
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Tiga hari berlalu
Siang ini Jeni sudah pulang, dia hanya pulang dengan ibu Harti saja, sebab Adrian harus bekerja. Ibu Harti membawa Jeni kerumahnya, lebih tepatnya rumah Olivia yang saat ini dia tempati, hari ini juga Olivia masih tinggal di rumahnya. Saat Jeni dan ibu Harti sampai rumah, Olivia tidak mengizinkan Jeni untuk masuk. Dia langsung menghadang di depan pintu, sehingga ke tiga wanita itu saling adu mulut.
" Jangan masuk kerumah ku !! Aku tidak mau rumahku ditempati wanita tidak punya etika sepertimu."Seru Olivia langsung menghadang Jeni di depan pintu, melarangnya untuk masuk.
" Olivia ! Kamu ini apa-apaan sih ? Jeni ini baru keluar dari rumah sakit, sudah cari masalah saja kamu. Apa kamu ini tidak kasihan dengan Jeni, dia baru kehilangan calon anaknya. Dasar anak durh4k4, tidak punya hati kamu !."Bentak ibu Harti memarahi Olivia sesuka hatinya.
Siang ini tidak ada Miko, sebab Miko pagi tadi sudah mulai masuk kerja. Sehingga dia tidak tahu keributan yang terjadi di rumah istrinya. Olivia tetap tidak akan pernah mengizinkan Jeni dan Adrian tinggal di rumahnya.
" Apa ibu lupa jika ini itu rumahku, jadi aku berhak dong menentukan siapa saja yang bisa datang dan tinggal di rumahku. Aku pun berhak loh mengusir Ayah dan Ibu dari sini, Ayah juga tidak masalah jika tidak tinggal disini lagi."Ucap Olivia bicara dengan sedikit menyombongkan dirinya.
Jeni terlihat mengepalkan tangannya dan wajahnya memerah menahan amarahnya. Menurutnya Olivia semakin hari, semakin keterlaluan dan seenaknya saja. Dia merasa juga punya hak atas rumah itu, sebab sudah dari krcil dia tinggal dirumah itu juga.
" Cuma rumah seperti ini saja bangga, aku dan suamiku bisa membeli rumah yang lebih bagus dari ini. Apa kamu lupa jika saat ini suamiku itu seorang menejer? Dia punya gaji yang besar, hanya dengan menjentikkan jari rumah sudah bisa kami beli. Jangan sombong kamu , Olivia. Aku masuk rumah sakit dan kehilangan calon anakku itu juga karena kamu, pernikahanmu itu pembawa si4l!."Seru Jeni dengan menunjuk tepat didepan wajah Olivia.
Akhirnya kata-kata yang sedari tadi Olivia tunggu-tunggu keluar juga dari mulut Jeni. Atas dasar apa Jeni mengatakan pernikahannya pembawa si4l. Olivia menganggap Jeni sudah tidak waras lagi, sifat iri dengki Jeni sudah menguasai dirinya.
" Atas dasar apa kamu bisa menuduh aku penyebab kamu kehilangan calon anakmu?." Tanya Olivia penuh tanda tanya.
" Karena aku mau ke pernikahanmu makanya aku sampai jatuh di kamar mandi. Itu semua karena kamu!!."Seru Jeni.
__ADS_1
Hahaaa Haaahaaaa
Olivia tertawa dengan lebar, pemikiran darimana itu bisa menyalahkan Olivia. Padahal Olivia saja tidak ada di tempat kejadian, bisa-bisanya Jeni menyalahkan Olivia. Sepertinya Jeni sudah tidak waras lagi, harus segera di periksakan ke rumah sakit kejiwaan.
" Kenapa tadi kamu langasung pulang? Seharunya kamu itu langsung ke rumah sakit jiwa untuk memeriksakan kejiwaan kamu."Seru Olivia lalu tertawa lagi.
Jeni mengangkat tangannya dan hendak menampar Olivia. Dengan cepat Olivia menangkap tangan Jeni dan menghempaskannya dengan kasar. Melihat anaknya di sakiti ibu Harti tidak tinggal diam, dia juga berusaha untuk memukul Olivia tapi tetap berhasil Olivia gagalkan.
" Kamu semakin kurangajar Olivia ! ."Seru ibu Harti dengan lantang.
" Pergi kamu dari rumahku. Cepat pergi sebelum aku menghajar kalian."Seru Olivia dengan berteriak.
" Ayok bu kita pergi dari sini. Aku juga tidak sudi tinggal seatap dengan wanita pembawa si4l ini. Kita ke kontrakanku saja bu."Seru Jeni akhirnya mau juga pergi dari rumah Olivia.
