Aku Bukan Pengantinnya

Aku Bukan Pengantinnya
Cari kesempatan


__ADS_3

.


.


.


💐💐 HAPPY READING 💐💐


" Ada apa ini?." Tanya pak Arman yang baru pulang bekerja.


Ibu Harti dan Jeni langsung mengalihkan pandangannya. Nyali ibu Harti sedikit menciut saat melihat pak Arman sudah berdiri dibelakangnya. Wajah Pak Arman terlihat tidak bersahabat sama sekali, dia seakan sudah tahu apa yang menyebabkan Jeni dan ibunya datang dan membuat keributan.


" Pa, dia datang meminta sertifikat rumah nya Olivia. Apa dia kira rumah kita ini tempat simpan menyimpan kali ya pa."Ucap tante Rumi sambil melirik Ibu Harti dan Jeni secara bersamaan.


" Heeh... Jaga ya mulut mu !! Yang aku minta itu sertifikat rumahku, enak saja kamu bilang itu rumah Olivia. Rumah itu adalah rumahku, paham !!."Bentak ibu Harti dengan lantang.


" Memang kamu punya rumah? Kapan kamu beli atau kapan kamu membangunnya?."Tanya pak Arman monohok.


Gleekkk


Ibu Harti menelan salivanya sendiri, dia memang berani dengan siapa saja tapi saat berhadapan dengan pak Arman nyalinya mulai menciut. Pak Anwar saja tidak mau mencari masalah dengan pak Arman, dia sudah takut berhadapan dengan Pak Arman.


" Rumah yang kami tempati memang milik orang tua kandung Olivia, tapi apa paman lupa kalau Ayah dan ibuku yang sudah merawat dan membesarkan Olivia? Jadi rumah itu juga menjadi milik orang tua ku juga dong, kalau tidak ada Ayah dan ibu tentunya Olivia tidak akan ada sampai sini."Ucap Jeni dengan beraninya dia membantah ucapan paman Arman.


" Anak manja seperti kamu tahu apa? Coba kamu tanyakan ibumu ini, kapan dia mengurus Olivia dengan benar? Apa dia murni full mengurus dan merawat Olivi? Dan sudah berapa saja harta Olivia yang kalian habiskan? Sawah , dan bengkel sebesar itu bisa bangkrut dan kalian jual . Apa itu belum cukup? Sekarang justru rumah yang ingin kalian jual? Dasar manusia benalu tidak tahu malu."Cibir pak Arman dengan menyunggingkan senyum sinisnya.


Jeni dan Ibu Harti terlihat mengepalkan kedua tangannya. Kata-kata pak Arman tadi sama saja merendahkannya dan menghina mereka. Sudah pasti Jeni si anak manja tidak terima dengan penghinaan itu. Jeni akan gantian mencaci pak Arman namun dengan cepat ibu Harti mencegahnya dan mengajak Jeni pulang.


" Jen, kita pulang saja."Ucap ibu Harti menarik tangan Jeni.


" Tapi bu, kita belum mendapatkan sertifikat rumah itu. Bagaimana dengan mobil Jeni?."Seru Jeni merengek.

__ADS_1


" Sertifikat itu tidak ada disini. Lebih baik cepat kalian pulang sebelum aku menyeret kalian menjauh dari pekarangan rumahku."Ucap pak Arman pelan namun tegas.


Jeni dan ibu Harti merinding mendengar kata-kata tegas dari pak Arman sehingga dengan cepat mereka meninggalkan rumah pak Arman tanpa mengucapkan kata pamit lebih dulu. Pak Arman dan istrinya memandang kepergian mereka sambil menggelengkan kepalanya.


" Dari dulu sama sekali tidak berubah, malah semakin menjadi. Kok bisa dulu almarhum mbak Yasmin meminta Harti yang merawat Olivia."Ucap pak Arman.


" Sudahlah pa, jangan bicara seperti itu. Kasihan almarhum mbak Yasmin disana, sekarang kira masuk."Ucap tante Rumi.


Sementara itu di salah satu showroom mobil Olivia sedang memilih-milih mobil yang dia beli. Dia sengaja membeli mobil, selain memang usahanya sekarang membutuhkan kendaraan mobil, juga sengaja untuk memanasi Jeni. Sebenarnya bukan tipe Olivia mau pamer, tapi Jeni juga sudah keterlaluan.


" Saya suka yang warna putih ini, menurut kamu bagaimana Sar?." Tanya Olivia memang sengaja mengajak Sari untuk menemaninya.


" Bagus sih mbak, kalau untuk bawa perlengkapan es boba tidak terlalu sempit. Tapi mbak Olivia yakin uang nya cukup, maaf bukan Sari meremehkan mbak Olivia. Sari hanya tidak mau nanti mbak Olivia terbebani dengan cicilannya."Ucap Sari yang memang perhatian dengan Olivia.


