AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
61. Keadaan Helin


__ADS_3

Cuaca pagi itu tampak sangat cerah. Cahaya masuk dari jendela kaca dan menembus kedalamnya.


Dokter Hadi menutup kembali tirai jendela yang di bukanya karena Cahaya itu mengenai langsung wajah seseorang yang sedang berbaring di tempat tidurnya.


Ya, Helin berbaring di sana sejak 3 hari lalu. Baru pagi ini dia tersadar.


Selama 3 hari Helin mengalami demam tinggi dan di rawat oleh Dokter Hadi di rumahnya.


Helin membuka matanya karena silauan cahaya matahari menerpa wajahnya sebelum Dokter Hadi menutup kembali tirai jendela yang ada di kamar itu.


Helin memperhatikan sekeliling ruangan itu. Ruangan yang sangat tidak di kenalnya.


"Helin, kau sudah sadar?"


Helin menatap wajah itu dengan samar karena silauan matahari tadi mengenai matanya sehingga belum bisa melihat dengan jelas, setelah beberapa saat barulah pandangan Helin normal kembali.


"Dokter Hadi!, sekarang aku ada di mana?, Kenapa kau juga ada di sini?" Tanya Helin kebingungan.


Helin hendak bangun dari tempat tidur, tapi Dokter Hadi menahannya.


"Jangan bangun dulu, kau belum pulih sepenuhnya. Jadi tetaplah beristirahat di sini, Ini adalah kamarku, sekarang kamu berada di rumahku."


"Apa?" Helin terkejut dengan pernyataan Dokter Hadi dan ingin bangkit kembali dari posisi berbaring nya.


Dokter Hadi kembali menahannya agar tetap di posisi berbaring. Dokter Hadi mengambil satu bantal lagi di dekat Helin untuk Helin bersandar.


"Jagan berfikir tentang hal buruk dulu, aku tidak sendirian di rumah ini, ada adik perempuan ku yang membantu merawatmu, Sebentar aku akan memanggilnya." Dokter Hadi keluar dari kamar dan memanggil adik perempuan nya agar Helin mempercayai kata katanya.


Helin merasa lega dengan penjelasan Dokter Hadi karena ada adik perempuan Dokter Hadi yang ikut serta merawat dirinya termasuk mengganti pakaian yang ia kenakan selama ia tidak sadarkan diri.


Dokter Hadi masuk kembali ke kamarnya dan membawa seorang gadis muda, usianya sekitar 16-18 tahunan.


"Helin, perkenalkan ini adikku, Namanya Hana. Dia yang membatu merawatmu selama beberapa hari.


"Hai kak, Bagaimana keadaan mu sekarang? apa merasa lebih baik?" Sapa gadis muda yang berada di tepi ranjang dekat Helin bersandar.


"Hai Hana, kau manis sekali. Aku merasa sudah agak Baikan, terimakasih sudah merawatku dengan baik."


Gadis itu duduk di samping tempat tidur mendekati Helin. Dia memegang tangan Helin dengan sangat lembut

__ADS_1


"Tidak kakak, Jangan berterimakasih padaku tapi berterimakasih lah pada kakakku. Dia dokter yang sangat baik. Dia yang merawat mu siang dan malam. Bahkan dia tidak tidur selama beberapa hari untuk merawat dan menjagamu di sini. Aku tidak merawatmu, aku hanya bertugas membersihkan dan mengganti pakaian mu saja." Gadis itu menyunggingkan senyum kepada Helin.


"Itu juga termasuk dalam merawatku agar aku selalu bersih" Balas Helin lalu membalas pegangan tangan gadis itu. "Terimakasih" ungkapnya.


"Sama sama kakak"


"Dokter Hadi, terimakasih."


"Sama-sama Helin, jangan sungkan. Sudah tugasku sebagai dokter untuk merawat dan menyembuhkan siapapun yang sedang sakit.


Dokter Hadi dan adiknya meninggalkan Helin untuk beristirahat.


Kakak beradik itu lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini.


Keakraban antar adik kakak itu sangat baik, bahkan di antara mereka tidak pernah terjadi pertengkaran. Mungkin karena faktor usia sang dokter dan sang adik sangat jauh sehingga dokter Hadi lebih banyak mengalah dan menuruti semua keinginan adik satu satunya yang dia sayangi.


Ada 3 porsi sarapan yang di buat oleh Hana. Setelah menghidangkannya 2 pirsi di meja makan, Hana menyuruh kakaknya mengantar 1 porsi lainya untuk Helin yang berada di dalam kamar.


