AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
40. Cinta Pertama Helin


__ADS_3

Helin baru sampai di tempat kerja. Dia di antar oleh sekertaris Jimi yang membosankan menurutnya.


Sekretaris itu menjengkelkan sekali sama seperti tuan mudanya. Tapi dia masih terlihat keren walaupun usianya sudah berumur sekali. ku tebak usianya mungkin 2x lipat dari Usiaku. Usia ku 23, jadi dia 46.


uhhhh walupun begitu dia tetap menjengkelkan, susah sekali mencari informasi darinya, dia tidak mau membocorkan sedikitpun tentang tuan mudanya yang sombong itu. Dasar sekretaris Jimi itu, sepanjang perjalanan banyak sekali pertanyaan yang ku berikan tapi hanya satu pertanyaan yang dia jawab yaitu ketika aku bertanya namanya saja.


Helin tersadar dari lamunannya ketika seseorang menyentuh pundaknya.


"sekertaris Jimi." Helin reflek menyebut nama itu karena terkejut seseorang menyentuh bahunya.


"Sekretaris Jimi ?"


"Bukan, bukan itu, maksud ku..."


"Sayang sekali, sebenarnya aku ingin memberimu bunga ini tapi kamu malah menyebut nama pria lain."


"Mas Bisma, aku tadi hanya kaget. Aku mau bunga ini." Helin merampas bunga yang di pegang Bisma.


Helin tersadar dengan apa yang di lakukannya. Di memperhatikan bunga rampasannya itu.


"Mas Bisma, bunga ini benar benar untukku?"


Bisma mengangguk


"Helin mengambil sebuah kartu yang terselip di bunga itu. Dia membuka dan membacanya dengan pelan.


"I LOVE YOU"


"Mas Bisma ini..."


Belum selesai Helin menyelesaikan kalimatnya, Bisma langsung memotong.


"Apa kamu menerimanya?"


Helin memperhatikan kertas itu lekat lekat

__ADS_1


Mas Bisma selalu bersikap baik kepadaku, sebenarnya aku juga menyukainya di awal bertemu tapi aku merasa tidak pantas karena aku hanya pelayan. Apakah ini nyata?, Ataukah aku sedang bermimpi.


"Helin." Bisma mengusap tangannya ke wajah Helin dari kejauhan mencoba menyadarkan Helin dari lamunannya.


Helin tersadar, dia tersenyum dan mengangguk.


Melihat itu, Bisma sangat antusias dan merasa senang sekali karena telah menjadikan Helin sebagai pacarnya.


Bisma jongkok dan meraih tangan Helin lalu mencium tangan itu.


Sontak saja pemandangan itu memancing banyak mata bahkan para pelayan lainya berhamburan menghampiri mereka dan bersorak dengan tepuk tangan. Mereka semua memberikan selamat kepada Bisma dan Helin. Mereka seperti sedang bersanding di pelaminan yang di penuhi dengan tamu undangan yang menyalami mereka untuk memberikan ucapan selamat.


Setelah itu mereka membubarkan diri untuk melanjutkan pekerjaannya mereka masing masing begitu juga dengan Helin dan Bisma.


***


Helin sudah berada di rumahnya setelah di antar pulang oleh Bisma.


Dia langsung menuju kamarnya.


Dia kaget ketika membuka pintu kamar karena di hujani ribuan cahaya yang sangat indah. Helin buru buru menutup pintu karena dia tau siapa yang membuatnya.


Helin memutar pelan tubuhnya menadah cahaya cahaya itu yang berjatuhan.


"Dimana dirimu ?, kenapa tidak muncul di hadapanku ?, Apa kau tidak merindukan ku ?"


Setelah kalimat yang di ucapkan Helin, Cahaya cahaya itu berkumpul menjadi satu dan membentuk lingkaran yang sangat indah dengan cahaya biru gemerlap lalu makin lama semakin redup sehingga cahaya terakhir nya membentuk sesuatu. Sesuatu yang di kenali Helin.


Helin menyambar benda itu dan memeluknya.


"Peri Lonceng, aku merindukanmu"


"Nona Helin, lepaskan aku. Aku bisa mati jika kau perlakukan seperti ini"


Helin tidak menggubris kata kata itu bahkan dia memeluknya semakin erat.

__ADS_1


Karena Helin tidak menghiraukan nya jadi Peri Luna berhenti berontak dan akhirnya menikmati pelukan Helin juga.


"Aku juga merindukanmu Nona"


Helin melepaskan pelukannya dengan Peri Luna.


"Kenapa kau tidur lama sekali, ku kira kau tidak akan bangun lagi setelahnya."


"Nona Helin, Kata katamu..." Peri Luna cemberut dan menggembungkan ke dua pipinya itu.


"Maaf maaf, aku hanya bercanda. Kau tau itu yang ku rindukan darimu." Helin mencubit pipi peri Luna yang sedang cemberut.


"Nona, sakit." Peri Luna memegangi pipinya yang telah di cubit Helin. "Jika terus begini lebih baik aku tidur saja lagi."


"Jangan marah, aku hanya bercanda. Aku tidak akan melakukan nya lagi. Aku berjanji" Helin sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, aku memaafkanmu." Peri Luna mulai berekasi kembali.


"Iya, itu pun jika aku tidak khilaf"


Peri Luna kembali cemberut dan melipat kedua tangannya di dada.


Melihat Peri Luna cemberut, Helin juga ikut cemberut. Suasana di kamar itu menjadi Hening karena keduanya saling cemberut.


"Nona Helin.."


Helin tidak menjawab panggilan dari peri Luna.


Peri Luna menarik nafas panjang dan membuangnya dengan pelan.


"Baiklah baiklah aku yang mengalah, kau bisa mencubit pipiku semaumu"


Helin tertawa mendengar pertanyaan dari peri Luna dan memeluk makhluk itu kembali.


"Aku menyayangimu"

__ADS_1


"Aku juga" jawab Peri Luna.


Helin terlelap dalam tidurnya, begitu juga Peri Luna juga ikut tertidur di bantal sampingnya.


__ADS_2