
Helin buru-buru kembali ke kosannya. Setelah menaiki anak tangga, Helin langsung membuka pintu. Kedua kakinya terasa lemah karena dia berlari dengan cepat tadi agar segera sampai ke kosannya.
Pintu terbuka, Helin melihat Bisma sudah duduk manis di ruang tamu. Ternyata Bisma memiliki kunci duplikat dari kosan Helin tanpa sepengetahuan sehingga dia bisa leluasa keluar masuk di dalamnya.
Bisma menghampiri Helin, "Dari mana?, aku datang sejak tadi pagi."
Helin tidak langsung menjawab, Dia merasa lemas karena sudah lama tidak pernah berlari seperti tadi, Jadi dia bertumpu pada gagang pintu untuk menumpu tubuhnya.
Bisma memapah tubuh Helin untuk duduk dan beristirahat, Bisma menatap Helin lebih dekat. "Dari mana?, Kenapa pulang tampak lelah seperti ini?"
Helin menatap balik Bisma, "aku.... aku..." Helin tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena jantungnya masih belum berdetak normal apalagi tatapan Bisma membuat dirinya semakin gugup.
Bisma menyentuhkan jari telunjuknya di bibir Helin, "Jangan menjawabnya, karena aku akan mengatakan hal yang sangat penting untuk hubungan kita."
Helin menurut, Bisma menjauhkan tubuhnya dari Helin. Dia mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya lalu meraih tangan kanan Helin.
Bisma memasangkan sebuah cincin ke jari manis Helin, "Maukah kau menikah denganku?"
Helin seakan sesak nafas mendengar kalimat yang di keluarkan Bisma, detak jantungnya saja belum normal kini di tambah lagi dengan kejutan lamaran untuknya. Helin benar benar merasa akan mati saat itu juga.
Bisma menjadi panik dengan reaksi Helin yang menjadi kejang-kejang, Bisma buru-buru mengambilkan segelas air putih dari dapur dan meminumkannya pada Helin.
setelah meneguk air putih dari gelas yang di berikan Bisma, Helin menjadi sedikit waras setelahnya. Helin mengatur nafas berlahan untuk mendapatkan kembali nafas teraturnya.
Helin mengangkat jemarinya di udara memperhatikan cincin yang tersemat di jari manisnya, ekspresi Helin terlihat ingin menangis.
"apa kau tidak suka dengan model cincinnya?" Tanya Bisma setelah memperhatikan ekspresi Helin.
Helin menggeleng masih dengan ekspresi yang sama membuat Bisma meraih jemari Helin untuk melepaskan cincin itu kembali.
Helin menarik tangannya dengan cepat dan menyembunyikan jemarinya di belakang.
"Aku sangat suka." Senyuman terukir di wajah Helin. Dia meraih Bisma lalu memeluknya.
Bisma menjadi tersenyum karena hal itu. Artinya Helin menerima lamarannya.
***
__ADS_1
Di taman kampus Helin meneliti kembali jemarinya di udara. Dia memperhatikan cincin yang tersemat di jari manisnya sambil senyum-senyum sendiri.
Niko datang secara tiba-tiba mengejutkan Helin yang sedang menikmati pemandangan di jari manisnya. "Kau.... mengejutkan ku saja" Helin mengangkat kemabli jarinya ke udara dan melanjutkan aksinya yang tadi ia lakukan tanpa memperdulikan keberadaan Niko di sebelahnya.
Niko merasa heran dengan kelakuan Helin yang seperti itu, tidak biasanya Helin menjadi konyol pikir Niko.
Niko berfikir hanya Luna yang bersikap konyol setiap harinya, ternyata hari ini dia melihat Helin juga bersikap demikian.
Niko memperhatikan tingkah Helin, dia menemukan sumber yang membuat teman baiknya itu menjadi konyol.
"Kau baru membelinya?" Tanya Niko penasaran karena sebelumnya Helin tidak pernah memakai cincin.
Helin menggeleng tanpa menoleh, dia masih asyik meneliti benda di jarinya.
Niko menarik lengan Helin untuk ikut meneliti cincin itu.