Helin mencoba untuk bangkit dari posisinya, namun kepalanya seakan berputar ketika dia hendak berdiri tegak. Helin mencobanya beberapa kali tapi hasilnya tetap sama rasa pusing yang selalu dia rasakan saat ingin berdiri. Helin kembali duduk dan mengatur nafasnya sambil memejamkan mata untuk menghilangkan rasa kunang kunang yang mengelilingi kepalanya. Setelah rasa itu mereda, Dia mencoba kembali usahanya untuk berdiri. Kali ini dia lakukan secara berlahan sambil tangannya berpegangan pada nakas yang berada di samping tempat tidur sebagai tumpuan. Dan.... berhasil, dilanjutkan dengan menapakan kakinya selangkah demi selangkah untuk mencapai pintu kamar.


Helin memutar handel pintu dan terbuka.


Pintu kamar terbuka dan Helin berada di sana membuat Dokter Hadi meletakan kembali sarapan yang ada di tangannya di atas meja. Dokter Hadi menghampiri Helin di sana.


Helin menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya ingin keluar sebentar, aku merasa sangat bosan hanya berbaring di tempat tidur."


"Baiklah, jika begitu lebih baik sarapan dulu bersama kami."


Dokter Hadi membantu Helin menuju meja makan dengan memapahnya.


Helin duduk di antara Hadi dan Hana. Sambil Hana menyiapkan sarapan untuk Helin, Helin mengitar kan pandanganya di ruangan itu.


"Apa kalian hanya tinggal berdua saja di sini?"


"Sebenarnya beremapt kak, sama asisten rumah tangga dan supir. Tapi mereka sedang cuti. Jadi hanya kami dan dirimu yang tersisa." Sambut Hana menjelaskan.


"Lalu orangtua kalian?"

__ADS_1


Pertanyaan Helin yang kedua membuat Hadi dan Hana saling bersisitatap. Ada kesedihan di dalam mata Hana, Helin melihatnya.


"Orang tua kami berpisah" kali ini Dokter Hadi yang menjawab. "Kami tidak ikut tinggal bersama dengan salah satu dari mereka. Kami memilih untuk tinggal sendiri."


"Oh, maafkan aku. aku turut menyesal."


"Tidak apa apa, terimaksih. Lalu bagaimana dengan dirimu?" Tanya Hadi balik.


"Aku...."


Hana dan Hadi menunggu kalimat Helin. Helin memotong kalimatnya sambil menundukkan kepala. Menyembunyikan rasa sedih yang ia tahan agar Hadi dan Hana tidak melihat nya.


"Aku tidak tau seperti apa wajah asli ayah dan ibuku. Aku hanya melihatnya di foto." Helin mengangkat wajahnya sambil tersenyum. " Mereka meninggal bersamaan saat aku di lahirkan."


"Kakak" Hana memegangi tangan Helin yang ia letakan di atas meja. "Aku turut berduka"


"Maaf Helin, aku tidak bermaksud untuk..."


"Tidak apa Dokter, Ini hanya kisah lama." Helin tetap menyelipkan senyuman di wajahnya.


"Oh iya, aku ingin bertanya sesuatu padamu dokter!"


"Bertanyalah"


"Bagaimana ceritanya aku bisa berada di sini?"


Hadi terbayang malam itu di saat dia menemukan Helin. Malam itu hujan turun sangat deras dari sore hingga menjelang subuh. Dokter Hadi pulang saat pertengahan malam, karena Hujan tak kunjung berhenti dia nekat melajukan mobilnya agar cepat Samapi rumah. Tapi dalam perjalanan pulang dia melihat seseorang tergeletak di pinggir jalan dalam derasnya hujan. Dokter Hadi berhenti dan menolong wanita itu, dia mengira itu adalah korban tabrak lari. Karena tidak ada orang lagi di sana dia memutuskan untuk menolongnya seorang diri. Mungkin itu karena jiwa kedokteran nya, ingin menolong siapapun yang sedang membutuhkan dan menyelamatkan nyawa orang lain.


Ternyata seseorang yang di tolongnya adalah Helin. Sebenarnya Dokter Hadi juga terkejut sekaligus penuh dengan tanda tanya kenapa Helin bisa tidak sadarkan diri di pinggir jalan dalam derasnya hujan. Mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya karena Helin sudah sadar dari istirahat panjangnya selama 3 hari.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan Lupa like nya ya......


__ADS_2