Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Menjadi ibu rumah tangga


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


Pagi hari


Adrian sedang mandi dan saat ini Jeni sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Adrian. Bukan sayuran ataupun nasi goreng yang dia siapkan, Jeni hanya menyiapkan segelas teh hangat dan roti selai cokelat saja. Karena memang belum ada bahan makanan, roti itupun yang Adrian beli di minimarket semalam.


" Masa iya sih aku harus begini terus? Menyiapkan sarapan, beres-beres, memasak, mencuci dan sebagainya. Lama-lama kulit cantikku juga bisa keriput."Seru Jeni belum apa-apa sudah mengeluh duluan.


Padahal sehari saja belum dia jalani menjadi peran seorang istri dan ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Jika ditanya soal cinta, Jeni memang mencintai Adrian dan dia takut Adrian meninggalkannya. Tapi dia belum siap jika harus menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.


" Kamu kenapa?."Seru Adrian mengagetkan Jeni yang bengong.


" Ehh... Tidak ada apa-apa."Seru Jeni nampak gugup.


Adrian pun duduk lalu menikmati teh dan roti yang sudah di siapkan Jeni. Teh yang disiapkan Jeni rasanya terlalu manis, namun Adrian tetap meminumnya meskipun tidak dia habiskan.


" Besok kalau buat teh gulanya 1 sendok saja."Seru Adrian sebelum dia memasukkan roti kemulutnya.


" Iya, itu tadi 3 sendok. Aku kira kalau kurang, malah kelebihan ya."Seru Jeni sambil menggaruk kepalanya.


" Ini bukan teh manis, tapi teh biang gula. Oh iya ini uang jatah bulanan kamu dan ini uang belanja hari ini. Untuk uang belanja akan saya kasih setiap hari saja agar kamu tidak semakin boros."Seru Adrian sambil menikmati roti buatan Jeni.


Mata Jeni terbelalak lebar saat mendapati Adrian hanya memberinya uang bulanan untuknya 1 juta dan uang belanja harian 50 ribu. Jeni benar-benar syok dengan uang yang di berikan oleh Adrian.

__ADS_1


" Kamu tidak salah ? Uang bulanan ku 1 juta itu dapat apa, Adrian? Buat kesalon saja langsung habis, kamu tahukan kalau aku sudah 2 bulan ini tidak bekerja. Pasti uang di tabunganku juga menipis dan ini 50 ribu dapat makanan apa?."Seru Jeni memprotes Adrian.


" Cukup. Sangat cukup, uang 50 ribu itu hanya untuk makan kita berdua saja. Lagi pula siang aku tidak makan di rumah kan? Aku makan malam saja, sama pagi. Pagi juga tidak selalu makan makanan berat. Itu hanya untuk sayuran dan beli lauk nya saja pasti cukup. Beras, minyak sudah ada itu di dapur. Sudah jangan banyak protes."Seru Adrian lalu menyudahi sarapannya.


" Tapi ini jatah bulanan ku 1 juta tidak akan cukup Adrian."Seru Jeni dengan kesal.


" Tidak perlu ke salon."Jawab Adrian dengan santainya.


Adrian pun berangkat ke kantor dengan membiarkan Jeni yang menggerutu. Adrian tidak mau, Jeni membelanjakan uang sesuka hati. Apalagi Jeni memang boros dari dulu, jika Adrian mempercayakan semua gajinya kepada Jeni yang ada Adrian tidak akan pernah punya uang untuk di tabung.


" Menyebal kan !!! Adrian pelit !!!."Teriak Jeni dengan lantang.


Jeni benar-benar tidak habis fikir dengan uang yang diberikan Adrian. Mau sampai mana uang 1 juta untuk memenuhi kebutuhan bulanannya. Untuk skincare nya saja harganya sudah 850 ribu dan itu hanya cukup untuk 1 bulan itupun di irit-irit. Hanya sisa 150 ribu saja, Jeni ingin menangis tapi tidak bisa.


" Mau masak apa dengan uang 50 ribu ini. Gas,minyak, beras sudah ada kira-kira masak apa ya."Ucap Jeni pada dirinya sendiri.


Sekitar jam setengah 8, tukang sayur pun lewat. Hari ini sepertinya akan menjadi hari pertama kali Jeni belanja sayuran di penjual gerobak keliling.


" Iya lagi pengen masak. Bosan beli makanan online terus."Jawab Jeni dengan gaya angkuhnya.


