
Naura menunggu Helin di tempat parkir rumah sakit, wajahnya terlihat sedikit kesal.
"Mengapa lama sekali, kemana dia?"
Naura tidak bisa masuk ke dalam mobilnya karena kunci mobil ada pada Helin.
Di teras rumah sakit Helin memperhatikan Naura dari jauh, terlihat Naura berdiri di samping mobilnya sambil menghentakan kakinya pelan berkali kali.
"Sepertinya dia terlihat kesal, tapi apa yang bisa dia lakukan kunci mobil ada di tanganku"
Helin belum juga beranjak dari tempatnya berdiri sambil mengamati gerik Naura. Tapi ada rasa tidak tega di hatinya kepada Naura, kemudian dia memutuskan menghampiri Naura ke tempat parkir.
"Kenapa lama seksli, aku hampir karatan menunggu di sini" Naura mengomel, "Berikan kunci mobilku".
Helin memberikan kunci mobil Naura kepadanya.
__ADS_1
Naura mengambilnya dan masuk ke mobil lalu menyalakan mesin.
Helin mulai mengumpat, "Sudah ku duga pasti tidak akan ada ucapan terimakasih"
Naura membuka kaca mobilnya lalu meneriaki Helin.
"Kenapa berdiri saja.. ayo masuk"
Helin yang sedang memperhatikan mobil Naura kaget dengan suara teriakan Naura, "iya iya.. tunggu sebentar" Helin bergegas masuk ke mobil takut jika Naura meneriakinya lagi.
Helin duduk di samping Naura, Kali ini Naura yang lebih banyak bersuara dan bercerita tanpa rasa canggung.
"Dimana tempat mu bekerja?, Biar sekalian aku antar"
Helin menaikan alisnya mendengar tawaran itu dan langsung memandangi Naura yang sedang fokus menyetir mobil, mimpi apa pikirnya dia semalam, Sehingga Naura menawarkan untuk mengantarnya. Dalam keterkejutannya Helin reflek mengatakan alamat tempatnya bekerja.
__ADS_1
Naurapun melaju menuju alamat yang di sebut Helin.
Helin yang semula hanya diam dalam keterkejutan dengan sikap wanita di sebelahnya yang terus berbicara akhirnya terpancing juga untuk masuk ke dalam arah cerita yang di buat Naura sehingga mereka terlihat akrab satu sama lain.
Semula Naura juga tidak merasa nyaman dengan sikap Helin yang hanya mengangguk saja ketika di ajak bicara, dia berfikir Helin membalas karena sikapnya juga seperti itu ketika Helin mengajaknya bicara sebelum mereka mendatangi rumah sakit.
Sebenarnya Naura seorang yang sangat ramah terhadap orang lain tapi karena suatu hal yang membuatnya tidak ramah kepada Helin yaitu Bu Suti tantenya. Setelah dia mengetahui sendiri bagaimana Helin jadi dia sedikit bisa mengubah sikapnya untuk menjadi ramah seperti yang di lakukannya sekarang.
Selang berapa belas menit dari rumah sakit, mobil mereka sampai ke restoran tempat Helin bekerja.
Helin turun dari mobil Naura dan bergegas masuk kedalam restoran.
Naura memutar arah mobilnya untuk kembali ke rumah karena dia tidak ingin wajahnya yang penuh bintik dilihat oleh orang orang jika dia terlalu lama berada di luar.
Naura masih menyetir mobilnya dengan santai, dia merasa gerah karena penutup wajah yang di gunakannya. Dia membuka dan langsung melemparkan benda itu di sampingnya. Naura tidak menyadari jika bintik di wajahnya sudah hilang, dia terus saja menikmati perjalanan pulangnya.
__ADS_1
Sesampainya Naura di rumah, dia memarkirkan mobilnya setelah itu dia mengambil penutup wajah yang dilemparnya tadi dan menutup wajahnya kembali. Naura turun dari mobilnya lalu masuk kedalam rumah.
Naura bergegas masuk ke kamarnya dan segera menghampiri cermin, dia tidak sabar untuk mengobati wajahnya. Dia sudah siap memegang obat yang akan di gunakan. Dengan pelan Naura membuka penutup wajahnya sambil memejamkan kedua mata karena merasa risih sendiri melihat wajahnya yang penuh dengan bintik.