AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
52. Makan Besar


__ADS_3

Peri Luna yang hendak pergi kemudian langkahnya di hentikan oleh Leo.


"Mau kemana ?"


"Bukan urusanmu" Masih memanyunkan mulutnya dan melanjutkan langkahnya.


Leo menarik lengan Peri Luna yang halus mulus itu dengan tangan kirinya.


"Kekasihmu menitipkan dirimu padaku, jadi sebelum dia datang kamu masih menjadi tanggung jawabku." Sambil menatap Peri Luna datar.


Peri Luna merasa risih dengan tatapan Leo, dia menundukkan kepalanya.


"Aku Lapar," Kata katanya terdengar manja membuat tangan Leo melepaskan pegangannya dari pergelangan tangannya.


"Karena kekasihku belum kembali, jadi ini menjadi tanggung jawabmu juga" Balas Peri Luna.


Peri Luna mengikuti alur dari permainan yang Niko buat, Niko mengatakan bahwa dirinya harus mengaku sebagai kekasihnya jika siapapun yang bertanya. Peri Luna mengiyakan hal itu walau sebenarnya dia tidak mengerti apa maksudnya.


"Baiklah, ikut denganku. Aku akan mentraktir mu."


Peri Luna bersemangat mengikuti langkah Leo karena dia sudah sangat lapar.


Leo membawa Peri Luna ke restoran tedekat dari apartemen mereka.


Seorang pelayan memberikan daftar menu kepada Leo dan Luna.


Leo memilih menu yang akan di pesannya, berbeda dengan Luna yang mengipas ngipaskan daftar menu itu ke wajahnya.


Leo memperhatikan tingkah Luna yang asik berkipas, Dia meletakkan daftar menu di atas mejanya. Dia diam sejenak tidak mengerti apa yang harus di lakukanya karena Luna seperti sedang mempermainkannya.


"Kamu bilang sangat lapar?, Kenapa hanya diam saja, berkipas tidak akan membuatmu menjadi kenyang." Nada bicara nya santai tapi menyimpan sedikit kekesalan.


Sebenarnya Luna tidak mengerti dengan daftar menu yang di pegangnya, dia kira buku itu di berikan untuknya berkipas.


"Benar aku sangat lapar, jadi apa yang bisa ku makan?" Tanyanya dengan ekspresi bingung karena tidak ada hidangan di atas meja mereka.


Leo sudah selesai memilih menu yang akan di pesannya dan memberikan daftar menu yang tadi di letakannya kepada pelayan untuk di catat. Pelayan itu masih berdiri di sana menunggu Luna menyebutkan menu apa yang akan di pesannya.


"Nona, anda akan memesan makanan apa?" tanya pelayan itu karena sudah lama menunggu.


"Makanan apa yang paling enak di sini" Tanyanya balik.


"Kami memiliki 3 menu spesial yang menjadi favorit pengunjung di sini, apa anda ingin mencobanya?"


"Ya aku mau" jawabnya semangat.

__ADS_1


"anda hanya berdua di sini, jadi ingin porsi spesial atau porsi jumbo?"


"Terserah saja, spesial atau jumbo segera antar kan kemari. Apa saja aku akan memakannya." Cetus Luna karena dia sudah sangat lapar tapi pelayan terus saja bertanya.


Luna tidak peduli porsi spesial atau jumbo, yang dia tau saat ini perutnya sangat lapar.


Jeda 10 menit hidangan sudah siap tersaji di hadapan mereka.


Tiga menu porsi Jumbo dan satu menu spesial pesanan mereka siap di nikmati.


Leo menaikan alisnya melihat hidangan yang datang.


"Banyak sekali, siapa yang akan memakannya.?"


Luna tersenyum girang menaikan kedua tangannya memegang pipi sambil menatap hidangan di depannya.


"Kamu harus menghabiskan semua ini, karena kau yang memesannya!" Perintah Leo penuh ancaman tapi tidak membuat Luna takut, dia malah semakin girang mendengar nya.


Tidak menunggu lama, dia menyambar sendok besar yang sudah tersedia di salah satu hidangan di sana dan menyantapnya dengan lahap.