" Ohh.. Bosan atau memang suami sudah melarang beli makanan online karena pemborosan. Ingat mbak, kalau jadi istri itu harus bisa mengurus suami dengan baik. Sebelum mengenyangkan bawah perutnya, kenyangkan dulu perutnya, jadi sama-sama dikenyankan gitu biar imbang. Agar suami tidak main lirik-lirik wanita lain."Ucap ibu yang bertubuh kurus tinggi sambil terkekeh.


* Duhh.. Si4l4n ini ibu kutilang ini. Maksud dia bicara seperti itu apa coba? Ini yang paling malas berbaur sama ibu-ibu kampung, kata-katanya tidak berbobot sama sekali.*Gumam Jeni dalam hatinya.


Jeni nampak tidak menghiraukan ucapan ibu-ibu tadi. Tangannya sibuk memilih sayuran yang akan dia beli. Jeni mengambil 1 bungkus sayur sop, 1 papan tempe, 1 bungkus bawang dan 1 bungkus bahan untuk sambal. Tidak lupa dia juga mengambil ayam 1 bungkus.


" Masak sop mbak?."Tanya abang penjual sayuran.


" Iya, cepat hitung punya saya berapa ini."Seru Jeni dengan sombong.

__ADS_1


" Semua totalnya 45 ribu mbak, genapin 50 kasih bumbu sop saja ya."Seru abang penjual sayur.


" Ya sudah, ini uang nya."Ucap Jeni masih dengan gaya bicara nya yang sombong.


Setelah membayar dan dirasa belanjaannya sudah semua, Jeni pun pulang tanpa mencoba berbasa-basi dengan menyapa para ibu-ibu yang lainnya lebih dulu. Dia merasa jika tidak level berbaur dengan para ibu-ibu kampung.


" Sombong amat sih itu si Jeni , padahal dapat nikah sama Adrian juga dari hasil merebut dari Olivia."Seru ibu yang berbadan kurus tadi.


" Biarkan saja bu, lagi pula wanita sombong seperti dia itu pasti tidak akan punya teman. Jalau nanti ada apa-apa sama dia tinggal kita diam saja bu, pura-pura saja kita tidak tahu. Lagian dia sama tetangga saja sombongnya minta ampun."Ucap ibu-ibu yang lain.


" Sudah jangan bergosip terus dong bu, cepat kalau mau pada belanja. slSaya juga lagi mau keliling lagi nih ibu-ibu. Kalau menunggu ibu-ibu bergosip nanti saya kelilingnya juga kesiangan. Tidak dapat uang dong saya."Seru abang tukamg sayur menghentikan ibu - ibu yang bergosip.


Huuuffftttt


Sesampainya di rumah, Jeni langsung membuang nafas dengan kasar dan meletakkan secara sembarang sayurannya tadi. Dia tidak sanggup jika setiap hari berutinitas seperti itu, belum genap sehari saja dia sudah banyak mengeluh.


" Bahan-bahan makanan ini nanti bagaimana cara memasaknya? Aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara memasak, yang aku bisa cuman memasak air saja."Ucap Jeni dengan wajah kebingungan.


" Hemmm..aku ada ide. Kenapa tidak ibu saja yang aku suruh kesini untuk membantuku memasak."Seru Jeni dengan senang.


Akhirnya Jeni pun akan meminta tolong ibunya untuk memasak. Jeni mencoba menghubungi nomor ibu Harti, namun sampai tiga kali panggilan, ibu Harti tidak menjawab teleponnya juga.


" Kemana juga sih ibu ini."Seru Jeni kesal.


Lalu Jeni melihat status yang baru di buat ibunya 10 menit yang lalu. Ibunya nampak sedang bersama teman-temannya.


" Huuhh.. Sepertinya ibu tidak ada di rumah. Masa belum juga jam 9 pagi ibu sudah pergi, ayah memang selalu menurut apa kata ibu. Makanya ibu bisa pergi kemana saja tanpa ayah marah."Ucap Jeni sambil garuk-garuk kepalanya.


Kalau sudah seperti itu, mau tidak mau nanti dia akan memasak sendiri. Saat ini pakaian kotor sudah menantinya, ternyata pakaian Adrian banyak yang kotor dan dia harus mencucinya dengan tangan. Di kontrakannya belum ada mesin cuci. Sebelum mereka ribut, Adrian baru membelikan kulkas saja. Menurutnya lebih penting kulkas daripada mesin cuci.

__ADS_1


*********


__ADS_2