AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
42. Perdebatan Kecil Helin dan Peri Luna


__ADS_3

Haris dan Naura masih saja berada di tempat yang sama sejak tadi.


Haris ingin membicarakan hal yang sangat penting dengan Naura. Maka dari itu Naura bersedia menunggunya tapi sampai belasan menit telah berlalu belum juga ada kata kata yang di keluarkan Haris dari mulutnya.


"Tuan Haris, bukankah Anda mengatakan ada hal penting yang ingin di bicarakan, sekarang bicaralah." Naura merasa bosan karena Haris tak kunjung bicara.


Karena Haris tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun di depan Naura maka dia memberikan selembar kertas yang berlipat kepada Naura.


Naura Hendak membukanya tapi Haris menahannya.


"Jangan di baca dulu." Pinta Haris kepada Naura. "Kamu boleh membacanya setelah aku pergi dari sini."


Haris Hendak berlalu dari hadapan Naura tapi Naura menarik tangannya dan membuatnya duduk kembali di tempat semula.


Naura membuka kertas itu.


"I LOVE YOU" Naura membacanya dengan keras membuat Haris berkeringat dingin.


Raut wajah Naura berubah setelah membaca kertas itu.


Romantis sekali.....


tapi aku menyukai Bisma bukan dirinya, aku harus bagaimana ini. Dia sangat baik padaku dan selalu ada jika aku memerlukannya.


Jika aku menolak pasti ini terakhir kali aku melihat dirinya. Bisma juga belum tentu menyukaiku. Aku juga tidak tega mematahkan hati Haris untukku.


Naura mengalihkan pandangannya kepada Haris. Dia tersenyum lalu membentangkan kedua tangannya.


Melihat reaksi baik Naura kepadanya, Haris sangat senang dan membalas rentangan tangan itu dengan memeluknya. Haris tidak menyangka jika Naura menerima dirinya sebagai kekasih.


Naura berbisik di daun telinga Haris yang sedang memeluknya


"I love you too."


Saat mereka sedang berpelukan ada seseorang yang menghampiri mereka.


Soni yang kala itu baru sampai di tempat di mana Haris dan Naura berada, spontan membalikan badannya.


"Kenapa hari ini aku begitu sial sepagi ini."

__ADS_1


Bisma dan Helin juga baru sampai di sana karena Helin memaksa untuk menemui Soni, mereka juga menyaksikan hal yang sama dengan yang di lihat oleh Soni.


Pasangan baru itu merasa malu karena beberapa mata memandangi mereka.


terutama Naura yang merasa salah tingkah ketika melihat Bisma.


Haris tampak antusias dan terlihat sangat senang sekali.


"Malam ini aku akan mengundang kalian untuk makan malam karena aku dan Naura sudah resmi berpacaran" Dengan PeDe nya Haris mengumumkan hal itu kepada sahabat sahabatnya dan juga Helin.


Merekapun mengiyakan undangan itu dan berjanji akan menghadiri nya.


Helin dan Naura kemudian pulang bersama seperti mereka tadi pagi. Mereka menolak di antar pulang karena sudah membawa sepeda masing masing.


Sesampainya di rumah, Helin membereskan rumah seperti biasa.


Karena suasana rumah sangat sepi jadi peri Luna menghampirinya.


"Hai Nona Helin, aku ingin bertanya kepadamu?"


"Bertanyalah"


"Hem"


"Pertanyaan pertama, Kenapa Nona Naura Bersikap baik padamu sekarang.?"


"Aku tidak tau, mungkin saja dia sudah berubah."


"emm baiklah, masuk akal. Lalu pertanyaan ke dua. Apa hubunganmu dengan Boss mu?"


"Boss ?" Helin mulai berfikir


"Jangan mengelabuiku, Apa kamu benar benar menjalin hubungan dengannya ?"


Helin mengangguk.


"Nona Helin, kenapa kamu berhubungan dengannya, ?" Peri Luna mulai cemberut


"Kenapa ?, emangnya ada yang salah ?" Tanya Helin memastikan. "Dia baik dan yang pasti benar benar mencintai ku dan aku juga memiliki perasaan yang sama untuknya."

__ADS_1


"Tapi Nona Helin menurutku kamu lebih cocok dengan pria yang bersamamu di toilet tempat mu bekerja tempo hari." Peri Luna menjelaskan sambil menarik kedua telapak tangannya di pipi.. "Dia seperti seorang pagelaran dan sangat cocok denganmu yang sangat cantik."


"Maksudmu Tuan muda Leo?"


"Hem.. pangeran tampan itu, Dia sangat cocok denganmu yang cantik."


"Kau memujiku peri Luna?" Helin senyum semeringah mendengarnya. Tapi dia tersadar dengan kalimat itu. "Lalu apa kau kira aku tidak cocok dengan Mas Bisma?"


Peri Luna menggelengkan kepalanya. "kamu Dengan nya lebih terlihat seperti sepasang kakak adik."


"Peri Luna, kau mematahkan perasaan ku" Helin cemberut dan melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah.


"Nona aku mengatakan yang sebenarnya yang bisa ku lihat."


"Ya terserah kau saja. Aku akan tetap memilih Mas Bisma ku, Dan jika kau menyukai Tuan muda Leo yang sombong itu kau saja dengannya."


"Nona" Peri Luna cemberut karena tidak setuju dengan keputusan Helin.


Karena melihat Helin tidak mengajaknya bicara lagi, peri Luna memulai pembicaraan lagi.


"Nona Helin," Peri Luna terbang mendekati Helin.


"Apa?" Jawab Helin singkat.


"Jika suatu saat nanti aku berubah menjadi manusia seperti mu, apa kamu akan tetep menjadi temanku.?"


Helin merasa antusias dengan kalimat itu dan berhenti sejenak melanjutkan pekerjaannya nya. Dia fokus menghadap sang Peri.


"Apa kamu bisa berubah menjadi manusia seperti ku?"


Peri Luna mengangguk.


"Bagaimana caranya?" Tanya Helin penasaran.


"Itu sangat mudah, tapi resikonya sangat besar. Jaminannya kekuatanku akan lenyap seluruhnya."


"Jika begitu jangan lakukan, Jika seluruh kekuatan mu lenyap kau tidak akan bisa pulang ke Negri Perimu.


Peri Luna mengangguk.

__ADS_1


Sebenarnya Peri Luna sangat bosan, di dunia manusia dia tidak memiliki teman selain Helin. Dia hidup di dalam persembunyian dalam pengasingan menunggu hukuman yang di buatnya di Negri Peri berakhir agar dia bisa pulang.


__ADS_2