AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
19. Menuju Rumah Sakit


__ADS_3

Leo termenung sambil memegang pulpen di meja kantornya.


Leo teringat kata kata terakhir yang di kumandangkan Helin.


"Simpan kata maafmu, dengan kata maafmu tidak membuat lukanya sembuh kembali"


Leo tersenyum sendiri sambil bersandar di kursinya. dia tersenyum bukan karena kata kata Helin lucu untuknya tapi kata kata itu sama seperti yang pernah di ucapkannya di awal dia bertemu dengan Helin di sebuah cafe. Dia tidak menyangka jika kata yang di ucapkannya bisa di copy paste oleh Helin dan di kembalikan untuknya.


***


Helin kembali kerumahnya dengan wajah kesal.


Setelah masuk ke kamar nya dia menemukan Peri Luna masih tidur dengan nyenyak di bawah saputangan miliknya.


Karena tidak ingin mengganggu tidur peri Luna, Helin pergi ke dapur karena dia juga merasa sedikit lapar.


Helin melangkahkan kaki nya dengan lesu kearah dapur, setelah sampai di dapur Helin terkejut melihat sosok tua Pak Wanto terbaring di lantai. Helin setengah berlari menghampiri tubuh tua itu.


"Bapak,... apa yang terjadi"

__ADS_1


Helin berinisiatif akan membawa pak Wanto kerumah sakit. Dia berlari menuju kamarnya mengambil Hp dan langsung memesan taxi online.


Setelah 10 menit menunggu, taxi online pun tiba di depan rumah Helin. Karena dia merasa tidak akan sanggup mengangkat tubuh Pak Wanto sendirian Helin kemudian meminta bantuan sang supir taxi untuk membantu mengangkat ayahnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Helin menangis sambil memegang tangan Pak Wanto yang berada di pangkuannya.


Helin khawatir jika sesuatu yang tak di inginkan akan terjadi pada Pak Wanto. Karena takut dirinya akan di persalahkan oleh Bu Suti dan Naura, Helin menghubungi Bu Suti dan mengatakan apa yang terjadi pada Pak Wanto dan membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya Helin di rumah sakit, Pak Wanto di larikan ke UGD dan langsung di tangani dokter.


Helin menunggu di luar ruangan sementara Dokter sedang menangani Pak Wanto.


"Bagiamana keadaannya dokter?" tanya Helin


Dokter itu mengajak Helin ke ruangannya untuk menjelaskan segala sesuatu nya kepada Helin.


Helin mengikuti langkah dokter dan ikut masuk ke ruangannya. Helin di persilakan duduk, setelah itu Dokter itu pun menjelaskan semuanya tentang Pak Wanto kepada Helin.


Mendengar penjelasan Dokter, Helin menitikan air matanya, dia sangat bersedih dengan apa yang menimpa pak Wanto. Walaupun Pak Wanto bukan ayah kandungnya, tapi Pak Wanto bersikap sangat baik kepadanya.

__ADS_1


Melihat Helin menangis, Sang Dokter memberikan sebuah tisu untuk mengelap air matanya.


Helin menerima tisu dan langsung mengusap ke wajahnya.


Dokter melihat luka yang belum kering di tangan Helin ketika dia mengangkat tangannya untuk mengelap airmatanya menggunakan tisu.


"Nona, tangan anda terluka" Dokter memberi tahu.


Helin mengangguk


"Tunggu sebentar biar saya obati"


Dokter itu membuka laci mejanya dan mengambil sebuah kotak.


"Berikan tanganmu" pinta Dokter itu.


Helin menurut memberikan tangannya untuk di obati. Sambil tangannya di obati Dokter, Helin membaca tulisan yang ada di atas meja, 'DOKTER HADI'.


Setelah tangannya selesai di obati, Helin mengucapkan terimakasih dan berpamitan untuk keluar dari ruangan sang dokter.

__ADS_1


Dokter muda itu mempersilakan Helin keluar dari ruangannya dengan mengantar hingga ke pintu dan membukakan pintu untuk Helin.


__ADS_2