
Mereka bertiga duduk di meja makan bersama. Niko yang dari tadi sangat lapar kini lupa bahwa dirinya belum makan, mungkin dia terbius oleh Peri Luna.
Helin mengisi piring untuk Peri Luna,
"Peri Luna, apa sekarang kamu bisa memakan ini?"
Peri Luna memegang tangan Helin yang menyodorkan makan padanya.
"Nona, jangan panggil aku dengan sebutan Peri lagi, cukup Luna saja. Sekarang aku sama seperti dirimu telah menjadi manusia."
Helin membalas Peri Luna dengan senyuman hangat.
"Aku akan mencoba memakan ini"
Peri Luna mencoba memakan makanan yang di berikan Helin, Dia mengambil piring yang di sodorkan Helin tadi. Satu suapan dia masukan ke mulutnya perlahan. Setelah sampai di dalam mulutnya dia membelalakkan kedua bola matanya. Membuat Helin dan Niko memandanginya cemas.
"Kenapa denganya?, apa dia bisa memakan makanan kita?"
"Ini sangat enak," Menghabiskan makanan yang ada di piringnya. "Apa aku boleh memakan ini semua?" Tanya sang Peri dengan polos.
Niko mengangguk,
tidak membutuhkan waktu yang lama meja yang penuh dengan hidangan itu sepi di makan oleh Peri Luna. Wajah cantiknya tidak cocok jika melihat gaya makannya yang seperti itu.
Kini Niko menyesali telah menyetujui permintaan Peri Luna untuk menghabiskan makanannya. Dia baru menyadari perutnya belum terisi setelah makanan di meja mereka habis.
Setelah menghabiskan banyak makanan Peri Luna sangat mengantuk.
"Makanan kalian sangat enak, aku ingin lagi besok" Sambil menguap menahan rasa kantuknya. "Rasanya aku ingin tidur sekarang, ngantuk sekali."
Helin dan Niko saling berpandangan.
"Bagaimana?" Tanya Helin meminta pendapat Niko tentang Peri Luna yang tampak sudah terlelap dengan kepala di atas meja.
"Dia boleh tidur di kamar itu,"
Helin menoleh kamar yang di tunjuk Niko.
"Apa tidak merepotkanmu Nik, jika Peri Luna menginap di sini malam ini?"
"Harus bagaimana lagi, tidak mungkin dia ikut kembali bersamamu, Dia bukan Peri Kecil lagi yang bisa kamu sembunyikan di dalam tas mu. Lagi pula aku yang bersalah membuatnya menjadi manusia."
__ADS_1
"Terimakasih Nik kamu mau membantuku. Ini juga salahku yang membawanya kemari, Maafkan aku."
"Hei, jangan meminta maaf kita adalah teman. Kita hadapi masalah ini bersama. Tunggu di sini aku akan mengantarnya ke kamar."
Helin mengangguk.
Setelah mengantar Peri Luna, Niko kembali menghampiri Helin.
"Nik, aku berjanji padamu akan membawa Peri Luna bersamaku secepat mungkin,"
"Syuutt... aku sama sekali tidak merasa di repotkan, jangan khawatir kan dia. Aku akan merawatnya dengan baik. Lagi pula aku tinggal sendiri di sini. Selesaikan urusan mu setelah itu kamu boleh membawanya."
"Terimakasih Niko, kamu memang temanku yang paling baik."
"Jangan sungkan, oh iya aku mengundangmu ke sini untuk membicarakan sesuatu. Helin, aku ingin kamu bekerja bersamaku, aku bisa memberimu tempat sebagai model dan bisa membuatmu terkenal. Berhentilah dari pekerjaan mu yang sekarang."
Raut wajah Helin berubah tidak seceria tadi.
"Maaf Helin, aku tidak bermaksud meremehkan pekerjaan mu, aku hanya ingin kamu mendapatkan tempat yang semestinya untukmu. Aku harap kamu tidak tersinggung dan bisa menerima tawaranku."
Helin menyunggingkan senyumannya kepada Niko. Dia tidak menyangka Niko yang dikenalnya dulu yang sangat konyol bisa memikirkan masa depan untuk dirinya. Helin merasa beruntung mendapatkan teman sabaik Niko.
"Ya baiklah, ku harap kamu menerimanya dalam waktu dekat."
