
Leo mencicipi hidangan di depanya.
Aroma dan rasanya benar benar mirip seperti masakan ibu. Darimana Bisma mendapatkan koki sebaik ini. Aku harus meminta kepada Bisma agar koki ini bekerja di dapurku agar aku bisa memakan masakan ini setiap aku rindu ibu.
Sudah banyak koki yang bekerja pada Leo yang mencoba membuat masakan ini tapi tidak satupun bisa menyaingi masakan ibunya.
"Aku tidak tau jika restoran ini juga ada menu seperti ini, aku akan lebih sering mengunjungi tempat ini untuk menikmati hidangan ini lagi." Klien Han benar benar sangat puas dengan hidangan yang di sajikan Leo untuknya.
"Benar benar sangat lezat," Leo memasukan makanan di sendok ke mulutnya lagi.
Sekretaris Jimi berbisik di dekat daun telinga Leo. "Nona Helin yang membuatnya."
Leo tersedak karena bisikkan itu.
Sesegera mungkin sekretaris Jimi memberikan minum kepada Leo.
Leo dan Sekretaris Jimi kembali ke kantor setelah menyelesaikan pertemuan mereka dengan kliennya.
Leo bersandar di kursi belakang dengan memejamkan matanya.
"Sekretaris Jimi" Panggilnya dengan mata masih terpejam.
"Iya Tuan Muda," sekretaris Jimi menyahut sambil melirik kaca spion di depanya. Terlihat Tuan mudanya masih dengan mata terpejam.
"Darimana kau tau jika Helin yang memasak semua hidangan tadi."
Sekretaris Jimi merasa terkejut karena Leo yang di lihatnya bersandar tadi kini telah berada di dekat kursi kemudinya.
Apa aku melakukan kesalahan, mengapa Tuan Muda mempertanyakan ini lagi?, bukankah tadi dia menyukai hidangan itu.
Seperti nya Suhu badan Sekretaris Jimi naik, takut jika Leo marah kepadanya. Dia sangat paham seperti apa tuan mudanya itu jika sedang marah.
"Dia sendiri yang mengatakannya, bahkan beberapa pelayan di sana juga mengetahui kebenarannya Tuan muda."
Leo mengangguk berulang, "Bagaimana mungkin dia bisa memasak makanan seenak itu?" merasa bingung.
Seulas senyuman muncul di wajah Sekretaris Jimi, senang karena Tuan Mudanya tidak marah. "Karena dia membuatnya dengan cinta tuan,"
__ADS_1
Ujung mata Leo menangkap Sekretaris Jimi.
"Tau apa kau tentang cinta?"
Bahkan umurmu sudah setua ini belum mendapatkan pasangan, bagaiman bisa membahas cinta.
"Nona Helin juga mengatakan itu tuan,"
Sekretaris Jimi seolah mengerti Jika Leo sedang mengejeknya.
Anda tidak akan mengerti Tuan, bahkan mendekati wanita saja anda tidak bisa. bagaimana mungkin bisa mengerti cinta.
Leo menyeringitkan dahi dan mengangkat kedua bahunya tanda tidak perduli.
Leo kembali bersandar sambil memejamkan matanya. Bayangan sang ibu kembali menghampiri dirinya.
"Sekretaris Jimi" panggilnya lagi.
"Iya Tuan muda," Sekretaris Jimi menjawab sambil memperhatikan kaca sepion di depanya sama seperti yang di lakukannya tadi.
"Bertemu Nona Karina Tuan"
"Aku tidak ingin bertemu denganya, aku ingin ke makan ibuku saja, aku sangat merindukannya."
"Baik Tuan." Sekretaris Jimi memutar kemudi menuju tempat yang Leo inginkan.
Di Bisma's Resto.
Koki pengganti yang di tunggu Helin juga tidak kunjung datang entah apa alasnya. Jadi Helin menghubungi Bisma tentang itu, Bisma menyarankan agar menutup Restoran lebih awal takut jika Helin kualahan mengurusnya.
Helin mengiyakan dan mengumumkan pada karyawan lain agar pulang lebih awal hari ini.
Karena tidak ada lagi kegiatan yang bisa dia kerjakan, Helin memilih mengunjungi makam orangtuanya untuk yang pertama kalinya.
Helin membawa sekeranjang bunga untuk di taburi ke makam ayah ibunya.
Heliin memasuki makam dan mencari makam ke dua orang tuanya, sebelumnya Pak Wanto memberi tanda yang harus Helin cari agar lebih mudah menemukan makam yang di carinya.
__ADS_1
Helin menemukan tanda itu dan juga makam ayah ibunya. Tapi dia tidak sendiri di.situ, dia menemukan sekretaris Jimi dan Leo juga berada di sana.
Melihat Helin berada di tempat itu juga, Sekretaris Jimi menyapanya.
"Nona Helin."
Leo reflek menoleh mendengar nama yang di sebut Sekretaris Jimi.
"Di sini juga, apa kamu sengaja menguntit ku?"
Helin menaikan alisnya mendengar kalimat yang di lontarkan Leo kepadanya. Helin tidak menggubris Leo, dia melanjutkan langkahnya melewati Sekretaris Jimi dan berhenti di depan Leo.
"Jangan berdebat denganku, aku tidak akan meladenimu kali ini. Aku tidak ingin terlihat jelek di depan makam orang tuaku."
Helin mendorong Leo sedikit sehingga Leo termundur satu langkah karena posisinya sedang tidak siap. Helin berlalu dari hadapannya dan menghampiri makam di sebelah makam ibunya Leo.
Helin menaburi dua makam itu dengan sekeranjang bunga yang dibawanya setelah itu dia terlihat berdo'a. Tampak kristal kristal bening berjatuhan dari pipi Helin.
Berbeda dengan Leo, dia berjongkok sambil mengelus Nisan ibunya yang sangat ia rindukan. Terlintas di benaknya saat kebersamaan mereka dulu. Leo menundukan kepalanya tapi dia tidak menjatuhkan kristal bening seperti yang di lakukan Helin.
Setelah merasa puas bertemu makam ayah ibunya kemudian Helin memilih untuk pulang lebih dulu.
Dia melewati Leo yang sedang jongkok. Dan berpamitan dengan Sekretaris Jimi.
Sekretaris Jimi mendekati Leo dan mengajaknya bicara.
"Tuan muda, apa anda baik baik saja"
Leo mengangkat kepalanya "aku baik Sekretaris Jimi." Lalu menoleh makam di sebelah makam ibunya.
"Bukankah makam ini sudah ada sebelum ibu di makam kan di sini?"
"Benar Tuan muda, Sejak 10 tahun lalu Nyonya Besar di makamkan di sini tidak ada yang pernah berkunjung di makam itu."
Ternyata itu makam orangtuanya. Kenapa baru berkunjung sekarang, apa dia baru ingat dengan orangtuanya setelah sekian lama. Durhaka sekali wanita itu. Tidak, aku tidak bisa memvonisnya seperti itu apalagi kedua orangtuanya sudah tidak ada. dia Yatim-piatu.
Mungkin dia punya alasan sendiri tentang ini.
__ADS_1