AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
72. Aku Memaksa


__ADS_3

Hari ini Helin pergi ke restoran untuk kembali bekerja.


Pada saat dia datang belum sempat melewati pintu seorang menghadangnya.


"Maaf Nona Helin, anda tidak diperbolehkan masuk ke dalam restoran ini."


Helin merasa Heran dengan di larangnya dia untuk masuk. "Kenapa tidak boleh? hari ini jadwal ku untuk bekerja!."


"Maaf Nona, tapi ini perintah." Penjaga itu memberikan dua buah amplop kepada Helin.


Helin membolak balik dua ampalop itu, "Ini apa?" amplop pertama sangat tipis dan amplop yang satunya lagi sangat tebal.


Helin hendak membuka amplop itu tapi penjaga menahannya dan menyarankan agar lebih baik membuka amplop itu ketika kembali kerumah saja.


Helin mengiyakan perkataan penjaga. Sebelumya Helin tidak pernah melihat penjaga itu di Restoran milik Bisma. Sepertinya dia seorang asisten pribadi yang baru saja bekerja di sana.


Sebenarnya Helin penasaran apa isi dari dua amplop itu, tapi dia menahan nafsunya untuk membuka kedua amplop hingga dia kembali kekosananya.


Kali ini Helin pulang menggunakan taksi agar dia lebih cepat untuk samapai dan tidak berdesak desakan.


Sayang sekali waktu yang di prediksi Helin jauh meleset, Helin memilih taksi agar cepat samapi tapi nyatanya taksi tersebut berhenti di tengah jalan karena suatu kendala.


Supir Taksi meminta maaf karena tidak bisa mengantar Helin untuk sampai ke tempat tujuan. Supir itu juga menyarankan agar Helin menunggu sebentar sementara dia menghubungi teman sesama taksi untuk melanjutkan mengantar Helin sampai ke tempat tujuan.


Helin menyetujui ide tersebut dari pada dia bingung untuk mencari tumpangan selanjutnya lebih baik dia menunggu saja.


Helin menunggu di sebuah cafe yang tidak jauh dari sana. Setelah menunggu beberapa belas menit barulah taksi pengganti datang menjemputnya.

__ADS_1


Pada Saat Helin ingin keluar dari kafe, Dia melihat Leo dan Bisma sedang bersama di tempat itu juga.


Helin hanya melihat sebentar lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam taksi.


Helin melanjutkan kembali perjalanan pulang.


***


Peri Luna terus melatih kekuatanya, dia terus mencoba menggerakkan sesuatu dari jarak jauh dengan ujung telunjuknya.


Peri Luna terus memutar benda yang dia angkat dari jarak jauh. "Seperti ini lebih baik..."


"Bruuuukk..." Benda yang di angkat Peri Luna jatuh saat dia sedang mengontrol dengan jari telunjuknya.


Peri Luna mencoba kembali menggerakkan jari telunjuknya tapi benda tersebut tidak bisa dia kontrol seperti sebelumnya bahkan tidak bergerak sama sekali.


Peri Luna menoleh saat suara tawa kecil terdengar di balik pintu kamar yang sedikit terbuka.


Peri Luna membuang nafas dengan kasar, "Pantas saja aku tidak bisa melakukanya. ternyata dia ada di sini." Peri Luna menemukan Niko berada di balik pintu sedang menertawakan dirinya.


Peri Luna membuka pintu kamar selebar mungkin. "Apa yang kau tertawaan? memangnya ada yang lucu?" Tanyanya dengan bibir memonyong.


"Tidak." Niko masuk kedalam kamar dan menemukan sesuatu. "Kau ingin mengangkat ini kan?" Tanya Niko sambil menunjuk pot bunga yang berada di lantai. "Begini cara mengangkatnya" Niko memegang pot bunga itu lalu mengangkatnya.


"Terus saja mengejekku"


Niko meletakan kembali pot bunga ke atas nakas. Niko memandangi Peri Luna yang jelas kesal terhadapnya.

__ADS_1


Peri Luna membalikan badan menghindari tatapan mata Niko.


Niko mendekati Peri Luna lalu memeluknya dari belakang.


"Deeek" Jantung Peri Luna seakakan berdetak lebih cepat saat Niko memeluknya. "Kenapa dia memelukku?" Tanya Peri Luna dalam hati.


Niko menyelipkan rambut di daun telinga Peri Luna membuat Peri Luna merasa merinding.


"Aku ingin kau tetap di sini!. Lupakan masalalumu dan hiduplah bersamaku."


Peri Luna melepaskan pelukan Niko dan berbalik badan, kini mereka berdua saling berhadap hadapan.


"Apa kau yakin dengan kata katamu?" Tanya Peri Luna memastikan.


"Aku hanya seorang peri, aku hanya makhluk fana sedangangkan kau adalah manusia, makhkluk yang paling sempurna di muka bumi. Kita berasal dari dunia berbeda bagaimana mungkin kita bisa hidup bersama?" Peri Luna memberanikan diri menatap mata Niko.


"Aku tidak perduli dari mana asalmu. Aku juga tidak melihat sosok peri atau apapun itu dari dalam dirimu, yang ku lihat kau adalah Lunaku. Walaupun kita berasal dari dunia yang berbeda tapi kenyataannya, Kau....Aku.... kita sama sama berdiri di sini, itu artinya tidak ada pembatas di antara kita." Niko meyakinkan.


"Aku....."


"Aku tidak ingin kau menolak, Aku memaksamu." Niko memotong kalimat yang baru keluar dari Peri Luna. Kemudian mendaratkan ciuman lembut di pipi Sang Peri.


"Berjanjilah jangan gunakan lagi kekuatanmu." Seulas senyuman terukir di wajah Niko kemudian dia keluar dari kamar meninggalkan Peri Luna yang masih mematung.


Peri Luna melekapkan kedua tangannya di pipi. "Apakah ini memang takdirku untuk terperangkap di dunia manusia selama lamanya."


Peri Luna mendengus pelan,"Ku rasa ini memang takdirku, Selain takdir hidup ini juga menjadi takdir cintaku."

__ADS_1


__ADS_2