
Naura baru saja pergi karena Haris sudah menjemput nya untuk acara makan malam mereka.
Naura memakai gaun yang di kirim oleh Haris untuknya. Sebenarnya dia sangat kecewa memakai gaun tersebut tapi karena Bisma berpartisipasi dalam pemilihan gaun itu maka dia bersedia memakainya.
Bisma dan Haris memilihkan dan membelikan gaun untuk Naura dan Helin secara bersama, tapi Naura sengaja tidak memberikan gaun yang Bisma peruntukan untuk Helin. Dia merasa kecewa karena gaun Helin lebih bagus dari gaunnya apalagi gaun itu dari Bisma pria yang di sukainya.
Dia juga sengaja meninggalkan Helin lebih dulu untuk menghindarinya.
Naura menghampiri mobil Bisma dengan terburu buru. Setelah masuk kedalamnya dia bergegas meminta Haris untuk segera melajukan kendaraan yang sedang mereka tumpangi.
"Jangan terburu buru sayang.. kita memiliki banyak waktu untuk sampai di sana" Haris menenangkan Naura yang pikirnya tidak sabar untuk sampai ke tempat tujuan mereka.
Mendengar kata sayang dari Haris membuat Naura semakin kesal, tapi dia masih bisa menyembunyikannya.
Dia memegang tangan Haris dan mengeluarkan senyum terbaiknya agar Haris tidak mencurigainya karena memikirkan hal lain.
"Aku hanya tidak sabar untuk melihat kejutan yang kamu buat untukku, jadi maaf kan aku bersikap seperti terburu buru seperti ini" elak Naura.
"Jangan meminta maaf, aku mengerti penasaran mu, bahkan aku menyukai itu."
Haris memperlakukan Naura dengan penuh pengertian.
Berbeda dengan Naura yang pikirannya di penuhi dengan Bisma yang kini telah menjadi kekasih Helin. Hal itu membuatnya kembali tidak menyukai Helin lagi.
***
Di dalam kamar, Helin mendapat pesan dari Bisma untuknya. Bisma mengatakan bahwa dirinya harus menggunakan gaun yang yang telah Bisma kirim untuknya. Tapi karena dia tidak menerima kiriman dalam bentuk apapun jadi dia merasa bingung.
Helin juga tidak memiliki gaun pesta kini dia merasa dilema untuk hadir di acara Haris dan Naura.
"Nona Helin, apa membutuhkan bantuan ku?" Peri Luna menawarkan diri.
"Apa yang bisa kau lakukan untuk membantu ku" Tanya Helin masih dalam suasana bingung.
"Aku bisa melakukan ini" Peri Luna memutar tongkat kecilnya ke arah Helin.
Seketika itu cahaya biru yang keluar dari tongkat itu mengelilingi tubuh Helin. Cahaya itu menyatu dan membentuk sebuah gaun yang sangat indah berwarna biru menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
Helin takjub dengan apa yang terjadi padanya.
"Nona, bagaimana menurutmu ?, apa kamu suka ?" Tanya Peri Luna dengan bangga.
Helin mengangguk dan masih merasa takjub.
***
Haris mengundang semua sahabat sahabatnya untuk merayakan hari jadi mereka untuk yang pertama kalinya, semua sudah tampak hadir dan mengucapkan selamat pada pasangan itu.
Bisma tampak kesal karena Helin belum kunjung datang padahal acara makan malam mereka akan segera di mulai. Awalnya dia mengira jika Helin akan datang bersama Naura karena Naura mengatakan akan mengajak Helin pergi bersamanya jadi Bisma tidak menjemputnya. Tapi setelah Naura sampai di sana Naura mengatakan jika Helin tidak ingin ikut bersamanya dan akan pergi sendiri dengan alasan tidak ingin mengganggu kebersamaan Naura dan Haris.
Leo, Hadi dan Soni mendekati Bisma yang tampak kesal, raut wajahnya sangat tidak bersahabat seperti biasanya.
Hadi menepuk bahu Bisma, "Wajahmu sangat buruk jika kau seperti itu, apa yang sedang kau tunggu di sini sendirian. Bahkan tidak menghiraukan keberadaan kami di sini."
"Tentu saja kekasihnya" Sambung Soni santai.
Hadi menjadi antusias mendengar kalimat yang di keluarkan Soni.
Bisma menurunkan tangan Hadi dari bahunya.
"Kau yakin ingin tau siapa dia ?" Tanya Bisma balik.
"Nanti kau juga mengenali orangnya, ku harap kau tidak kecewa bahkan patah hati ya." Soni berbisik di telinga Hadi.
Leo yang menyaksikan kekonyolan sahabatnya hanya tersenyum karena seperti biasa jika membahas wanita dia tidak banyak bicara.
"Guys kita mulai acaranya" Haris memanggil Sahabatnya untuk berkumpul bersama.
"Selamat malam semua, maaf apa aku terlamabat ?"
Suara wanita yang terdengar jelas tapi lembut membuat semua mata tertuju padanya.
Naura menatap wanita itu dengan tatapan tidak suka, tapi berbeda dengan pria pria yang ada di sana, mereka seperti terbius dengan kedatangan wanita itu.
Helin datang tepat waktu saat acara makan malam akan di mulai. Dia berjalan dengan anggun mendekati Bisma yang tampak takjub dengan dirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, pasti sudah menungguku lama sekali ya ?" Tanya Helin pada Bisma.
"Tidak" jawab Bisma masih memandangi Helin tanpa berkedip. "Ayo duduk" Ajak Bisma menggandeng tangan Helin.
Mereka berjalan melewati tiga pria yang berjajar di depan Bisma tadi, tapi Helin menghentikan langkahnya ketika berada di antara pria pria itu.
"Ada apa" Tanya Bisma
"Tunggu sebentar"
Helin menyapa salah satu dari tiga pria di sana. Helin menundukan sedikit kepalanya kepada pria itu.
"Dokter Hadi, Terimakasih"
Dokter Hadi membalas ucapan itu dan ikut menundukan sedikit kepalanya.
"Jangan sungkan Nona Helin."
Helin juga menyapa Soni yang merupakan Dosennya.
"Selamat malam Pak Son !" Sapa Helin.
Soni tersenyum dengan sapaan itu membuat Bisma melototkan matanya ke arah Soni bak Singa yang hendak menerkam, tapi Soni tidak menghiraukan hal itu.
"Jangan panggil Pak jika sedang berada di luar kampus, cukup panggil Soni saja."
Yang lain tertawa menutup mulut dan menyembunyikan muka masing masing mendengar hal itu.
"Tapi rasanya sangat tidak sopan jika saya menyebut nama anda."
"Terserah saja semaumu memanggilnya apa" Sambung Bisma karena tidak ingin Helin berlama lama dekat dengan sahabat sahabatnya.
"Ayo" ajak Bisma kepada Helin.
Helin mengikuti langkah Bisma tanpa menyapa satu pria yang tersisa yaitu Leo.
Leo juga tampaknya tidak menghiraukan hal itu, Helin menyapa dirinya atau tidak itu sama saja pikirnya.
__ADS_1