AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
36. Traktiran Tuan Muda ke dua


__ADS_3

Hari ini Helin memulai aktivitas nya lagi untuk kuliah karena dia akan menghadapi semester akhir untuk nya mencapai kelulusan dan mendapat gelar sarjana.


Seperti biasa jika berada di kampus Helin akan selalu di temani oleh Niko. Dia akan menjadi teman yang setia untuk mendengar lelucon Niko. Helin juga selalu menyukai apa pun tingkah Niko yang slalu membuat nya tertawa. Karena menurut nya Niko adalah satu satunya teman yang menyenangkan.


Setelah jam kuliah mereka selesai, mereka memutuskan untuk mengobrol bersama karena sudah beberapa hari tidak bertemu.


"Helin...Berapa hari kita tidak bertemu?" Niko memulai pembicaraan.


"3 Hari." sambil mengangkat tangannya menunjukan 3 jari.


"Selama 3 hari apa kamu merindukan ku, seperti aku yang merindukanmu setiap menitnya." Niko mulai menggobal.


"Oh ya. Benarkah?.. Ku kira kamu sibuk dengan para gadis gadis cantik selama 3 hari ini"


Niko mendekatkan wajahnya kepada wajah Helin. "Kenapa kamu bisa tau"


Helin mendorong wajah Niko dengan tangannya agar menjauh dari hadapannya.


"Tentu saja aku tau. Bagaimana mungkin teman ku yang tampan ini bisa melawat kan hari harinya tanpa gadis gadis cantik. Apalagi sekarang sudah menjadi Model dan Aktor." Helin mulai menyindir.


Niko tersipu mendengarnya. "Seperti nya aku tidak bisa menyimpan rahasia darimu."


"Tentu saja... karena aku melihat mu menjadi trending di semua media sosial."


"Aku baru saja ingin memberitahumu tentang kabar gembira ini, tapi kamu sudah mengetahui nya terlebih dahulu. Jadi aku putuskan untuk mentraktir mu saja, bagaimana? apa kamu mau."


Helin memukul lengan Niko.


"Apa apaan kau ini, jika kamu benar benar berniat mentraktir ku kenapa kamu harus bertanya lagi padaku."


Niko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Benar juga fikirnya.


"Ayo pergi sekarang" ajak Niko kepada Helin.


Sesampainya mereka di tempat tujuan.


Niko bergegas mengajak Helin untuk masuk dan mempersilakan Helin duduk di salah satu meja yang berjejer dalam ruangan itu dan Niko juga duduk di depannya.


Helin memperhatikan sekelilingnya dia merasa tidak nyaman dengan suasana yang terlihat mewah itu.


"Niko, kamu yakin kita makan di sini." Tanya Helin kepada Niko.


"Kenpa, apakah kamu tidak menyukainya?"


"Bukan itu maksudku. tempat ini sangat mewah, bayarannya akan sangat mahal pastinya."


Niko menyunggingkan senyumannya mendengar kalimat Helin yang sangat polos itu.


Helin menampar lengan Niko lagi dengan wajah kesalnya.


"Bukan itu maksudku, tapi terserah kamu sajalah lagi pula kamu yang traktir." Helin mulai cemberut.


Niko kembali tertawa melihat tingkah Helin.


Tak lama menunggu beberapa pelayan mengantar banyak makanan di meja mereka karena sebelum datang Niko telah memesan makannya terlebih dahulu tanpa sepengetahuan Helin.


Raut wajah Helin berubah saat melihat banyaknya makanan yg di sajikan di atas meja mereka.


"Jangan khawatir tentang itu, Nikmati saja. Jika aku tidak bisa membayar tagihannya paling juga kita akan di minta untuk mencuci semua piring."


"Apa...??? kau sana yang melakukannya jika itu benar terjadi."

__ADS_1


Niko tidak bisa menahan tawanya lagi mendengar kalimat Helin beserta ekspresi wajahnya yang seketika berubah.


Setelah menyajikan makanan di meja mereka semua pelayan berjalan mundur beberapa langkah dan menundukan kepala mereka. Tampak seorang pelayan yang usianya sudah tidak muda menghampiri Niko.


"Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan muda ke dua ?." tanya pelayan itu.


Niko menatap pelayan itu karena memanggilnya dengan sebutan Tuan muda ke 2.


melihat tatapan itu, pelayan itu semakin menundukan kepalanya. Dia mengerti apa yang di lakukannya barusan membuat Niko tidak menyukainya. Jadi dia memundurkan diri dan pelayan lainya untuk pergi dari hadapan Niko.


Setelah para pelayan itu pergi, Helin memukul lengan Niko sekali lagi.


"Niko apa yang kau lakukan ?, kau menakuti mereka. Memangnya apa yang salah dengan mereka ?"


Niko memegang lengannya yang di tampar Helin, sebenarnya tidak ada rasa sakit cuma alasan Niko saja untuk menghindar menjawab pertanyaan Helin.


"Jangan berfikir tentang hal lain, ayo kita makan." Ajak Niko sambil menghiasi wajahnya dengan senyuman termanis yang di buat buat.


Mereka memulai makan siangnya bersama dan melupakan hal hal yang baru saja terjadi tadi.


Setelah selesai menyantap makanan, para pelayan membereskan kembali meja yang ada di hadapan mereka. Dan terlihat pelayan yang di tatap Niko tadi mendekat dan memberikan bingkisan paper bag ke pada Niko. Kemudian memundurkan diri tanpa bertanya seperti tadi.


Setelah pelayan pergi. Niko memberikan bingkisan itu kepada Helin.


"Ini hadiah untukmu karena telah menjadi temanku."


"Hadiah pertemanan, terimakasih aku mau menerima nya."


Helin terlihat senang menerima hadiah yang di berikan Niko untuknya.


"Helin, kamu tunggu sebentar di sini aku akan ke toilet sebentar."

__ADS_1


"Hem..." Helin menyahut tanpa melihat ke arah Niko karena di sibuk memperhatikan hadiah yang di berikan Niko untuknya.


__ADS_2