" Tapi kontrakan kamu itu sempit dan kamar juga cuma 1 Jeni? Bagaimana ibu tidurnya?." Tanya ibu Harti dengan wajah sedihnya.
Jeni baru ingat jika rumah kontrakannya memang hanya mempunyai kamar 1 saja. Jika ibunya ikut tinggal bersamanya akan tidur dimana? Tidur di ruang tamu pun tidak mungkin.
" Hemm.. Ibu ikut Jeni saja dulu dan nanti saat mas Adrian sudah pulang kerja ibu balik kerumah ini lagi. Lagi pula cuma Jeni dan mas Adrian saja kan yang tidak boleh tinggal disini."Seru Jeni.
" Iya sudah. Ibu mau meletakkan tas ibu dulu di kamar. Awas aku mau masuk, jangan menghalangi ku."Seru ibu Harti kasar.
Olivia mencebikkan bibirnya namun dia tetap menggeser tubuhnya, memberikan jalan untuk ibu Harti. Sebenarnya Olivia berniat menjual rumahnya, agar ibu Harti tidak semakin semena-mena di rumahnya. Olivia yakin saat Olivia sudah ikut dengan Miko, Jeni dan Adrian pasti akan sering datang kerumahnya.
* Memang lebih baik rumah ini aku jual saja, di rumah ini tidak ada kenangan yang indah. Yang ada justru nasib pilu, dan kisah sedih. Setuju tidak setuju mereka, aku akan menjual rumah ini. Tapi sayang, hanya rumah ini dan kebun sawit itu saja peninggalan kedua orang tua kandungku. Aku harus bagaimana?.*Gumam Olivia bicara dalam hatinya sendiri.
Ibu Harti sudah keluar dari kamar, tanpa permisi ibu Harti dan Jeni pergi menuju rumah kontrakan Jeni yang letaknya tidak terlalu jauh. Hanya butuh 10 menit saja berjalan kaki.
Setelah Ibu Harti dan Jeni pergi, Olivia masuk dan mengunci pintu rumahnya. Olivia mengambil ponsel di kamar dan segera menghubungi tante Rumi untuk meminta pendapatnya soal rumah peninggalan orang tuanya ini.
__ADS_1
[ Hallo Assalamualaikum tante, apa tante sibuk?] Sapa Olivia dengan sopan.
[ Waalaikumsalam. Tante lagi duduk-duduk saja kok Liv, ini sama paman mu juga. Ada apa , tumben telepon tante? Ada yang pentingnya?.] Tanya tante Rumi seakan tahu jika Olivia akan membicarakah hal penting.
[ Emm.. Begini tante, kira-kira kalau rumah Olivia ini dijual tante dan paman setuju atau tidak?.]
[ Itukan rumah kamu, Liv. Kamu berhak mau apakan rumah itu. Tapi kalau tante boleh tahu untuk apa kamu menjual rumah itu? Bukannya Anwar dan Harti masih tinggal dirumahmu, dan kamu juga tidak masalah jika mereka tinggal dirumahmu.]
Hhuufffftt...
Awalnya Olivia memang tidak keberatan jika pak Anwar dan Ibu Harti tinggal dirumahnya. Tapi setelah difikir-fikir, nanti pasti Jeni dan Adria akan ikut tinggal dirumahnya juga dan mereka semakin berkuasa. Sudah cukup kedua orang tua angkatnya menghabiskan harta peninggalan orang tua kandungnya, Olivia tidak mau sampai rumahnya juga dikuasai mereka.
[ Tapi Olivia tidak yakin setelah Olivia pindah dari sini, Jeni dan Adrian tidak pindah kesini juga. Mereka pasti balik lagi tante, tapi Olivia juga sayang kalau rumah ini dijual. Karena ini rumah peninggalan mama papa Olivia.]
[ Itu soal mudah, nanti paman yang atur. Kamu terima jadi saja.]
Paman Arman ikut berkomentar, sepertinya tante Rumi memang menghidupkan pengeras suara di ponselnya. Jika paman Arman sudah bertindak semuanya pasti akan mudah dan teratasi dengan baik.
[ Baik paman, terima kasih atas bantuannya. Maaf sudah merepotkan.]
[ Kamu itu sudah paman anggap anak paman sendiri, kalau ada apa-apa jangan sungkan bicara sama paman dan tantemu. Nanti paman akan suruh orang datang ke rumah mu, pura-pura orang bank yang mau menyita rumahmu. Kamu bilang sama mereka kalau rumah itu kamu gadaikan kan?]
[ Iya paman.]
[ Nah alasan yang tepat.]
Paman Arman orang yang serba bisa, apapun keluhan Olivia jika dibicarakan dengan paman Arman semuanya akan terselesaikan dengan baik.
********
__ADS_1