"Bagus kan?"
Niko menyeringit, "Menurutku biasa saja. Apa istimewanya?"
Helin menarik lengannya, "Ini cincin lamaran yang di berikan Mas Bisma kepadaku. Biarpun menurutmu biasa saja tapi menurutku ini luar biasa. Ini bukti cinta kami." Helin menjelaskan dengan nada mendamba.
Niko kembali mendekati Helin setelah menjauhkan tubuhnya tadi. "Kau benar akan menikah?" Niko memastikan
Helin menggangguk.
"Kapan?"
"Secepatnya" Jawab Helin yakin.
"Aku pergi dulu ya..." Helin meninggalkan Niko dengan terburu-buru.
Niko hendak memanggilnya kembali tapi Helin dengan cepat lenyap dari pandangan matanya.
Helin menghampiri seorang wanita berumur yang terlihat melintas menyusuri koridor. Dia mengikuti wanita itu sampai akhirnya Helin bertemu dan meminta untuk bicara berdua saja.
Dia adalah Nyonya Rosa.
__ADS_1
"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya tapi di mana aku sudah lupa. Maklum saja aku semakin tua." Nyonya Rosa memperhatikan Helin yang berada di hadapannya.
Helin menyuguhkan senyum di hadapan Nyonya Rosa, tanpa basa basi Helin menyerahkan selembar foto wanita hamil yang sangat mirip dengan Nyonya Rosa.
"Dia ibuku"
Nyonya Rosa membelalakkan matanya menatap foto yang dia pegang.
"Tante, kau pasti saudara kembar ibuku." Helin terlihat bergenang air mata.
Helin menyerahkan lagi selembar foto.
Nyonya Rosa menerimanya, dia melihat dua wanita muda dengan wajah yang mirip di dalam lembaran foto ke dua.
Mata Nyonya Rosa menjadi merah, ekspresi wajahnya terlihat sedih, semakin lama dia menatap foto itu ekspresi wajahnya semakin memburuk, sekarang ekspresi nya seperti menahan kemarahan. Tubuhnya menjadi gemetar dan sedikit meremas fofo-foto yang dia pegang.
Helin menyadari perubahan dari Nyonya Rosa. Tatapan Nyonya Rosa yang semula ramah menjadi angkuh dan tajam seakan ingin menusuk Helin seperti pisau.
Helin memejamkan mata, dia memberanikan diri memegang tangan Nyonya Rosa untuk membuat wanita itu menjadi tenang.
Nyonya Rosa mengibas tangan Helin yang menyentuh tangannya, Dia melempar dua lembar foto ke udara.
Helin menjadi kaget karena sentakan tangan yang menepis dirinya cukup kuat membuat dirinya termundur beberapa langkah.
Helin menjadi menangis akan hal itu, Dia yakin wanita di hadapannya adalah saudari kembar ibunya tapi dia tidak tau apa alasan saudari ibunya menjadi kasar terhadap dirinya.
Nyonya Rosa mendekati Helin masih dengan tatapan yang jahat, Dia berbisik di daun telinga Helin membuat Helin menjadi semakin takut, "Katakan pada Ranti, Hubungan ku denganya sudah lama putus."
Nyonya Rosa berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Helin sendirian.
Isak tangis Helin menjadi pecah sambil memungut lembaran foto di lantai.
Helin berfikir sepertinya Ibu dan bibinya memiliki masalah yang belum terselesaikan dan membuat bibinya masih menyimpan dendam terhadap ibunya yang sudah meninggal.
Sebelumnyaa Helin berfikir masih memiliki harapan menemukan keluarga ayah atau keluarga ibunya, tapi setelah kejadian barusan haluan fikirannya menjadi berubah.
Dia berfikir Ibu dan ayahnya melakukan banyak Dosa terhadap keluarga sehingga yang menanggung karmanya adalah dirinya sendiri yang terlahir sebagai anak Meraka.
__ADS_1
Walaupun haluan pikirannya berubah tapi tidak mengubah semangatnya untuk mengungkap dan tetap berjuang menyelesaikan permaslahan yang di mulai oleh orangtuanya.