
Naura seakan tidak ingin membuka kedua matanya untuk melihat wajahnya sendiri di cermin, dia merasa wajahnya begitu mengerikan untuk di lihat.
Tapi dia berusaha untuk menguatkan hatinya, tidak ingin memelihara wajah mengerikan itu terlalu lama. Dengan pelan dia membuka mata. Naura mulai membuka matanya sebelah kiri, terlihat samar dari dalam cermin wajahnya terlihat biasa saja dan tidak ada yang aneh, kemudian dia menutup matanya kembali. 'sepertinya terlihat tidak menyeramkan'.
Naura menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya dengan pelan dari mulut, pertanda dia sudah siap membuka kedua matanya.
Naura membuka mata dan dilihatnya pantulan wajahnya di dalam cermin, Naura tidak bereaksi menatap cermin di hadapannya, kemudian dia meraba wajahnya.
"Aku harap cermin ini sedang tidak membohongi ku" dia merasa tidak percaya dengan apa yang sedang di lihatnya.
Naura masih tidak percaya dengan cermin di hadapannya, dia berinisiatif mengambil cermin lain yang lebih kecil di atas meja yang sama untuk melihat wajahnya kembali tapi hasilnya tetap sama seperti yang di lihatnya dari awal bahwa bintik merah yang memenuhi wajahnya telah hilang.
"Bagaimana bisa begini??,, obat ini hanya ku pegang dan belum sempat ku gunakan tapi wajahku menjadi sembuh, Woow obat yang luar biasa" Naura mengangkat obat yang dipegangnya.
Naura menjadi sangat senang setelah wajahnya kembali seperti sebelumnya. Dia berncana akan berterimakasih kepada Dokter yang telah memeriksanya dan juga kepada Helin yang bersedia mengantar nya ke rumah sakit tadi.
Naura mengambil tasnya dan akan menemui Helin di tempatnya bekerja. Dia tidak ingin menunda ucapan terimakasihnya.
Naura mengemudikan mobilnya dan melaju ke arah yang di datanginya tadi untuk mengantar Helin bekerja. Hampir satu jam barulah dia sampai ketempat tujuannya.
Naura memarkirkan mobilnya tapi dia tidak segera keluar dari dalam mobil karena baru teringat sesuatu.
__ADS_1
"Apa yang ku lakukan?, bukankah kedatangan ku akan menggangu pekerjaan nya nanti". Naura masih berfikir untuk melanjutkan rencana awal atau tidak.
Naura membuka kaca mobilnya dan memperhatikan suasana restoran yang terlihat ramai pengunjung.
"Seperti nya menarik, bagaimana jika aku masuk saja sebagai pengunjung"
Naura menutup kaca mobilnya kembali dan keluar lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran.
Di dalam restoran
Bisma duduk di kursi sambil mengamati laptop di depannya.
"triiiingggg..."
Hp di atas meja berdering, Tapi Bisma tidak menghiraukanya, dia tetap fokus menatap laptopnya.
Hp itu berbunyi sekali lagi, pandangan Bisma beralih pada hp nya lalu meraih benda itu dan melihat nama siapa yang tertera di layar panggil hp. Setelah mengetahui nama siapa yang muncul, Bisma meletakan kembali Hp itu tanpa menggeser tanda merah atau hijau di dalam layar.
Hp itu sedikit bergetar dan berdering dengan Sekali bunyi pertanda ada pesan masuk. Bisma kembali meraih Hp itu dan membuka pesan. Setelah membaca isi pesan itu, Bisma memasukan hpnya dalam saku jas dan menutup laptop di depannya.
Bisma beranjak dari tempat duduk dan segera pergi ke luar.
__ADS_1
Bisma mengamati pengunjung restoran miliknya hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah meja. Bisma mengangkat tangan sambil melempar senyuman ke arah meja itu.
***
Naura baru saja duduk di dalam restoran di mana tempat Helin bekerja. Naura duduk di meja no 14, Sambil menunggu pesanannya datang Naura mengamati sekeliling restoran.
Di dinding kasir di hiasi dengan tulisan yang berhiaskan lampu LED warna, Naura membaca tulisan itu "Bisma's restouran". Kemudian pandangannya beralih pada suatu tempat dimana berdiri seorang pria tampan yang tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Naura tidak membalas lambaian tangan itu tapi membalas senyumannya dengan sedikit malu malu. Pria itu berjalan ke arah mejanya.
Naura merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya hari ini bahwa ada pria tampan yang sedang menghampiri nya, mungkin pria itu ingin mengajaknya berkenalan pikirnya.
"Kurasa ini bukan ilusi"
Pria itu berjalan semakin mendekat. Naura menundukan kepalanya dan menoleh ke arah yang berbeda seolah olah tidak tau jika pria itu menghampirinya. Ceritanya Naura sedang jual mahal, malu dong jika sebenarnya dia benar benar berharap untuk di dekati.
Pria itu terus saja berjalan dengan gaya cool yang membuat Naura meleleh melihatnya. Dia melewati meja Naura dan duduk di meja bagian belakang dengan No.15 tepat di belakang Naura. Tapi Naura tidak menyadari jika pria itu telah melewati mejanya karena dia menoleh kearah lain.
Naura menunggu pria itu menyapanya, tapi yang di tunggu tunggu tidak kunjung menyapa. Naura mengembalikan posisi pandangannya seperti semula tapi sosok yang di lihatnya tadi sudah tidak ada.
"Sudah ku duga ini cuma ilusi" Naura menjadi cemberut.
__ADS_1