
Luna berada di dalam kamar selama beberapa jam, dia tidak bisa memejamkan matanya karena sangat khawatir pada Helin. Ada banyak penyesalan dalam dirinya tentang hilangnya Helin. Dulu semasa ia menjadi peri, dia pernah berjanji bahwa tidak akan membiarkan Helin sedih dan hidup menderita lagi. Tapi setelah dia menjadi manusia, tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk menolong Helin lagi. Aku sekarang benar benar tidak berguna untuk Nona Helin. Hatinya merasa tidak tenang karena hanya berpangku tangan menunggu kabar tentang Helin tanpa melakukan apapun.
Luna keluar dari kamar dan berencana untuk mencari Helin juga. Sebelum itu dia di hadapkan dengan dua pria di ruang tamu, entah apa yang mereka lakukan tapi keduanya tampak serius.
karena ke dua orang itu tampak serius, Luna melewati keduanya dengan sangat hati hati agar tidak di sadari oleh mereka.
Sebelum mencapai pintu, suara deheman yang terdengar sengaja dari Sekretaris Jimi membuat Leo tersadar dan menoleh ke arah pintu.
"Maaf Nona Luna, Tuan Muda ke II berpesan agar anda tetap berada di kamar anda malam ini, Anda tidak di perbolehkan keluar dari tempat ini." Jelas Sekretaris Jimi.
Luna membuang nafas kasar dan berjalan mundur dengan lesu lalu duduk di antara Leo dan Sekretaris Jimi yang sedang menyelesaikan pekerjaan mereka.
Leo dan Sekretaris Jimi saling berpandangan setelah melihat tingkah konyol Luna dengan wajah polosnya yang duduk menghalangi komunikasi antara mereka.
"Maaf Nona, kami sedang menyelesaikan pekerjaan, anda menghalangi kami dengan duduk di situ!" Jelas Sekretaris Jimi.
Luna tidak menggubris perkataan Sekretaris Jimi, bahkan dia terlihat duduk sangat nyaman sambil melamun.
"Nona,...Nona Luna" Sekretaris Jimi mengoyankan beberapa kali tangannya ke arah pandangan Luna tapi tidak ada respon.
Sekretaris Jimi kembali memandangi Leo sambil mengangkat alisnya tanda bertanya harus melakukan apa.
__ADS_1
Leo hanya membalas dengan menggedikkan kedua bahunya.
Karena tidak ada perintah dari Leo, Sekretaris Jimi berinisiatif sendiri. Dia memindahkan Luna dengan mengangkatnya ke kursi lain yang ada di di ruangan itu juga.
Luna tersadar setelah dia dalam dekapan Sekretaris Jimi. Dia berteriak agar di lepaskan. Sekretaris Jimi pun melepaskan dirinya karena kaget dengan teriaknya. Sebuah tamparan juga mendarat di pipinya.
"Jangan macam macam terhadapku!, kau sangat kurang ajar, beraninya memelukku!" Luna melototkan matanya terhadap Sekretaris Jimi yang terlihat serba salah.
"Nona, anda salah faham. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin memindahkan anda ke sini," Sambil menunjuk kursi di depannya. "Anda tadi menghalangi komunikasi antara saya dan Tuan Muda Leo. Jadi saya mindahkan anda agar tidak menghalangi." Jelas Sekretaris Jimi.
"Kau bisa memberitahu ku untuk berpindah. Kenapa harus memelukku. Kau pasti mencari kesempatan terhadap gadis cantik seperti ku! dan.......bla bla bla..(Panjang)."
Sekretaris Jimi menepuk keningnya.
Sekretaris Jimi menatap Leo dengan tatapan memelas berharap mendapat pertolongan darinya.
Tapi yang di pintai pertolongan malah tertawa terpingkal pingkal di belakang Luna seakan akan gembira melihat penderitaan Sekretaris Jimi yang sedang di omeli habis habisan oleh Luna.
Seakan tidak ingin mendengar ocehan Luna lebih lanjut, Leo sengaja menguap beberapa kali.
"Sepertinya aku mengantuk, aku akan tidur saja." Leo berlalu meninggalkan Sekretaris Jimi dan Luna di sana.
__ADS_1
"Tapi Tuan Muda, pekerjaan kita belum selesai." Sekretaris Jimi hendak menyusul Leo tapi Luna menahannya.
"Kita bisa menyelesaikannya besok, selesaikan saja urusan mu dulu" Setelah mengatakan itu, Leo masuk ke dalam kamarnya tanpa muncul kembali seperti di telan pintu.
Sekretaris Jimi beberapa kali menggaruk kepalanya untuk mendapatkan ide agar bisa lolos dari ruangan itu, sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi mendengar ocehan Luna yang terus menyalahkan dirinya atas kejadian tadi.
Luna menghentikan ocehnya ketika suara bell berbunyi, dia segera membukakan pintu. Niko sudah pulang dari pencariannya terhadap Helin.
Itu menjadi kesempatan untuk Sekretaris Jimi menghindar dan segera berpamitan untuk pulang. Luna juga tidak membahas itu lagi, dia lebih tertarik dengan hal lain yaitu kabar tentang Helin.
Niko menjelaskan bahwa dia tidak mendapatkan kabar apapun tentang Helin malam ini, dia akan melanjutkan pencariannya besok.
Kabar itu membuat Luna semakin gelisah. Kekhawatiran nya menjadi berlipat ganda sehingga matanya menjadi berkaca kaca.
Air mata nya tumpah dan tangisannya pecah dengan suara yang nyaring memenuhi ruangan.
Niko mencoba menenangkan Luna yang sedang menangis histeris. Membujuknya dengan bermacam cara, tapi tangisan itu semakin menjadi.
Leo juga keluar dari kamarnya, ingin memastikan apa yang sedang terjadi. Suara tangisan Luna seperti menembus pintu kamar miliknya.
"Ada apa lagi?" tanya Leo dengan wajah kesal.
__ADS_1
Sebenarnya dia ingin istirahat, tapi dia urungkan karena ada suara yang mengganngu telinganya.