AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
68. Terharu


__ADS_3

Helin bangun pagi pagi sekali, setelah mandi dan sarapan dia bersiap siap untuk pergi.


Setelah keluar dari kosannya, Helin menuju halte yang tak jauh dari sana. Helin tidak bisa memesan taxi atau ojek online lagi seperti biasa karena dia tidak memiliki Handphone, maka yang bisa di lakukannya sekarang jika berpergian hanya menggunakan angkutan umum.


Ternyata peminat angkutan umum di kota yang Helin tinggali saat ini sangat banyak juga, hal itu terbukti saat Helin berdesak desakan berada dalam KRL.


Setelah menunggu sambil berdesakan akhirnya Helin sampai di tempat tujuan yaitu Apartment milik Niko.


Helin menatap tempat itu beberapa saat sebelum memutuskan masuk kedalamnya.


Saat Helin berdiri di sana, Dia melihat Leo keluar dan menuju tempat parkiran.


Helin buru buru menghindar untuk bersembunyi agar dia terhindar dari pandangan Leo. Untung saja di tempat itu ada sebuah taman yang memiliki tanaman hias berdaun rimbun, tempat itu yang di jadikan Helin sebagai tempat persembunyian.


Leo juga seperti tampak terburu buru, sehingga mobil yang di kendarainya berlalu dengan cepat dari sana.


"Untung saja", Helin mengelus dada dan keluar dari tempatnya bersembunyi.


Saat Helin tepat berada di depan pintu, sebelum menekan bel, pintu itu terbuka lebar. Kali ini Niko yang yang terlihat di sana.


Niko membulatkan kedua matanya menatap Helin yang tiba tiba datang setelah menghilang tanpa kabar.


"Apa kau ini Helin?"Tanya Niko dengan ekspresi yang masih sama.


"Menurut mu?"

__ADS_1


Niko mendekati Helin dan memutar kan tubuh Helin beberapa kali. "Aku tidak yakin jika ini Helin temanku."


"Apa yang kau lakukan, kau membuatku merasa pusing" Helin setengah berteriak Karana Niko memaksa memutar tubuhnya untuk di teliti.


"Iya benar, kau Helin temanku." Niko bergegas memeluk tubuh Helin dalam dekapannya, "Kemana saja kau selama ini, apa kau tau kami sangat khwatir kepadamu?"


Helin meronta karena Niko memeluknya sanagat erat, "Niko, lepaskan aku. Kau membuatku sesak."


Niko bergegas melepaskan pelukannya, Setelah itu sebuah tamparan mendarat di pipinya. "Ini membuatku semakin yakin jika kamu Helin yang nyata." sambil mengelus pipi bekas tamparan Helin.


"Jangan mengelabuiku, kau tau sejak awal jika aku benar benar Helin, tapi kau hanya mencari kesempatan memelukku." Helin membesarkan matanya menatap Niko sambil merengut.


Niko menggaruk kepalanya sambil menyunggingkan senyum nakal khasnya, "Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya bersemangat dan terlalu senang karena kau telah kembali."


"Nona..." Kini Peri Luna yang menghambur memeluk Helin. "Kau kemana saja selama ini? Apa kau tau.... blaaaa..bla...bla..." kalimat Peri Luna seakan tidak berujung mengungkapkan kekhawatirannya kepada Helin.


Peri Luna menghembuskan nafas dan di sertai lelehan air mata di pipinya. Entah kenapa kalimat Helin barusan membuat hatinya menjadi haru.


Semasa dia menjadi peri dan hingga kini dia menjadi manusia, baru kali ini Helin berkata seperti itu, menurut orang lain itu sangat sederhana tapi berbeda dengan Peri Luna, mungkin karena selama ini Helin sering mengacuhkannya, Sehingga perkataan Helin kali ini membuat dirinya menjadi terharu.


Niko memotong pembicara mereka berdua, Niko menarik kedua gadis itu agar melanjutkan pembicaraan di dalam ruangan.


"Helin, ceritakan kemana saja kau selama mengilang?"


"Benar Nona, ceritakan apa yang telah terjadi padamu, Kenapa bisa menghilang?"

__ADS_1


"Aku tidak menghilang. Ceritanya panjang..."


"Sepanjang apa nona? ceritakan saja, kami bersedia mendengarnya!"


Helin menarik nafas, lalu menceritakan semua yang terjadi padanya dari awal sampai akhir dengan sejelas jelasnya, Tapi dia tidak menceritakan jika Leo mengancam dirinya. Selain itu, dia juga memberitahukan tempat tinggalnya yang baru dan berencana mengajak Peri Luna tinggal bersamanya.


Mendengar Hal itu, Niko yang menjadi bersedih. Walaupun dia tidak mengatakannya tapi sorotan mata Niko bisa di tebak.


Peri Luna juga setuju dengan ajakan Helin, membuat Niko menjadi benar benar merasa sedih. Kali ini Niko tak lagi banyak bicara seperti biasa tapi dia tetap mengimbangi percakapan di anatara mereka.


Niko sudah merasa nyaman berada di dekat Peri Luna, walaupun sang peri merepotkan dirinya setiap saat tapi hal itu juga yang membuatnya merasa nyaman di dekat Peri Luna. Mungkinkah Niko memiliki perasaan yang lebih terhadap Sang Peri? Hanya dirinya yang tau.


Helin dan Luna memperhatikan Niko yang tampak melamun. Mereka berdua menjadi heran karena tidak biasanya dia seperti itu. Helin memandang Luna sambil mengangkat kedua alisnya, Peri Luna juga membalas dengan mengangkat kedua bahunya. Lalu pandangan mereka kembali fokus terhadap Niko.


Helin mendekap kening Niko dengan telapak tangannya. "Tidak panas!."


Niko menyadari hal itu, Kenapa? Apa kau mengira aku sedang sakit?. Tidak aku baik baik saja." Niko menjelaskan. Tatapannya kembali sendu walaupun ada senyuman di bibirnya.


Helin menepuk keningnya, dia teringat sesuatu. "Aku harus kembali."


Helin bergegas menuju pintu keluar meninggalkan Luna dan Niko. Setelah jauh meninggalkan Pintu, Helin kembali berbalik dengan setengah berlari.


Luna dan Niko masih di posisinya, mereka masih menatap Helin dengan penuh kebingungan.


"Luna aku membutuhkan beberapa hari untuk menjemputmu, sekarang aku masih ada urusan. Jaga dirimu bye..." Setelah mengatakan kalimatnya, Helin Kembali berlalu, Kali ini dia benar benar pergi. Entah urusan penting apa yang akan di urusannya sehingga dia terburu buru Seperti itu.

__ADS_1


Kini hanya mereka berdua yang tersisa di ruangan itu. Niko menjadi sedikit lega karena masih bisa memandangi Luna dengan leluasa. Untung saja Helin tidak langsung membawa Peri Luna bersamanya jadi Niko masih memiliki beberapa hari lagi bersama Luna.


__ADS_2