
Karina tampak kesal dia merengek pada tantenya.
"Dia tidak menemui ku sore tadi. Tante rigya, dia tidak menyukaiku lagi, bagaimana bisa aku mendekatinya lagi?"
"Ini semua salahmu Karina, coba dulu kamu tidak menolaknya mungkin sekarang kau sudah menjadi istrinya."
Karina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Waktu kuliah dulu dia tidak setampan ini Tante, makannya aku menolaknya. Tapi sekarang, gadis mana yang tidak menyukainya, Selain tampan dia juga kaya raya. Aku bisa membeli apapun di dunia ini dengan uangnya."
"Jika begitu carilah cara agar dia mau menemuimu, agar rencana perjodohan kalian lebih mudah di lakukan." Nyonya Ragya tidak putus asa untuk melanjutkan rencananya.
**
Helin kembali kerumahnya,
"Selamat sore Helin,"
Sapaan Dokter Hadi mengejutkannya.
"Dokter Hadi, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Berkerja, Jawabnya santai.
"Apa seseorang memanggilmu ke sini?"
Dokter Hadi mengangguk. Helin hendak masuk karena mengerti dengan anggukan sang Dokter.
Dokter Hadi menarik tangan Helin untuk menghentikan langkahnya. "Pak Wanto sedang istirahat, jangan mengganggunya, tenanglah, aku sudah memberinya obat dia akan baik baik saja." Jelas Dokter Hadi tapi tidak melepaskan tangan Helin.
Naura melihat keberadaan mereka dari ruangan lain. Dia merasa sangat tidak suka.
Apa istimewanya Helin, sehingga banyak pria yang mengaguminya. Sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Peri Luna juga berada di sana, Dia menjahili Naura yang hendak melangkah menjadi tersandung dengan kakinya sendiri. Rencananya membuat Naura terjatuh ke lantai berhasil.
Helin dan Dokter Hadi bersamaan menoleh ke sumber suara. Dokter Hadi melepaskan pegangannya dari tangan Helin setelah melihat Naura terjatuh di sana, entah apa yang dia fikirkan.
Helin mendapat pesan singkat dari Niko teman kuliahnya. Isi pesan mengajak Helin bertmemu untuk makan malam bersamanya.
Helin menerima ajakan itu, ini kesempatan untuk menanyakan tentang hadiah yang di berikan Niko padanya tempo hari. karena untuk sekarang bertemu dengan Niko sangat sulit setelah Niko terkenal.
Peri Luna meminta untuk ikut bersama Helin, Dia mengetahui jika Helin akan keluar lagi tapi tidak untuk bekerja atau kuliah melainkan jalan jalan. Helin juga menyetujui permintaan Peri Luna.
Helin menyimpan Peri Luna di dalam tasnya karena takut jika orang lain melihat keberadaan sang peri.
Niko menunggu Helin di apartemen miliknya. Mereka akan makan malam di kediaman Niko.
Ketukan pintu terdengar, Niko segera membukakan pintu. Orang yang di tunggu tunggunya telah tiba, Helin.
Helin masuk dan merasa takjub karena apartemen milik Niko sangat besar. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan yang berisi barang barang mewah.
Niko mengangguk, dia tidak membisingkan keterkejutan Helin. Hanya menganggapnya biasa.
"Ayo makan bersama, aku sangat lapar" ajak Niko.
"Tunggu sebentar, aku ingin menggunakan toiletmu." Jeda Helin karena keterkejutan membuat dirinya ingin buang air kecil.
"Di sana, mari kuantar"
Sampai di depan pintu kamar toilet, Helin memberikan tas nya ke tangan Niko. "Aku titip ini."
Niko menerima tas itu dan hendak membawanya ke meja makan tadi.
Niko terkejut sesuatu keluar dari tas Helin dengan cahaya biru. Dia menangkap cahaya itu dan terlihat sebelah sayap dari manusia berukuran kecil di pegang Niko dengan kuat. Makhluk itu juga memberontak ingin melepaskan diri dari pegangan tangan Niko. Alhasil sayap itu patah dan makhluk itu terjatuh ke lantai.
Helin keluar dari toilet dan langsung terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dia buru buru menyambar makhluk itu.
__ADS_1
"Peri Luna, kamu kenapa ?, sayapmu patah!."
Peri Luna tampak Lemah.
Niko berjongkok mengikuti Helin yang sudah duduk di lantai.
"Makhluk apa ini, jangan memegangnya bisa jadi dia berbahaya." Niko memperingatkan Helin.
"Dia Temanku, dia tidak berbahaya?, kenapa kamu patahkan sayapnya Nik, lihat dia seperti tidak berdaya sekarang."
"Maafkan aku, aku tidak tau, aku reflek menangkapnya ketika dia mengejutkanku keluar dari dalam tas mu." Bela Niko.
"Nona Helin," Suara Peri Luna semakin pelan. Helin berderai air mata melihat kondisi sang Peri. "Patahkan lagi sayapku yang tersisa, aku tidak tahan sakit sekali."
Helin menangis sejadinya, dia menyesal telah membawa Peri Luna bersamanya.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Bagaiman kamu bisa kembali ke dunia Peri jika kamu tidak memiliki sayap?" Bantah Helin.
"Nona, aku tidak tau akan bertahan berapa lama dalam kondisi seperti ini, jika aku menjadi seperti dirimu mungkin aku akan lebih baik."
"Apa kamu yakin peri untuk melakukan ini?" Tanya Helin dengan Isak tangisnya.
"Asal kamu berjanji akan tetap bersamaku"
Helin mengangguk.
"Ayo lakukan Nona, ini benar benar sangat sakit."
Helin mematahkan sayap Peri Luna yang tersisa. Seketika itu cahaya biru terang menyelimuti tubuh peri kecil itu. Niko menarik Helin menjauh dari makhluk itu takut jika sesuatu terjadi pada temannya karena cahaya itu.
Peri Luna berubah ukuran menjadi manusia normal dengan dandanan peri masih menempel di tubuhnya bedanya hanya tidak memiliki sayap lagi.
Helin bergegas memeluk Peri Luna, sedangkan Niko terdiam dan tidak berkedip sedikitpun terpana dengan kecantikan sang peri.
__ADS_1