
.
.
.
💐💐 HAPPY READING 💐💐
Miko dan Olivia baru saja selesai dengan olah raga malamnya. Ternyata diam-diam Miko garang juga saat di ranjang, sampai Olivia benar-benar lelah dibuatnya. Olivia mandi lebih dulu, setelah selesai mandi dia membereskan kasur yang berantakan akibat pergumulan mereka sembari menunggu Miko yang sedang mandi.
Ceklekk...
Pintu kamar mandi terbuka, Miko keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dia lilitkan di pinggangnya. Melihat itu semua wajah Olivia langsung memerah dan dengan cepat dia memalingkan wajahnya.
Melihat istrinya yang malu-malu membuat Miko tersenyum jahil. Dia sengaja mendekati Olivia yanh nampak malu-malu.
" Kenapa malu? Bukannya kamu sudah melihat apa yang ada pada tubuhku ini sayang?."Ucap Miko dengan jahilnya.
" Emm.. Itu... Itu mas cepat pakai baju dulu. Ini sudah malam nanti masuk angin loh."Seru Olivia terbata-bata.
" Kalau mas tidak mau ganti baju bagaimana?."Tanya Miko sambil terus berjalan mendekati Olivia.
" Mas, emm... Jangan melihatku seperti itu dong."Seru Olivia semakin malu karena Miko memandangnya secara intens.
Miko memang sengaja menggoda Olivia, Miko melepaskan handuk yang melilit pinggangnya secara tiba-tiba dan itu berhasil membuat Olivia menjerit.
" Aaaaaaggggghh...."
Olivia menjerit secara sepontan lalu mendorong tubuh Miko, tubuh Miko jatuh di atas kasur sedangkan Olivia keluar kamar dengan berlari terbirit-birit. Olivia tidak sanggup melihat senjata yang sedang tertidur, jika dia tetap saja dikamar sudah pasti senjata itu akan bangun.
Hahaahahahaaa
__ADS_1
Miko tertawa pu4s dan terbahak-bahak, dia sangat pu4s bisa menggoda istrinya sampai ketakutan seperti itu. Memang tujuan Miko ingin menggoda istrinya saja.
" Aneh, padahal sudah beberapa kali saja dia melihat dan memegang senjata ku tapi kenapa dia berteriak ketakutan begitu. Lagian dia juga sudah sering menikmatinya, sampai m3ndes4h manja. Huuhh.. Dasar istri pemalu ku."Ucap Miko sambil terkekeh.
Sementara itu di ruang tengah Olivia sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena dia berlari menuruni anak tangga. Olivia hanya tidak mau sampai Miko memintanya lagi, padahal dia juga baru selesai mandi.
" Huuhh... Beruntung aku bisa kabur, kalau sampai tadi aku tidak kabur, pasti saat ini sudah diajak tempur lagi. Lagian aku juga tadi malu melihat Suamiku tanpa busana seperti itu. Aku sendiri heran kenapa aku bisa malu seperti itu ya? Padahal aku juga sudah sering melihatnya." Ucap Olivia bicara pada dirinya sendiri.
Olivia pergi ke dapur untuk membuat cokelat panas dan roti bakar untuk teman malamnya. Olivia membuat dua porsi, untuk sang suaminya juga.
" Sayang, kamu lagi ngapain? Apa mau makan malam lagi?."Tanya Miko menghampiri Olivia yang sedang mengaduk cokelat panas.
Miko memeluk Olivia dari belakang, membuat Olivia salah tingkah dan grogi. Saat ini jantungnya berdetak tidak menentu, dia benar-benar malu sampai wajahnya bersemu merah seperti kepiting rebus.
" Mas, ini aku bikin cokelat panas sama roti bakar. Mas tunggu saja di ruang tengah nanti aku yang akan bawa semuanya kesana."Ucap Olivia meminta Miko menunggu di ruang tengah. Dengan begitu Miko akan melepaskan pelukannya.
" Biar mas yang bawa minumannya, kamu bawa roti bakarnya saja."Ucap Miko sambil mencubit mesra pipi Olivia yang memerah.
" Iya mas, terima kasih sudah mau membantuku."Seru Olivia tersenyum manis.
" Sayang, besok ada bik Surti yang akan bekerja. Mulai besok kamu tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. Cukup kamu mengerjaiku di atas kasur saja."Ucap Miko senang sekali dia menggoda istrinya.