Suara Bell berbunyi, pertanda seseorang datang.
"Siapa yang bertamu malam malam begini, Niko melihat jam tangannya. pukul 20.30. Lalu membuka pintu.
"Lama sekali membuka pintunya." Leo masuk sambil mengomel.
Langkahnya terhenti karena melihat Helin duduk di kursi tamu dengan sisa makanan yang belum di bereskan di atas meja.
"Sepertinya baru saja ada pesta di sini" Kalimat menyindir Leo yang di tujukan kepada Helin.
"Kakak, duduklah dulu" Niko mempersilakan Leo untuk duduk di dekat Helin.
Leo menolaknya, "Terimakasih adiku, tapi aku sangat lelah aku ingin beristirahat di tempatmu ini, Apa aku mengganggu acara kalian?" Tanya nya lagi tetap dengan gaya menyindir.
"Tidak Tuan muda Leo, Anda sama sekali tidak mengganggu, aku akan pulang sebentar lagi." Jelas Helin karena dia menyadari Leo menyindir nya.
Manis sekali, aku suka mendengarmu memanggilku tuan muda, memang harusnya seperti itu. Wanita seperti dirimu harus hormat kepadaku.
__ADS_1
Entah apa sebabnya, seperti nya Leo sangat tidak suka jika melihat Helin kali ini, ada sisi negatif dari Helin dalam pandangannya.
"Terserah kamu saja" Jawabnya acuh.
Leo melangkah ke kamar yang biasa dia tempati jika menginap di tempat Niko.
Setelah membuka pintu kamar betapa terkejutnya Leo melihat seorang wanita tidur dengan pulas di atas tempat tidurnya. Dia menutup kembali pintu kamar dengan pelan takut membangunkannya.
Dia menghampiri Niko dan Helin yang sedang melanjutkan perbincangan mereka yang terhenti karena kedatangan nya tadi.
"Niko, wanita mana lagi yang tidur di kamarku?, Mengapa kamu banyak sekali membawa wanita ke tempat ini?"
Helin menyipitkan matanya, kali ini dia merasa tersinggung dengan perkataan Leo.
"Kakak, tenanglah. Duduk saja dulu." pujuk Niko kepada Leo.
"Bagaimana bisa tenang, kau pasti salah bergaul sehingga prilakumu menjadi seperti ini."
Helin murka dengan kalimat Leo, karena terus menyinggung.
"Tuan muda, ku rasa Anda terlalu banyak menyendiri sehingga tidak mengerti dan tidak bisa membedakan mana teman dan yang mana cinta. Cinta?, uups. mungkin saja anda tidak mengerti apa artinya cinta. Setahuku anda tidak menyukai wanita bagaimana bisa mengenal cinta atau mungkin ada ketidak Normalan dalam diri Anda."
"Helin, sudahlah." Niko menengahi
"Biarkan saja," Jawab Helin cuek.
Leo menatap Helin dengan tajam. Tapi mengikuti perintah Niko untuk duduk.
"Kakak, semua ini tidak seburuk yang kamu fikirkan, Helin ke sini karena undanganku, Dia temanku, ku rasa kamu sudah mengetahui itu. Sedangkan wanita yang di kamarmu, Dia kekasihku namanya Luna. Selama ini aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun terkecuali mereka berdua."
Niko berbohong tentang Peri Luna agar bisa membantu Helin merawat sang Peri. Jadi aku berharap kamu merestui ku bersama Luna dan mengizinkanku tetap berteman dengan Helin. Aku berani bersumpah padamu, aku tidak berbuat buruk."
"Baiklah jika benar seperti itu,"
Leo bangkit dari tempat duduknya, "Sekarang terserah kau saja asal jangan merugikan siapapun." Kata kata itu dia lekatkan pandanganya kepada Helin. "Mulai sekarang, kamarmu milikku."
Leo berlalu meninggalkan mereka berdua.
Apa masalahnya, kenapa dia tidak pernah bersikap baik kepadaku, atau mungkin memang sikapnya seperti itu?. Ah sudahlah, siapa dia tidak penting juga untukku. Helin berkecamuk dalam fikirannya sambil menatap punggung Leo berjalan meninggalkan mereka berdua.
jangan Lupa like nya ya jika menyukai karya ku....
__ADS_1