Leo yang hendak memasukan sendok berisi makanan ke mulut jadi mengurungkan niatnya karena melihat pemandangan itu.


Porsi jumbo yang seharusnya di makan oleh 3 orang mampu di habiskannya dalam waktu singkat. Luna memindahkan wadah yang sudah habis isinya dan mengambil wadah lain yang masih berisi lalu di letakan di hadapannya untuk melanjutkan santapannya.


Leo masih dalam kondisi keterkejutan, entah apa yang dia fikirkan tentang Luna yang mampu memakan makanan berukuran besar lebih dari satu porsi.


"Aku sudah selesai." Sambil mengeluarkan angin sendawa dari mulutnya.


Luna memperhatikan makanan Leo yang masih penuh di piringnya.


"Kenapa makanan mu belum habis juga, bahkan tampak belum tersentuh sedikitpun, apa tidak lapar?"


Leo menelan ludahnya sendiri, "Aku merasa sudah kenyang." ekspresi nya masih belum berubah.


Luna menaikan alisnya,


Bagaimana bisa kenyang?, bahkan belum memakan makanannya sedikitpun. Manusia memang aneh dan susah di tebak.


Lalu bagaimana?" tanya Luna lagi.


"Jika kamu mau, kamu bisa memakan ini lagi." Leo memindahkan piring di hadapannya kepada Luna.


Luna melirik makanan yang di sodorkan Leo padanya.


**

__ADS_1


Seseorang datang dan langsung duduk di meja mereka.


"Leo.. kebetulan sekali bertemu di sini."


"Karina..."


Leo Mengenali wanita itu yang merupakan teman kuliahnya dulu sekaligus wanita yang akan di jodohkan untuknya.


"Apa kabarmu, dan sudah lama sekali kita tidak bertemu dan sekarang kamu sudah banyak berubah," Sambil menebar senyum terbaiknya.


"Baik..., Itu sudah lama sekali, tentu saja semua sudah berubah. Bahkan dirimu juga." Balas Leo dengan menarik garis bibirnya mencoba bersikap ramah.


Karina melirik Luna yang dari tadi menatap makanan yang ada di depanya.


"Dia siapa?" tanya Karina karena setau dirinya Leo tidak memiliki saudari atau teman perempuan, Dia menduga duga jauh dari itu.


Luna tersadar bahwa dirinya sedang jadi topik pembicaraan, Dia tersenyum ke arah Karina tapi Karina tidak menyukai senyuman cantik darinya.


Sangat cantik, apa mungkin kekasih Leo?


Karina menduga duga dengan cemas. Tapi masih bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya.


"Kalian bisa langsung berkenalan" Tukas Leo kepada mereka berdua.


Luna mengulurkan tangannya, sedangkan Karina tidak langsung menyambut tangan itu, dia lebih memilih memperhatikan Luna dari atas sampai bawah penuh dengan selidik.


Dia pasti berasal dari kalangan atas, kulitnya sangat halus, parasnya juga sangat cantik, begitu pula rambutnya sangat terawat. Bahkan aku tidak bisa menebak berapa biaya yang dia habiskan perharinya bisa seperti itu.


"Nama ku Luna" Luna mengoyang goyangkan tangannya karena Karina tak kunjung menyambut. "Siapa Namamu?"


"Namanya Karina" Leo yang menjawab pertanyaan Luna karena di lihatnya Karina tidak merespon.


Perhatikan Karina kini teralihkan kepada Leo.


"Apa karena dia, kamu kemarin tidak menemuiku?"


Pertanyaan Karina barusan membuat Leo mengerutkan kening.


"Tidak.., maafkan aku karena kemarin membatalkan pertemuan denganmu tanpa memberi tahu."


"Lalu kenapa?, Jelaskan padaku?" Karina terlihat memaksa.


"Karina, tolong jangan bahas masalah itu di sini. Aku akan menjelaskan padamu nanti."


Leo berdiri dan menarik lengan Luna.

__ADS_1


"Aku akan pergi sekarang kamu tidak masalah di sini sendirian kan"


Karina meremas ujung dress yang di kenakannya karena geram pada Leo yang meninggalkannya tanpa memberi penjelasan.


__ADS_2