AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
39. Rencana sang ibu tiri


__ADS_3

mereka masih menyantap makannya, tapi berbeda dengan Niko karena sudah makan tadi bersama Helin jadi Dia hanya sedikit makan dan bahkan mengacak acak makanannya, apalagi dia tidak suka melihat Nyonya Rigya makan bersama membuat selera makannya semakin buruk.


"Leo" Panggil sang ayah.


"Iya ayah," Jawab Leo lembut.


"Usiamu sekarang sudah 27 tahun"


"Benar ayah usia ku sekarang 27 tahun dan Niko berusia 24 tahun"


Ayahnya tersenyum dan meletakan sendok makannya di atas piring.


"Tidak terasa sekarang putra putraku sudah dewasa dan aku semakin tua." Suara pria berumur itu terdengar lirih.


Leo meletakan tangannya di atas tangan ayahnya dan menggenggam tangan itu.


"Ayah jangan khawatir, putra putramu di sini dan akan menemani masa tuamu."


"Benar ayah, kami di sini akan selalu ada untuk mu" Tambah Niko. "Dan ibu Rigya juga berada di sampingmu dan akan setia menemanimu sampai akhir hayatnya, Benarkan ibu Ragya."


Niko menoleh ke ibu tirinya itu sambil menunjukan senyuman menyindir.


"Iya suamiku, apa yang di katakan anak anak kita itu benar. Mereka akan menemani masa tuamu dan juga ada aku yang akan selalu setia menemanimu." Nyonya Rigya mebalas senyumannya kepada Niko.


Dasar tidak tau diri, apa maksud anak ini mengatakan bahwa aku akan menemani ayahnya sampai akhir hayat ku, apa dia menyumpahiku mati lebih dulu dari ayahnya. Harusnya dia mengatakan jika aku akan menemani sampai akhir hayat ayahnya.


Nyonya Ragya memindahkan pandanganya kepada Leo.


"Tuan muda, sebenarnya ayahmu ingin mengatakan bahwa di usia tuanya ini dia ingin memiliki cucu"


Mendengar kalimat itu Leo menggenggam erat sendok yang ada di tanganya.


apa yang sedang di rencanakan Wanita ini untukku?


"Benar Leo, usiamu sekarang sudah cukup matang untuk menikah. Kamu sekarang juga sudah sangat sukses. Ku rasa tidak akan ada wanita yang menolak menjadi istrimu." sang ayah juga ikut menambah kan.


Leo sepertinya tidak bisa menjawab saran itu.


"kakak kurasa itu benar, sudah seharusnya kamu memiliki pendamping hidup."

__ADS_1


Leo menatap Niko dengan tatapan dingin.


Niko mengerti dengan tatapan itu sehingga dia memperbaiki kata katanya.


"Ayah, mungkin kakak sekarang belum siap untuk menikah karena dia harus mencari dulu seorang pendamping yang cocok untuknya."


"Leo, jangan hiraukan tentang itu. Ibumu sudah mempersiapkan wanita yang sangat cocok untukmu. Ku rasa kamu akan suka ketika sudah melihatnya." imbuh ayahnya meyakinkan.


Ku rasa ide ini dari wanita laknat itu yang sengaja akan menjodohkan ku dengan orang orang nya agar dia bisa menguasai ku seperti dia menguasai ayahku sampai saat ini.


Leo menarik nafas dalam dan membuangnya dengan pelan. "Maaf ayah, aku harus memikirkan hal ini dengan baik karena ini menyangkut hidupku." tegas Leo.


"Tidak perlu terburu buru tuan muda, ayahmu memberimu waktu untuk itu, tapi saranku kamu temui dulu wanita yang akan di jodohkan denganmu setelah itu baru kamu putuskan."


"Terimakasih atas kebaikanmu ibu, aku akan memikirkan nya."


Leo mengakhiri pertemuannya karena merasa tidak nyaman dengan tema pembicaraan keluarganya siang ini.


"Maaf ayah dan ibu, aku ingin mengakhiri pertemuan kita siang ini karena akan melanjutkan pekerjaan ku lagi. Aku permisi."


Leo berdiri dari kursi yang di dudukinya dan akan segera meninggalkan ruangan setelah berpamitan.


Niko juga berpamitan kepada ayah dan ibu tirinya. Lalu mereka pergi bersama.


***


Di ruang kerja Leo.


Niko berjalan kesana kemari di depan meja kerja Leo dan melakukannya berulang kali. Sehingga akhirnya dia putuskan untuk duduk di kursi yang ada di depan meja Leo.


"Kakak, kenapa kau sangat tenang sekali, bukannya kau juga menyadari wanita jahat itu sedang melancarkan rencanannya kepadamu. Mengapa kau diam saja?"


Leo masih duduk di kursinya dengan santai sambil mengerjakan pekerjaan nya.


"Tenanglah,... jangan terburu buru."


"Kakak, aku di sini ingin membantu mu keluar dari masalahmu tapi kenapa kau begitu santainya ?"


Leo berdiri dari kursinya dan menghampiri Niko. Kemudian duduk di samping sang adik dan merangkulnya.

__ADS_1


"Adikku, dengarlah. Jika kau ingin bermain dengan lawanmu maka kau harus berhati hati agar bisa menang. caranya dengan tidak terburu buru mengambil langkah. Kau harus memperhatikan dulu langkah lawanmu baru kau bisa memikirkan langkah selanjutnya. jika kau terburu buru mengambil langkah kemudian langkahmu salah maka lawanmu yang akan menang."


Niko menganggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari Leo.


"Baiklah jika begitu terserah kau saja. Tapi ingatlah aku akan selalu mendukung apapun rencanamu."


Leo mengangguk kepada adiknya.


"Permisi Tuan muda."


Seseorang membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Leo.


"Maaf Tuan muda, anda ada pertemuan sore ini."


"Baik sekretaris Jimi."


Sekretaris Jimi hendak keluar dari ruangan itu setelah memberitahukan jadwal Leo, tapi Niko menahan langkahnya.


"Sekretaris Jimi, apa kau sudah mengantar Helin pulang dengan benar?" Tanya Niko memastikan.


"Maaf tuan muda ke dua, Nona Helin


tidak ingin di antar kerumahnya."


"Lalu kau anatar dia kemana?"


"Dia bilang, dia bekerja di Bisma's resto jadi saya mengantarnya ke sana"


"Ya baiklah, kau sudah mengantar nya dengan benar. Terimakasih Sekretaris Jimi." Sambil menepuk bahu sang sekretaris.


"Niko kau perhatian sekali padanya, apa hubunganmu dengannya?, apa dia kekasihmu.?" Tanya Leo penasaran karena sang adik memperlakukan seorang gadis bak Dewi.


Niko menggelengkan kepalanya.


"Dia temanku, Dia memang pantas diperlakukan seperti Dewi." Niko mulai membayangkan wajah cantik temannya itu.


"Baiklah kakak, karena kau ada pertemuan, aku pergi dulu."


Leo mengangguk mengiyakan adiknya.

__ADS_1


Setelah Niko berlalu, mereka juga keluar dari ruangan untuk menghadiri pertemuan.


__ADS_2