
Naura terlihat anggun dengan balutan mini dress warna hijau yang membalut dirinya. Tapi dia merasa tidak percaya diri dengan apa yang di pakainya.
Dia ingin bertanya pada seseorang apakah dress yang dia gunakan cocok untuknya.
Naura keluar dari kamarnya hendak menemui bibinya. Tapi setelah melangkah keluar dari pintu kamarnya dia berubah pikiran.
"Bagaimana bisa aku meminta penilaian dari Tante, dia kan udah tua bagaimana mungkin dia bisa menilai penampilan anak muda, biar pun aku menggunakan baju nenek nenek pasti dia tetap mengatakan kalau aku sangat cantik dan sangat cocok menggunakan nya."
Naura memperagakan gaya tantenya ketika saat sedang memujinya dengan gaya alay yang di buat buat oleh Naura.
Setelah itu Naura mengubah haluannya untuk melangkah ke kamar Helin. Pikirnya penilaian Helin mungkin lebih baik untuk di dengarnya.
Naura membuka kamar Helin berlahan setelah mengetuknya.
Helin terlihat sudah siap untuk pergi bekerja.
"Naura.!!!" Helin merasa sedikit terkejut dengan kedatangan Naura di kamarnya karena Naura tidak pernah masuk dengan sopan di kamarnya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.
Naura tersenyum ke arah Helin sambil menggoyang goyangkan badan nya dengan ke dua tangan di belakang.
Helin yang sedang memperhatikan Naura dengan tingkahnya yang menurut Helin tidak biasa merasa aneh. Dia mengerutkan keningnya. "Ada apa denganmu?, apa kamu baik baik saja.!"
"Hantu apa yang sedang merasuki gadis ini, kenapa tingkahnya sangat berbeda dari biasanya" tanya Helin dalam hati.
Naura tidak menjawab pertanyaan Helin, Dia malah berjalan mendekatinya sambil memasang senyum lalu berhenti tepat di depan Helin. Naura berputar di hadapan Helin dan membentangkan sedikit tangannya.
"Apa dia sedang sakit? atau dia benar benar sedang kerasukan Hantu". Helin masih bertanya tanya dalam hati dengan tingkah Naura di hadapannya.
"Bagaimana menurutmu? apa aku terlihat cantik mengunakan dress ini?" Senyuman yang menghias wajahnya masih saja terukir dari tadi.
Helin membuka sedikit mulutnya menunjukan ekspresi sedikit terkejut. Dia merasa tidak percaya jika Naura meminta penilaian darinya.
Tanpa mengeluarkan kata katanya Helin mengangkat tangan dan menunjukan jari jempol ke arah Naura.
__ADS_1
Melihat hal itu, Naura tertawa dengan menutup sedikit mulut dengan tangannya.
"Sudah ku duga, aku memang terlihat cantik mengunakan ini. Terimakasih atas pujianmu Helin."
Naura lalu membalikan badannya dan keluar dari kamar Helin.
Helin masih merasa terheran heran dengan tingkah Naura tadi hingga ia tersadar bahwa dia harus segera pergi bekerja.
*****
Handphone yang berada di atas meja bergetar membuat pemiliknya menyebar benda tersebut dan menggeser layarnya.
Selamat malam Tuan Haris...
Sebagai ucapan terimakasih, saya mengundang anda di Bisma's resto pada pukul 19.00 WIB untuk makan malam.---Naura.
"Ternyata gadis itu mengingat janjinya"
Haris melihat jam di tangannya masih menunjukan pukul 16.30 WIB, "Masih ada sedikit waktu untuk bersiap.
Haris meletakan benda pipih itu di dekat daun telinganya setelah menggeser icon hijau dari layarnya.
"Soni ayo bermain bersama ku"
"maaf sobat, aku sedang sibuk malam ini jadi aku tidak bisa bermain bersama mu" jawab Soni menolak ajakan dari sahabatnya.
"Ya baiklah kalau begitu, aku mengajak yang lain saja"
Soni menutup telfonnya setelah itu. dia lalu pergi untuk bersiap memenuhi undangan dari wanita yang kemarin di tolongnya
*******
Haris duduk di di meja sebuah restoran yang di kenalnya tak lain adalah milik sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Haris berulangkali melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Apa aku terlalu dini berada di tempat ini, bukankah dia menuliskan pukul 19.00 WIB tadi, sekarang sudah lewat 15 menit"
plaaaaak.
Sebuah tamparan mendarat di bahu Haris, spontan dia menoleh ke arah seseorang yang menampar bahunya.
"Kau.... mengejutkan ku saja" Haris membuang tangan sahabatnya yang masih menempel di bahunya.
"aku melihatmu dari kejauhan, kau terlihat gelisah, apa kau sedang menunggu seseorang? Dari tadi kau melihat jam tanganmu saja setiap menitnya.. kau sedang janjian ya."
"Bukan urusanmu... pergi dari sini jangan mengangguku"
"Ini restoran milikku, bagaimana mungkin kau mengusirku dari tempatku sendiri."
"Restoran mu tempat umum Bisma semua orang bebas berkunjung"
"Emm.. memang benar yang kau katakan tapi masalahnya meja yang sedang kau duduki ini telah di pesan oleh seseorang, jadi Tuan Haris yang terhormat di mohon untuk berpindah di meja lain saja."
"Seseorang itu memesan meja untuk ku di sini, jadi cepat kau pergi dari sini jangan mengganggu"
Tak berapa lama terlihat Naura memasuki restoran. Haris yang melihatnya cepat cepat mendorong Bisma agar pergi dari mejanya.
Bisma menggelengkan kepalanya melihat prilaku sahabat nya yang tampak grogi, tapi Bisma menuruti sahabatnya untuk pergi dari mejanya.
Naura sampai di meja yang Haris duduki, Dia menyapa Haris dengan senyuman manisnya. Haris juga mempersilahkan Naura untuk duduk di kursi tepat di depannya.
"Maaf Tuan Haris, saya terlambat dari waktu yang telah saya janjikan"
"tidak apa apa Nona Naura, saya juga baru datang jadi tidak terlalu lama untuk menunggu."
"Terimakasih Tuan Haris, anda baik sekali"
__ADS_1
Naura memanggil pelayan untuk di minta menu yang akan di pesannya.
Sambil menunggu makanan mereka datang Naura dan Haris mengobrol agar suasana mereka tidak canggung satu sama lain.