AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
41. Indahnya Memiliki Keluarga


__ADS_3

Pagi itu cuaca sangat cerah, karena sedang akhir pekan jadi Helin tidak ada kegiatan. Rasanya sudah beberapa pekan Helin tidak bersepeda untuk olahraga. Kali ini Helin melakukannya kembali.


Melihat Helin akan bersepeda, Naura menawarkan diri untuk ikut bersamanya. Naura juga sudah siap karena rencananya dia juga akan berolahraga.


Mereka mengayuh sepedanya hingga sampai pada tempat tujuannya yaitu tanman Danau.


Mereka berhenti di sana dan beristirahat.


"Naura apa kamu sering ke sini ?"


"Tidak, baru kali ini aku ke sini biasanya hanya lewat saja. Bagaimana denganmu ?"


"Aku sering sekali ke sini setiap akhir pekan"


"Oh begitu, sepertinya kamu menyukai tempat ini"


"Em tidak juga, aku hanya senang melihat orang orang membawa keluarga mereka ke tempat ini setiap akhir pekan. Melihat anak anak berlari lalu kemudian ibu mereka mengejar nya. Dan juga kebersamaan mereka menyantap makanan bersama. Coba lihat itu mereka makan bersama keluarga mereka di atas tikar, menyenangkan bukan ?"


"Apanya yang menyenangkan, coba lihat mereka makan berebut seperti itu tanpa menggunakan sendok, lalu tertawa seperti orang gila. Apa kamu ingin juga seperti itu ?" Tanya Naura dengan ekspresi jiji.


Helin menganggukan kepalanya.


Benar benar sudah tidak waras gadis ini. Pikir Naura kepada Helin.


"Baiklah, nikmati saja pemandangan mu, aku akan pergi kesana sebentar.


Tanpa meminta persetujuan Helin, Naura berlalu dari hadapan nya.


Naura duduk di sebuah kursi panjang yang jaraknya cukup jauh dari keramaian pengunjung. Naura berbicara sendiri seolah olah sedang mengomeli seseorang.

__ADS_1


Naura tidak menyadari bahwa dirinya sedang di hampiri tiga pria ke arahnya.


"Nona Naura," Naura menoleh ke asal suara yang menyebut namanya. "Kamu berakhir pekan di sini juga ?" Tanya salah seorang dari tiga pria itu yang juga di kenali Naura. Dialah sang pengacara yang sering menghabiskan waktu bersamanya.


Mata Naura terarah ke Bisma yang menggunakan switer Hoodie. Bisma terlihat tampan di matanya.


"Apa kamu di sini bersama Helin ?" Bisma mulai bertanya karena Naura sudah menatapnya lebih dulu.


Naura mengangguk.


"Dimana Dia ?"


Naura menunjuk dimana tempat Helin berada sebelumnya tadi.


"Baiklah, aku akan kesana !"


"Apa menurutmu dia akan mengungkapkan perasaannya pada gadis itu di tempat ini ?"


"Mudah mudahan saja dia tidak lupa dengan gaya bicaranya, aku khawatir jika dia menyatakan cinta seperti mendakwa terpidana"


Mereka melepaskan tawa setelah teringat latihan Haris tadi. Haris berlatih berulang kali untuk menyatakan cinta dengan benar. Karena berulang kali dia melakukanya seperti sedang mendakwa seseorang.


***


Helin masih menatap rombongan keluarga keluarga di sana. Dalam pikirannya dia membayangkan bahwa salah satu dari mereka adalah dirinya. Bahkan sesekali dia tersenyum sendirian membayangkan indahnya memiliki keluarga.


Pikirananya tersadar ketika seseorang merangkulnya.


Soni yang melihat Bisma merangkul Helin membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Bisma, seperti itukah kau memperlakukan karyawan mu jika di luar tempat kerja ?"


Mendengar pernyataan itu, Helin melepaskan rangkulan Bisma dari pundaknya.


"Bukankah aku juga sering melakukan itu padamu Son ?"


"Benar, Karena aku sahabat mu juga seorang pria sama seperti mu, Sedangkan dia...."


"Ku tebak kau pasti sedang memikirkan sesuatu." Bisma kembali menempatkan lengannya di pundak Helin.


"Apa kalian berdua...." Soni tidak berani melanjutkan kata katanya.


"Tebakanmu benar Soni, aku dan Helin berpacaran." Bisma mengatakan itu sambil menatap Helin, tidak perduli Soni ada di hadapan mereka. Seolah olah Bisma sengaja mengumbar keromantisan nya di depan Soni.


Soni menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. "Baiklah jika memang begitu aku tidak akan mengganngu kalian di sini.


Helin mencoba menghentikan Soni yang tampak kecewa, Tapi Bisma menariknya.


"Biarkan dia pergi, jangan menghentikannya" Tegas Bisma


"Memangnya kenapa ?, Dia sahabatmu, dia tidak boleh pergi dengan wajah sedih seperti itu." Helin merasa kasihan.


"Apa kamu tau jika Soni juga menyukaimu sama seperti aku dan Hadi." Helin terkejut dengan pernyataan itu. "Jika kamu menghentikannya maka dia mengira kamu memberinya harapan dan kesempatan untuknya.


Helin masih terdiam dengan rasa kagetnya.


"Sudah lah jangan fikirkan dia, cukup fikirkan aku saja" Bisma mulai mencairkan suasana karena ekspresi Helin belum juga membaik.


Helin mulai tersenyum dengan gombalan yang di buat Bisma.

__ADS_1


__ADS_2