
Niko pulang sangat terlambat hari ini membuat Helin lama menunggu. Sudah sangat malam belum juga kembali.
Luna sudah tidur sangat nyenyak dari tadi, Helin tidak meninggalkannya untuk pulang karena tidak bisa meninggalkan Luna sendiri. Dia tau, sejak menjadi manusia, Luna sangat konyol, tingkahnya seperti balita yang ingin serba tau tentang hal hal baru. Helin takut jika itu bisa membahayakan Sang Peri.
Suara bel berbunyi beberapa kali. Helin segera menghampiri pintu berharap Niko yang datang agar dirinya segera cepat pulang karena satu hari penuh dia berada di sana menemani Luna.
"Kenapa baru pul....." Kalimat Helin terputus karena bukan Niko yang datang.
Leo berdiri di depan pintu dan berniat masuk setelah Helin membuka pintu. Leo menerobos tubuh mungil Helin yang menghalangi pintu masuk.
Helin termundur beberapa langkah karena tangan Leo meminggirkan dirinya untuk melewati pintu.
Dasar tidak sopan, kenapa harus mendorong? kan bisa bicara baik baik jika ingin lewat. Ingin sekali aku memukulnya!!!
Leo menghentikan langkahnya sambil mengendurkan ikatan dasi yang melingkar di lehernya.
"Kenapa belum pulang? Tidak baik wanita bermalam di kediaman pria!." Kata katanya dia tujukan kepada Helin yang berdiri di ambang pintu di belakangnya.
Dia benar benar ingin mengusirku secepatnya. Aku tau kau tidak menyukaiku. Tapi apa kau tau? Aku juga tidak suka melihatmu berlama lama di mataku. Jika bukan karena Peri Luna ada di dalam aku sudah pergi dari tadi.
"Aku akan pulang setelah Niko kembali. Luna ada di dalam, jadi aku tidak bisa meninggalkannya sendiri."
"Aku sudah ada di sini, biar aku yang menjaganya sampai Niko kembali. Kau boleh pulang."
Helin semakin kesal karena Leo terus mengusirnya, satu pikiran buruk melintas di benaknya. Helin berfikir Leo akan melakukan hal yang buruk terhadap Peri Luna karena berisikeras mengusirnya dari sana.
Helin menutup pintu dan dengan santai berjalan melewati Leo, Lalu duduk di salah satu sofa di sana.
Ekor mata Leo memperhatikan Helin.
Benar benar gadis keras kepala.
Leo melangkahkan kakinya dengan sigap menghampiri Helin. Dia mencengkram dagu Helin yang sedang duduk manis di sofa. Rahang Leo mengeras, dia benar benar geram terhadap Helin.
__ADS_1
Helin kaget bukan main atas perlakuan Leo padanya.
"Katakan apa tujuanmu mendekati adikku?, ku yakin pasti kau memiliki niat buruk terhadapnya."
Helin meronta untuk melepaskan diri, tapi usahanya sia sia karena ukuran tubuhnya kalah jauh dari Leo, begitu juga tenaganya.
"Apa kau menginginkan uangnya?, atau popularitasnya?, Dengar selama aku di sini, tidak akan ada apapun yang bisa kau dapatkan darinya." senyuman penuh ancaman dia sematkan pada Helin, membuat gadis itu menjadi pucat.
Suara bell berbunyi kembali, membuat Leo melepaskan Helin dari cengkeramannya. Dia berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Leo membuka pintu karena itu adalah Niko.
Pintu terbuka lebar, Niko masuk melewati pintu dan di susul oleh Leo di belakangnya.
Niko menghampiri dan menyapa Helin yang sedang duduk di sofa. Wajahnya terlihat pucat membuat Niko khawatir terhadapnya.
"Helin, apa kau sakit?" tanya Niko khawatir.
Tatapan Leo tajam ke arahnya membuat Helin sulit bicara karena tertekan dengan tatapan Leo.
"Nik..Niko a..aku pulang sekarang, permisi" Helin menerobos tubuh Niko dan Leo lalu keluar melewati pintu secepatnya.
Leo tersenyum penuh kemenangan setelah Helin berlalu dari hadapan mereka.
Dia pasti bersalah, jika tidak, tidak mungkin dia segugup itu.
"Apa yang salah dengannya? Apa dia marah? Apa dia sudah mengetahui gosip tentang ku?" Niko mengejar Helin keluar.
Langkah Helin yang terburu buru dapat di imbangi Niko dengan berlari.
"Helin, Aku akan mengantarmu, ini sudah sangat larut."
"Aku bisa pulang sendiri Nik,"
__ADS_1
Niko menarik tangan Helin dan menghentikan langkahnya.
"Kau kenapa? Sakit?. Kau baik baik saja kan!, Apa kau marah denganku karena gosip yang beredar tentang kita?. Jika tentang itu membuatmu marah, aku akan mengklarifikasinya besok. Aku janji."
Helin menyembunyikan rasa kekecewaannya, dia sebisa mungkin membuat wajahnya memancarkan senyuman terbaik pada teman itu.
"Aku tidak marah, aku memaklumi tentang gosip itu. Aku juga tidak sedang sakit, aku hanya sedikit kecapekan. Jadi aku ingin segera pulang untuk beristirahat."
"Oh syukurlah jika kamu tidak marah, aku lega mendengarnya, Ayo biar ku antar pulang." Niko menyeret tangangan Helin, Tapi Helin menghentikannya dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Niko.
"Tidak Nik, aku bisa pulang sendiri. Kamu istirahat saja. Kamu pasti sangat lelah setelah pulang selarut ini." Pujuk Helin menolak.
"Baiklah, jika tidak ingin ku antar ke rumahmu, setidaknya aku bisa mengantar sampai di depan jalan, sampai menemukan taxi untukmu."
Helin mengangguk.
Helin masuk ke dalam taksi dan membuka jendela mengajak Niko bicara lagi.
"Nik, aku titip Luna ya. Mungkin dalam beberapa hari aku sangat sibuk, aku tidak bisa berkunjung kemari. Sampaikan salamku padanya."
Niko mengiyakannya. Helin menutup kembali jendela taxi dan berlalu meninggalkan Niko yang masih setia berdiri sampai taxi yang di tumpangi Helin lenyap dari pandangannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan Lupa like dan komentarnya ya....