AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
12. Dosen Ganteng


__ADS_3

Helin masuk kedalam ruang kelasnya, dia Heran karena barisan depan semua kursi di penuhi oleh mahasiswa wanita. Helin memilih duduk di salah satu kursi yang belum bertuan di bagian belakang samping sedangkan kursi lain bagian belakang di isi oleh mahasiswa pria.


Teman seperjuangan Helin di bagian depan semua terlihat sibuk dengan cermin mereka masing2 bahkan ada yang menebalkan lipstik dan bedak mereka.


Helin merasa aneh dengan kelakuan teman temannya.


"Pada ngapain sih mereka ?" Tanya Helin dalam hati.


Tak lama kemudian seorang dosen memasuki ruangan mereka. Beberapa wanita yang sedang berdandan ada yang merasa kaget. Ada yang cerminnya terjatuh dan ada juga yang lipstik nya tercoret melewati bibir.


Sebenarnya Dosen itu dari awal sebelum melewati pintu ruangan dia sudah memperhatikan semua perilaku mereka satu persatu. Dia hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya lalu masuk kedalam ruangan.


Beberapa wanita ada yang terlihat malu malu dan ada juga yang terlihat bergairah mengibas ngibaskan rambutnya ketika di lihat oleh sang dosen.


Menurutnya wajar saja murid wanita nya berprilaku seperti itu untuk menarik perhatian darinya karena mereka semua wanita normal, wanita mana yang tidak menyukai pria tampan seperti nya.


Tapi pendapat sang dosen yang begitu yakin dengan ketampanannya mulai memudar setelah dia melihat Satu wanita di pojok ruangan yang acuh terhadapnya. Tapi sang dosen tetap profesional terhadap profesinya.


Setelah jam kerja sang dosen selesai dia berniat akan meninggalkan ruangan itu tapi beberapa wanita dalam ruangan itu memanggil namanya dan menghadangnya.


"Pak Soni, bisakah meluangkan waktu anda sebentar untuk saya?" tanya salah seorang wanita.

__ADS_1


"Saya juga pak Soni" Sambut yang lain.


"Saya juga pak" Sambut yang lain lagi


"Saya juga pak"


"Saya juga pak"


Ruangan itu mulai riuh dengan suara penggemar pak Soni.


Masing masing wanita berebutan memberi hadiah, ada yang memberi bunga, coklat dan lain-lain. Hanya Helin yang cuek terhadapnya.


Helin yang dari tadi duduk di kursinya lalu bangkit dan akan meninggalkan ruangan. Pak Soni lalu memanggil Helin.


"Namanya Helin pak" salah satu fens memberi tau.


"Ya kamu Helin." Soni keluar dari kerumunan lalu menghampiri Helin.


Soni mendekati Helin sedakat mungkin membuat Helin mengerutkan dahinya dan memundurkan kepalanya.


"Tolong bantu saya keluar dari ruangan ini" Bisik Soni.

__ADS_1


Helin mengangut tanda ia mengerti maksud Soni.


Helin menarik lengan Soni dan membawanya melewati pintu. Setelah melewati pintu dan menjauh sedikit dari ruangan kelasnya dia melepaskan lenagan Soni.


"Semudah ini ?" Tanya Soni


"Bapak hanya meminta untuk keluar dari ruangan kan ?" tanya Helin balik


Soni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia benar benar tidak tertarik pada ketampan ku" ujar Soni dalam hati.


"Jika tidak ada apa apa lagi saya permisi Pak" Helin pamitan dan melangkah meninggalkan Dosenya yang tampak sedang bingung.


Helin menuju toilet untuk menyegarkan wajahnya. Setelah sampai di empat yang di tujunya dia di kejutkan oleh Peri Luna yang sudah dulu berada di sana.


"Hwaaaak.. kau mengejutkan ku" sambil memegang dadanya.


"Aku bosan berada dalam tas mu, jadi aku memutuskan untuk keluar jalan jalan."


"Baiklah aku tidak akan melarangmu, tapi kau harus berhati-hati, jangan sampai ada yang melihatmu lalu menangkap mu." Nasehat Helin kepada Peri Luna.

__ADS_1


"Terimakasih atas perhatianmu, tapi jika masalah itu kau jangan khawatir tidak akan ada yang bisa melihatku, Hanya orang tertentu yang bisa melihatku." Peri Luna menjelaskan


Helin mengangguk dengan penjelasan Peri Luna.


__ADS_2