangga. Kalau langsung beli memangnya mas sudah ada uangnya?." Tanya Jeni penuh selidik.
" Tidak ada, tapi boleh juga tuh ide kamu. Mas bisa minta fasilitas mobil yang paling bagus."Jawab Adrian.
Belum apa-apa mereka sudah menghayalkan membeli mobil. Belum tentu juga salah satu di antara mereka berdua yang akan menjadi menejer. Adrian dan Jeni sangat berharap jika mereka menjadi kandidat yang akan naik jabatan.
Berharap sih boleh saja, tapi harus ingat semua ketentuan itu ada ditangan pemilik perusahaan.
Ditempat lain, saat ini Olivia dan Miko sudah didalam bioskop. Minuman dan popcron sudah ada di tangan mereka, mereka berdua memilih film dengan Gendre komedi. Olivia terlihat bahagia dan dia pun sedari tadi tertawa.
Miko memandangi wajah Olivia tiada henti, dia ikut bahagia melihat tawa dan senyum bahagia Olivia. Miko harus lebih sabar lagi menghadapi Olivia, saat ini Olivia memang belum mencintainya. Tapi Miko tidak masalah, dia akan berjuang agar Olivia bisa mencintainya dan menerima nya dengan cinta yang sesungguhnya.
" I love you Olivia." Ucap Miko pelan.
__ADS_1
***********