Sari sudah menganggap Olivia seperti kakak kandungnya sendiri. Sari yang baru lulus SMA 1 tahun yang lalu sangat berterima kasih kepada Olivia, berkat Olivia dia bisa ikut ujian sekolah. Olivia sudah membantunya membayar biaya sekolahnya. Dan dia di izinkan bekerja saat selesai jam sekolah.


" Insya Allah mbak belinya secara Kas, Sar."Ucap Olivia.


" Alhamdulillah."Jawab Sari ikut bersyukur.


" Ini harga 250 juta mbak, pembelian bulan ini ada diskon 7 juta. Bagaimana mbak?."Tanya pegawai showroom dengan ramah.


" Saya ambil mbak. Bisa langsung di urus surat-suratnya sekarang kan mbak?."Tanya Olivia ingin semuanya cepat selesai agar mobil bisa cepat di antar.


" Bisa mbak, tapi kemungkinan mobil dikirim besok ya mbak."Ucap pegawai dengan ramah.


Olivia mengangguk, lalu dia masuk keruangan untuk mengurus surat-surat pembelian. Surat-surat mobil semua dibuat atas nama Olivia, Olivia sudah tidak sabar ingin segera membuat Jeni kalang kabut saat melihat mobil barunya.


Setelah hampir satu jam, urusan surat-surat pun selesai dan Olivia meninggalkan showroom. Olivia dan Sari kembali ke kedai, namun ternyata sudah hampir jam 4 sore. Sebelum ada menu bakaran, kedai akan tutup sebelum magrib. Namun, setelah ada menu bakaran kedai akan tutup jam 9 malam. Semua itu tidak semata-mata kemauan Olivia sendiri, semua itu juga atas kemauan para karyawannya. Olivia hanya menyetujuinya saja dan menambah gaji mereka.


" Mbak itu pacar mbak datang."Seru Sari menunjuk ke arah luar.

__ADS_1


" Apaan sih Sar, itu pak Miko. Beliau itu yang punya resto tempat mbak bekerja, tapi sekarang mbak kan sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Ya kita hanya dekat-dekat begitu saja, bukan berarti kami pacaran."Ucap Olivia belum mau mempublikasikan hubungannya dengan Miko.


" Oh begitu, tapi mbak Olivia dan pak Miko cocok kok."Ucap Sari sambil terkekeh.


" Hussttt.. Anak kecil jangan bicara soal pacaran dulu."Seru Olivia lalu dia keluar menghampiri Miko.


Miko yang hanya bersandar di mobil sambil bersedekap tangan melihat Olivia yang berjalan keluar menghampirinya. Dia datang sengaja karena ingin mengantar Olivia pulang.


" Anda ngapain kesini?." Tanya Olivia.


" Mau mengantar pacarku pulang."Jawab Miko dengan santainya.


" Saya bisa pulang sendiri pak Miko, anda tidak perlu mengantarkan saya."Ucap Olivia menolak secara halus.


" Tidak ada penolakan dan tidak ada kata bantahan. Aku akan menunggumu sampai kamu selesai, lagian kedai ini kan milik kamu sendiri. Kamu mau pulang kapanpun tidak ada yang melarangnya."Ucap Miko tidak mau kalah.


Hhhhuuuufffff


Miko yang dulu Olivia kira cuek, dingin seperti kulkas dua pintu ternyata sama saja dengan yang lainnya. Suka memaksa dan semaunya sendiri, Olivia membuang nafas dengan kasar lalu dia masuk mengambil tasnya. Memang dia sudah mau pulang, baru saja tadi dia mau memesan ojek Online ternyata pak Miko sudah stand by di depan kedainya.


Olivia keluar dari kedai dengan membawa dua cup es boba rasa cokelat. Satu untuknya dan satu lagi untuk Miko, es itu dia buat dengan racikan tangannya sendiri.


" Ini untuk pak Miko."Seru Olivia memberikan 1 cup es boba kepada Miko.


" Bisa tidak panggil saya yang bagus, masa iya pacaran panggilnya pak. Memang aku ini bapak kamu ya?."Seru Miko dengan wajah kesal.


" Hemm.. Iya Miko."Jawab Olivia dengan singkat.


Miko sedikit tersenyum, setidaknya bukan panggilan pak lagi yang Olivia sematkan. Mereka berdua pun sama-sama masuk mobil, Miko meminta Olivia untuk memegang es bobanya karena dia fokus menyetir. Namun sepertinya hal itu menjadi kesempatan Miko, Miko meminta Olivia memegang es itu dan dia meminumnya sambil menyetir.


" Cari kesempatan."Seru Olivia pelan namun masih bisa didengar oleh Miko.

__ADS_1


************


__ADS_2