
Helin menatap foto sepasang pengantin di foto itu.
Apa mungkin ini ayah dan ibuku?, Tapi Ibu Suti bilang dia tidak menyimpan apapun tentang orangtua kandungku. Apa mungkin aku harus bertanya pada bapak ya, ku rasa bapak bisa menjawab semua ini.
Helin bergegas menuju pintu dan coba membukanya tapi usahanya tidak berhasil karena pintu di kunci dari luar.
"Peri Luna, kamu bisa buka ini ?" Pinta Helin.
"Tentu saja Nona," Peri Luna memutar tongkatnya dan mengarahkan ke pintu. "Buka lah Nona pintunya sudah tidak terkunci lagi."
Helin memegang handel pintu itu tapi dia masih ragu untuk memutarnya.
"Kenapa Nona Helin ?" Tanya Peri Luna karena Helin tidak juga membuka pintu. "Oh aku tau apa yang sedang kamu fikirkan, dua nenek sihir itu kan ?, tenang saja aku sudah mengurus mereka jadi jangan ragu lagi dengan langkahmu."
"Apa yang kamu lakukan pada ibuku peri Luna, jangan macam macam padanya." Helin menatap Peri Luna penuh curiga.
"Aku hanya membuatnya tertidur sebentar, jangan menatapku seperti itu Nona, kamu menakutiku."
Nona, anda benar benar sangat bodoh. Mereka sangat jahat padamu tapi kamu tidak ingin mereka mendapat masalah. Mulia sekali hatimu..jika kamu terus seperti ini maka kebaikanmu yang akan membunuhmu sendiri. Em tidak akan, selama aku bersamamu tidak akan ada yang bisa menyakitimu bahkan dirimu sendiri Nona.
Helin membuka pintu dengan membawa foto yang di dapatnya tadi, dia mencari Pak Wanto untuk menanyakan seperti apa orangtuanya.
Pak Wanto masih berada di tempatnya tadi menunggu Helin menyelesaikan hukumannya.
Hati Helin tersentak melihat Pak Wanto masih di tempat yang sama sebelum dia di bawa ke dalam gudang. Helin mengurungkan niatnya karena Pak Wanto tampak lelah, selain itu malam juga semakin larut.
Helin menghampiri tubuh lemah yang sedang berada di kursi roda itu. "Pak, sekarang sudah sangat larut, kenapa masih di sini ?, ayo istirahat." Suara lembut Helin membuat Pak Wanto sadar dari lamunannya.
"Helin, kamu sudah menyelesaikan hukuman dari ibumu?"
__ADS_1
Helin mengangguk
Pak Wanto menarik nafasnya pelan, "Maafkan Bapak Helin,"
Mendengar kalimat dari Pak Wanto, Helin bergegas berlutut di hadapan Pak Wanto dan memegang tangannya.
"Jangan berkata seperti itu Pak, Helin baik baik saja, untuk apa meminta maaf"
Pak Wanto sangat terharu dengan perilaku anak angkatnya itu yang sangat patuh dan menyayanginya.
Pak Wanto mengambil benda yang ada di tangan Helin di atas pangkuannya.
"Nak, apa ini?"
Pria tua itu membalikan posisi foto yang terbalik di atas pangkuannya.
"Tuan Bayu dan nyonya Ranti"
"Orang tua kandungmu Nak," Sambil mengusap kepala Helin, kemudian Pak Wanto menceritakan tragedi 23 tahun lalu saat dirinya dilahirkan.
Helin tertunduk mendengar cerita itu, Hatinya sangat bergebu dengan kesedihan yang mendalam meratapi kemalangan nasibnya yang di tinggalkan kedua orang tuanya saat dia lahir ke dunia, Tapi dia mencoba tetap tegar dihadapan Pak Wanto.
Kemudian Helin menujukan dua buah foto lagi kepada pak Wanto.
Pak Wanto melihat foto pertama yaitu seorang Wanita hamil duduk di sebuah kursi.
"Ini ibumu saat sedang mengandungmu Nak, lihatlah dia terlihat bahagia dengan senyuman yang menghiasi wajahnya saat mengandungmu."
Helin ikut tersenyum dengan kalimat Pak Wanto sambil menatap foto itu.
__ADS_1
Kemudian Pak Wanto melihat foto berikutnya.
Dua wanita yang sangat mirip.
"Ku rasa ini saudara ibumu, mereka sangat mirip atau mungkin mereka saudara kembar" Pak Wanto mengutarakan pendapatnya karena dia tidak mengetahui keluarga dari nyonya Ranti maupun Pak Bayu yang dulu merupakan majikannya.
"Apa bapak mengetahui saudara ibu yang ini Pak ?" Sambil menunjuk foto di tangan Pak Wanto.
Pak Wanto menggelengkan kepalanya,
Helin terlihat lesu dengan jawaban Pak Wanto tapi dia tidak memaksa.
Padahal harapannya dia ingin mengetahui informasi dari Pak Wanto tentang keluarganya yang tersisa.
Setelah perbincangan mereka selesai, Helin membawa Pak Wanto dengan mendorong kursi rodanya untuk mengantar Pak Wanto ke kamarnya.
"Bapak istirahatlah, aku juga akan beristirahat sekarang."
Pak Wanto mengangguk mengiyakan perintah Helin.
Helin meninggalkan Pak Wanto dan kembali ke kamarnya.
Helin menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur sambil memeluk foto foto yang di dapatnya tadi, sepertinya ada kebahagian sendiri yang di dapatnya dari hukuman ibu angkat nya itu.
"Ibu, ayah aku merindukan kalian, tunggulah besok aku akan berkunjung"
Helin sangat senang karena dia di beritahu oleh Pak Wanto alamat makam orang tuanya jadi dia bisa berkunjung kapan saja jika dia merindukan mereka.
Peri Luna dari tadi memperhatikan Helin yang ekspresi nya berubah ubah.
__ADS_1
Apa manusia selalu seperti itu, apa hanya dia saja yang seperti itu, bahkan di dunia peri hal seperti itu di namakan tidak waras. Tersenyum, bersedih dan marah di waktu yang bersamaan. Peri Luna menggelengkan kepalanya.