
Helin masih menangis tersedu sedu di dalam mobil Niko sambil menceritakan kejadian yang menimpanya tadi.
Helin sudah mencoba untuk kuat dan menghentikan rasa sedihnya tapi hal itu tidak bisa dia lakukan.
Niko masih setia menunggu Helin sampai dia benar-benar menjadi tenang.
Selama ini Niko merasa urusan keluarganya sangat rumit tapi setelah mendengar cerita keluarga Helin, dia berfikir masalah dalam keluarganya belum ada apa-apanya jika di bandingkan dengan maslah yang menimpa Helin. Menurutnya wajar saja Helin menghadapi semuanya dengan air mata karena hanya itu yang Helin miliki saat ini tanpa keluarga dan berjuang hidup seorang diri. Menyedihkan Bukan?, Bahkan dalam lubuk hati Niko yang paling dalam dia tidak akan bisa bertahan jika di posisi Helin sekarang adalah dirinya.
Setelah Helin terlihat lebih tenang, Niko mengemudikan mobilnya dan mengantar Helin pulang ke kosannya yang baru.
Sepanjang perjalanan hingga sampai di tempat tujuan tidak ada pembicaraan di antara mereka, Niko juga tidak berulah bahkan tidak bersuara sedikitpun membuat suasana di dalam mobil benar benar tenang.
Setelah sampai di depan kosannya, Helin tidak langsung keluar dari mobil. Dia melirik Niko sebentar lalu tersenyum, sayangnya Niko sama sekali tidak membalas senyuman itu. Rasanya dia sangat berat untuk merekahkan bibirnya sedikit saja.
"Nik, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Helin memastikan karena dari tadi dia tidak mendengar suara Niko sedikitpun.
Niko menaikan alisnya tidak yakin jika pertanyaan yang di lontarkan Helin barusan memang di tujukan untuknya. 'Bukankah seharusnya Aku yang bertanya seperti itu kepadamu.' Sebenarnya Niko ingin berkata demikian tapi suaranya tertahan dan sangat berat untuk di keluarkan jadi dia hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Syukurlah kalau begitu, Aku masuk dulu ya."
Niko kembali mengangguk. Helin menutup pintu mobil kembali setelah berpamitan.
Niko menghela nafas panjang, matanya masih menatap punggung Helin yang membelakangi mobilnya. "Benar-benar wanita tangguh tapi sangat di sayangkan hatiku tidak memiliki rasa cinta untuknya, setidaknya aku beruntung bisa berteman dengannya."
Niko melajukan mobilnya kembali meninggalkan lokasi kosan Helin.
__ADS_1
Helin baru saja menaiki satu anak tangga ketika suara klakson mobil menghentikan langkahnya.
Helin berbalik memastikan siapa yang membunyikan klakson. Dia mendapati mobil Bisma terparkir menggantikan mobil Niko tadi. Tampak Bisma keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arahnya. Helin menunggu sampai Bisma mendekati dirinya.
"Maaf aku terlambat menjemputmu di kampus."
"Nggk apa-apa mas, ayo masuk!"
Bisma menarik lengan Helin yang hendak melanjutkan menaiki anak tangga membuat langkahnya terhenti dan berbalik menghadap Bisma.
"Ayo ikut"
"Kemana?"
"Ikut saja, setelah tau kamu pasti akan suka." Bisma menggandeng tangan Helin agar ikut dengannya. Mereka masuk ke dalam mobil untuk menuju ke suatu tempat.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang di penuhi dengan gaun pengantin.
Helin terpana dengan indahnya gaun pengantin yang tersusun rapi di manekin.
"Mas ini...."
"Hem... kita akan membeli baju pengantin di sini" Bisma memperhatikan satu persatu gaun pengantin di sana.
"Aku suka yang ini" Bisma mendekati salah satu gaun pengantin berwarna silver, Helin ikut menoleh.
__ADS_1
"Kamu harus mencobanya!"
Pegawai butik melepas gaun pengantin yang di pilih Bisma dari manekin dan membawanya keruang ganti agar Helin dapat mencoba dengan bantuannya.
Selang beberapa menit Helin keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun pengantin tadi.
Bisma memperhatikan Helin dari ujung gaun sampai ujung rambutnya, Helin terlihat sangat anggun memakai gaun pengantin pilihnya.
Bisma mendekati Helin, dia menyelipkan rambut Helin yang terurai. "Aku ingin kamu memakainya di hari pernikahan kita."
Helin mengumbar senyum malu-malu, "Aku juga tidak sabar untuk memakinya"
"Bukankah sekarang kamu sudah memakainya" Bisma ikut tersenyum, tapi kali ini senyumanya terlihat mengejek.
Helin memukul dada Bisma pelan, "Menertawaiku."
Helin melepas kembali gaun pengantin yang dia kenakan, mereka sepakat membeli gaun itu untuk pernikahan mereka.
Gaun itu mereka serahkan ke pegawai yang bertugas melayani mereka untuk di bungkus agar segera di kirim ke kosan milik Helin.
Setelah urusan mereka selesai, Bisma mengantar kembali Helin ke kosannya. Kali ini Bisma tidak ikut mampir, dia memilih untuk langsung pulang kerumahnya.
Helin kembali menyusuri anak tangga untuk mencapai ruang kosannya di lantai dua. Helin membuka pintu dan mencampakkan tas di tangannya ke kursi lalu mengistirahatkan tubuhnya di kursi yang sama.
Ketika Helin memejamkan mata, kejadian di kampus melintas di kepalanya lagi. Helin kembali duduk lalu mengacak ngacak rambutnya. Dia merasa pusing tidak tau harus merasa sedih atau bahagia dengan kejadian hari ini.
__ADS_1
Helin hendak menjatuhkan kembali tubuhnya di kursi tapi mengurungkan niatnya karena dia mendengar suara pintu terbuka. Helin baru teringat jika dia lupa mengunci pintu tadi.
Helin bergegas menuju pintu untuk memastikan siapa yang membuka pintu kosannya.