" Mas, apaan sih ? Emm.. Meskipun dirumah ada ART aku tetap akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri mas, aku akan tetap memasak makanan untukmu. Nanti bik Surti bisa mengerjakan pekerjaan yang lain."Ucap Olivia tidak setuju jika semua tugasnya di kerjakan oleh ART.
" Hemmm... Tidak masalah. Yang penting kamu jangan terlalu capek, nanti tidak bisa bertempur."Jawaban Miko semakin tidak bisa di kondisikan.
Olivia geram dan kesal karena Miko terus saja menggodanya. Tanpa Miko ketahui, gerakan tangan Olivia dengan cepat mencubit paha Miko sampai Miko mengaduh kesakitan.
" Aduh, aduh sakit sayang."Seru Miko pura-pura kesakitan padahal cubitan Olivia sama sekali tidak sakit.
" Salah siapa kamu terus saja menggodaku, awas saja kalau masih saja seperti itu aku akan potong itu senjatamu."Ucap Olivia mengancam.
__ADS_1
Gleeekkkk
Miko menelan salivanya sendiri, dia tidak bisa membayangkan seandainya senj4t4 nya benar-benar di potong Olivia. Dia tidak akan bisa lagi menikmati permainan olah raga ranjangnya.
" Jangan dong, kalau ini di potong nanti kamu juga yang susah."Seru Miko sambil nenutup senj4t4nya dengan kedua tangannya.
" Makanya, jangan m3sum terus."Seru Olivia sambil mengerucutkan bibirnya.
" Duh semakin menggemaskan saja sih istriku ini "Seru Miko sambil mengusap kedua pipi Olivia dengan lembut.
* Ya Allah, terima kasih sudah menjadikan mas Miko suamiku. Aku sangat bersyukur bisa mempunyai suami sebaik dan sepenyayang mas Miko.*Gumam Olivia dalam hatinya.
******
Pagi hari di kontrakan Jeni, Adrian meminta Jeni untuk memasak. Tidak ada alasan lagi Jeni untuk tidak mau memasak, karena sekarang Jeni sudah tidak bekerja lagi.
" Aku ini tidak bisa memasak, Adrian. Kamu beli saja sana, atau sarapan di kantor saja. Lagipula apa juga yang mau di masak, telor dan bahan-bahan makanan saja tidak ada. Mau terlambat ke kantor kamu?."Seru Jeni menjadikan alasan tidak ada bahan makanan untuk tidak mau memasak.
Padahal jika memang dia niat untuk memasak, bisa belanja dari pagi. Setiap jam setengah 6 pagi ada tukang sayur keliling. Memang Jeni tidak niat saja untuk memasak.
" Alasan saja kamu Jen. Nanti kamu belanja dan mulai nanti malam kamu harus memasak. Sekarang yang bekerja itu cuma aku saja Jen, mau tidak mau kamu juga harus mengerjakan pekerjaan rumah. Tidak ada lagi pakaian yang di laundry, kamu harus cuci sendiri."Seru Adrian bicara tegas dengan Jeni.
Heeehhhhh
Jeni membuang nafas sambil melengos begitu saja. Dia tidak mau jika harus mengerjakan pekerjaan rumah. Mana harus mencuci dengan tangan, yang ada tangannya akan panas dan rusak. Kuku-kuku cantiknya pasti akan patah, Jeni tidak bisa membayangkan itu semua jiks benar-benar terjadi. Yang ada dia akan malu di bully oleh teman-temannya.
" Beli meain cuci dong."Seru Jeni dengan mudahnya.
" Duitnya belum ada Jeni."Jawab Adrian pelan.
" Kalau begitu aku mau cari pekerjaan saja, aku malas jika di rumah dan harus mengerjakan pekerjaan rumah. Yang ada tangan tangan ku akan kasar, kuku cantikku ini akan rusak."Seru Jeni dengan menunjukkan kuku nya yang memang panjang terawat.
__ADS_1
Adrian tidak menjawab apapun, dia menyambar kunci motornya dengan cepat. Tanpa pamitan dengan Jeni, Adrian berangkat ke kantor tanpa sarapan. Lama-lama di rumah kepalanya rasanya mendidih karena permintaan Jeni yang aneh-aneh. Jika sudah seperti ini Adrian seakan menyesal menikah dengan Jeni, Wanita yang tidak bisa apa-apa. Bisanya hanya merawat diri dan bersolek saja.
*************