
Mentari pagi masih belum menampakkan diri di kala kakak beradik itu sedang menikmati kopi dan roti bersama.
Rasanya sudah lama sekali mereka tidak melakukan itu, mungkin rasa rindu di antara mereka tidak bisa di ungkapkan kepada satu sama lain.
"Kakak, Nikmati kopimu selagi masih hangat. Jika sudah dingin rasanya sudah tidak enak lagi."
Leo mengangguk, dan mengambil kopi miliknya lalu menyeruput isi nya. "Aah,.. seingatku terakhir kali kita seperti ini ketika di hari pertama ayah menikahi ibu Rigya."
"Ya benar, itu juga hari pertama aku pindah ke tempat ini." Pikiran Niko kembali ke masalalu ketika setelah mengopi bersama kakak dan ayahnya dia memproklamasikan dirinya keluar dari rumah utama dan memilih sendiri jalan hidupnya.
Ceritanya sangat panjang. Singkatnya Niko pergi meninggalkan rumah utama karena marah jika sang kakak memihak kepada sang ayah untuk menyetujui pernikahan dengan ibu tirinya. Niko tidak menyetujui itu karena dia mengetahui tujuan utama sang ibu tiri menikahi ayahnya.
Lamunan Niko buyar ketika seseorang keluar dari kamar dan menyapa mereka.
"Selamat pagi." Sapaan itu sontak membuat Leo sangat marah setelah melihatnya.
"Niko, apa yang dia lakukan? yang benar saja. Itu kemejaku, mengapa dia berani memakainya."
Peri Luna mengatupkan kedua tangannya di bagian mulut, Dia memperhatikan baju kemeja berwarna putih dengan lengan panjang yang di pakainya menutupi seluruh badan sampai kebagian paha. Baju kemeja yang berukuran besar berada di tubuhnya yang mungil.
Dia mengerti jika Leo marah padanya karena memaki kemejanya tanpa izin.
"Maafkan aku, Hanya ini yang bisa ku pakai karena bajuku yang lama sudah sangat basah aku mandi menggunakannya tadi."
Leo membalikan badannya, tidak ingin melihat Peri Luna yang pakaiannya sangat minim menggunakan kemejanya.
Niko dengan sigap berlari ke arah Peri Luna dan memaksanya masuk kembali ke dalam kamar. Dia berbisik di telinga Sang Peri.
"Aku akan memberikanmu banyak pakaian jadi kamu tidak boleh memakai baju ini lagi, ini tidak cocok untuk mu."
Peri Luna mengangguk, dan segera ingin melepas kemeja yang di pakainya.
"Eitt....eet... Jangan melepasnya sekarang" Niko menahan tangan Peri Luna yang ingin melepas pakainya. "Sekarang kamu tetap menggunakan baju ini, kamu bisa mengganti nya setelah aku membawakan gantinya untukmu." Jelas Niko kepada Peri Luna.
__ADS_1
Peri Luna mengerutkan dahinya karena merasa bingung.
Heran dengan pola pikir manusia bumi, tadi tidak memperbolehkan memakai baju ini dan sekarang ketika ingin melepas nya mengatakan lagi tetap memakai baju ini. Peri Luna menggelengkan kepalanya setelah Niko keluar dari kamar. Sebelumnya Niko juga memperingatkan dirinya agar tetap di kamar sebelum dia meminta untuk keluar Peri Luna tidak boleh keluar dari kamar dengan pakaian seperti itu.
Helin datang membawa beberapa baju untuk di berikan kepada Peri Luna.
Dia sudah duduk di kursi tamu karena Leo yang membukakan pintu untuknya.
Selama beberapa menit menunggu tidak ada sepatah katapun di antara mereka yang bicara. Ruangan itu sunyi senyap hanya langkah Niko yang terdengar mendekati Helin.
Helin segera Berdiri dan memberikan barang bawaannya kepada Niko agar di berikan kepada Peri Luna.
"Kamu sangat mengerti Helin," Niko membuka paperbag yang berada di tanganya. "Ini tidak akan cukup, ku rasa kita harus berbelanja lagi untuknya."
Ekor mata Leo memperhatikan Adiknya dan Helin, tapi dia tidak mencampuri urusan mereka.
Niko mendekati Leo setelah berdiskusi dengan Helin.
"Kakak, aku titip Luna. Aku akan keluar sebentar."
Niko dan Helin pergi bersama setelah memberikan barang barang tadi kepada Peri Luna.
Mau kemana mereka.
Leo bangkit dari tempat duduknya dan beralih berdiri di depan jendela kaca dengan pemandangan kota yang tampak indah dari ketinggian.
Peri Luna keluar dari kamar dengan terburu buru, tapi kali ini pakaian yang dikenakannya lebih rapi dengan mini dress yang membalut tubuh mungilnya.
Di mana Nona Helin, tadi aku mendengar suaranya.
Pandangan Peri Luna kini tertuju pada seseorang yang berdiri menghadap jendela, karena hanya dia saja yang berada di sana.
Dia pria yang bersama Nona Helin tempo hari di toilet tempat Nona bekerja kan. Peri Luna ingin memastikan lebih dekat.
__ADS_1
Wah benar, memang dia orangnya. Dia sangat tampan. Peri Luna menaruh kedua tangannya di dagu karena terkagum oleh Leo.
Leo tersadar seseorang berada di belakangnya. Leo memperhatikan Peri Luna dari ujung kaki sampai ujung kepala. Peri Luna memang sangat cantik bahkan manis wajahnya jauh di bandingkan Helin.
"Ada apa" Tanya Leo karena Peri Luna tidak berkedip memperhatikan dirinya.
Peri Luna tersadar dari lamunan setelah Leo bersuara.
"Dimana Helin dan Niko" Tanyanya formal.
"Keluar"
"Keluar kemana?"
Mata Leo memandangi Peri Luna Lekat karena masih melanjutkan pertanyaannya.
Peri Luna tidak mengerti dengan tatapan tidak suka yang menghujam ke arahnya. Dia tetap saja bertubi tubi melontarkan pertanyaan.
"Sangat cerewet, Siapa namamu?"
"Namaku Luna, aku sudah menjawab pertanyaanmu sekarang giliran mu yang menjawab pertanyaan ku."
Leo tidak menanggapi atau menjawab Peri Luna, dia memilih meninggalkan Sang Peri dan merebahkan badannya di atas kursi tamu sambil memejamkan mata dengan memangku kedua belah tangannya di bawah kepala.
Peri Luna memajukan bibirnya karena kesal melihat Leo tidak menanggapi dirinya.
"Pantas saja Nona Helin tidak menyukainya dan lebih memilih Tuan Bisma, ternyata sikap nya seperti ini."
Leo membuka matanya setelah mendengar kalimat yang di ucapkan Peri Luna.
"Apa yang kau katakan barusan?" Tanya Leo agar Peri Luna mengulangi kalimatnya lagi.
"Ku rasa kamu sudah mendengarnya."
__ADS_1
Peri Luna membalikan badannya dan berniat pergi.
Jangan lupa dukungannya nya, Like dan tips tolong di tinggalkan. Terimakasih.