AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
54. Monster cantik


__ADS_3

Aku kasi visual dengan gambar dari beberapa pemeran dalam novel ku ya...


jika pembaca merasa tidak cocok, bisa membayangkan karakter dalam imajinasi masing masing kok.


Helin


Peri Luna (Setelah menjadi manusia)



Naura



Karina



Niko



Leo




Bisma



Hadi




Haris





Soni



__ADS_1



Sekretaris Jimi



.


.


.


.


.


Luna dan Helin keluar dari kamar setelah Niko memanggil mereka berdua.


Entah apa yang membuat mereka terdengar gembira sehingga tawa mereka samar menembus pintu kamar yang tertutup rapat.


Leo sudah pergi ke kantor setelah menghabiskan nasi goreng yang di buat oleh Helin. Nasi goreng itu enak atau Leo sendiri sangat lapar hanya dialah yang tau, yang jelas, piring yang di gunakan ya tadi bersih hanya menyisakan sendok di atasnya.


Niko juga akan pergi ke lokasi syuting, setelah dua wanita kesayangannya keluar dari kamar, ia pun berpamitan. Kini hanya Helin dan Luna yang tersisa di sana.


Helin membereskan piring piring kosong dan meletakannya di wastafel. Lalu duduk di meja yang masih menyisakan 2 porsi nasi goreng.


"Ayo makan!"


Luna sudah lebih dulu duduk di sana, tapi matanya menatap hidangan di depannya dengan jari tangan mengetuk ngetuk meja, Menunggu Helin menawarkan.


"Nona..." Luna mencebikan bibirnya.


"Aku tidak melarangmu jika kau mau lagi, Tapi..."


Luna segera mungkin menarik piring yang berisi nasi goreng lebih mendekat dengannya. Tapi karena Helin menghentikan kalimatnya, Luna juga menghentikannya aktivitas tangannya. Memperhatikan kembali wajah itu.


"Banyak makan akan membuat tubuhmu membesar. Jika itu terjadi kau tidak akan terlihat menarik lagi di mata siapapun. Dan akan sulit untuk kembali ke ukuran semula."


Setelah mendengar penjelasan itu, Luna terdiam. Dalam pikirannya kata besar yang di maksud Helin barusan adalah sebongkah raksasa yang di jauhi oleh semua orang karena ukuran yang berbeda dan takut.


Luna menggelengkan kepalanya, berharap itu tidak boleh terjadi pada dirinya.


"Jadi, bagaimana cara mengatasi selera makanku yang seperti ini?" Luna mendengus. "Apa tidak mati!"


Helin terkekeh melihat ekspresi Luna.


"Itu yang harus kau lakukan, bagaimana caranya agar bisa menahan selera makanmu yang berlebihan."


"Bagaimana?"


"Itu urusanmu, ku yakin kau punya cara tersendiri untuk mengatasi itu." Helin memasukan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Luna terlihat kesal karena Helin menggodanya dengan makanan. Dia memalingkan wajahnya tapi Helin tidak peduli.


Seperti biasa selama menjadi Peri, Jika Luna meraju, Helin tidak pernah membujuknya. Nanti dengan sendirinya dia akan membaik, bahkan dia akan lebih dahulu mengajak Helin bicara.


"Selalu seperti itu" Dengusnya, karena Helin tidak memperdulikan.


Luna memperhatikan Helin yang sedang makan, setiap kemanapun arah sendok yang di pegang Helin berpindah , mata Luna akan mengikutinya.


Helin menyadari aksi Luna yang sedang memperhatikan dirinya.


"Kenapa?, Mau....!"


Luna mengangguk dengan cepat beberapa kali dengan penuh harap.


"Tapi ada syaratnya"


Luna yang tadi semangat kini menjadi loyo kembali karena dia merasa di permainkan oleh Helin. "Apa syaratnya" nada bicaranya terdengar lesu tapi manja.


"Sangat mudah, Kau boleh memakannya, asalkan sebelum memasukan ke dalam mulutmu kau harus mencium aromanya terlebih dahulu dengan sangat dalam. Dan harus melakukannya setiap kali akan makan. Bagaimana, apa setuju?"


Suasana menjadi hening, sesaat kemudian Luna memecahkan tawanya.


"Nona, apa cuma itu syaratnya?, Apa tidak ada yang lain?" Berbicara di sela tawanya, dia berfikir Helin sangat konyol memberinya syarat seperti itu.


Helin menggeleng, Tanpa berfikir Luna menerima persyaratan yang menurutnya mudah itu.


Luna pun mempraktekan ritual dari persyaratan yang di berikan Helin padanya terhadap nasi goreng yang dari tadi menggoda dirinya untuk di makan.


Lalu menyantapnya. Tapi kali ini dia hanya mampu memakan beberapa sendok saja, kemudian memakan sisanya secara berlahan dengan terpaksa.


"Kenapa?"


"Aku merasa sudah sangat kenyang" Luna seperti menyerah.


Helin menertawakannya dalam hati.


Itu bukan kenyang, tapi eneg. Aromanya lebih dulu masuk kedalam otakmu secara berlebihan. Itu yang membuat selera makanmu terganggu. Hahaaa...


Helin sengaja melakukan itu dengan tujuan agar Luna mengubah kebiasaan makan yang menurutnya berlebihan. Itu juga untuk kebaikan Luna agar orang tidak menilai dirinya sebagai monster cantik yang mampu memasukan apapun ke dalam tenggorokan nya.


"Dengan cara makanmu lembut seperti itu, kau benar benar terlihat seperti manusia." Helin mulai kembali meledek.


"Nona, memangnya kemarin kau menganggap ku monster?" Luna kembali kesal dengan kalimat Helin barusan.


"Tentu saja, kau kemarin seperti monster berwujud manusia, Bagaimana mungkin gadis bertubuh kecil seperti dirimu mampu menghabiskan banyak makanan dalam sekejap."


Kalimat Helin barusan membuat Luna teringat kepada Leo yang menolak untuk makan bersamanya tadi pagi.


Apa mungkin dia juga menganggap ku sebagai monster?. Sungguh, ini benar benar memalukan.


Luna mengacak ngacak rambutnya dengan kedua tangannya masih membayangkan bagaimana cara dia menghabiskan makan tadi bersama Leo. Dia benar benar merasa malu.

__ADS_1


Monster, monster, monster.....


Kata monster terngiang ngiang di telinganya.


__ADS_2