
Niko dan Helin berbelanja bersama untuk Luna.
Mereka tampak asik memilihkan pakaian dan keperluan Luna sambil sesekali bercanda. Seperti sepasang teman bahkan lebih dari teman bahkan lebih dari kekasih. Banyak mata yang memperhatikan mereka, mungkin mereka juga menilai seperti itu, serasi dan juga kompak.
Banyak belanjaan yang mereka beli membuat Niko kualahan membawanya sendiri karena dia tidak mengizinkan Helin membawa barang itu satu pun.
"Ku rasa kamu perlu bantuan ku," seulas senyum canda menghiasi wajah Helin.
"Tidak, aku masih bisa mengatasinya"
"Tapi ini banyak sekali, aku ingin membantu mu, aku tidak tega melihatmu dengan beban sebanyak ini" Helin sambil mengelap wajah Niko menggunakan tisu yang ada di tangannya.
"Itu semangatku, hahaha...." Niko tetap berisikeras membawa belanjaan mereka sendiri biarpun Helin merayu dengan mengusap keringat di wajahnya.
Niko melanjutkan langkahnya yang di susul Helin dari belakang.
Beberapa jepretan kamera yang mereka tidak sadari dari tadi sudah menjadi banyak gambar.
Langkah Niko terhenti karena beberapa orang menghadangnya.
"Niko..., aku ingin berfoto bersamamu dan ingin beberapa tanda tanganmu." Semua tampak antusias berebutan ingin lebih dulu. Niko tampak sibuk dan meletakan barang belanjaan yang tadi di bawanya untuk meladeni para fansnya.
Di sela kesibukan Niko, Helin pergi begitu saja tanpa berpamitan dengannya.
Setelah menyelesaikan permintaan beberapa fansnya, Niko segera berpamitan dan tidak menyelesaikan permintaan mereka semua karena Helin hilang dari jangkauan pandangannya.
Kemana dia?, Apa dia marah padaku? Kenapa dia pergi begitu saja?
Niko mencari Helin ke berbagai arah yang tidak tau harus dia tuju sambil membawa barang belanjaan yang banyak tadi.
Karena tidak juga menemukan Helin, Niko memutuskan pergi ke Luar untuk bertanya pada security agar pencarian nya lebih mudah.
Sosok yang di cari Niko ternyata sudah ada di luar dan berjalan kembali menuju arah pintu masuk.
Niko segera menghampiri dan melontarkan kekhawatiran nya.
"Maaf Nik, aku tadi mencari seseorang, Ku lihat kamu sedang sibuk tadi, jadi aku tidak memberi tahumu dulu."
"Ya baiklah, tapi kenapa wajahmu jadi sendu seperti itu?, Sebelum nya kamu baik baik saja bersamaku tadi?." Tanya Niko penuh khawatir pada temannya yang menjadi murung.
__ADS_1
"Aku tadi melihat seseorang, setelah aku mengejarnya sampai keluar ternyata dia sudah pergi menggunakan mobil." Jelas Helin masih dalam wajah sendunya.
"Itu saja, seistimewa apa orang itu sehingga membuatmu sesedih ini?, Apa dia pacarmu yang sedang menggandeng kekasih barunya?"
Helin menggelengkan kepalanya.
"Lalu siapa?" Niko sangat penasaran siapa orang yang di maksud Helin.
"Ceritanya sangat panjang, aku akan menceritakannya di perjalanan pulang, lagi pula aku tidak tega melihatmu membawa beban sebanyak ini."
Helin dan Niko melanjutkan perjalan pulang setelah memasukan semua barang belanjaan ke dalam mobil.
"Siapa dia Helin" Niko masih penasaran
Helin tidak langsung menjawab, dia lebih dulu menitikan air matanya.
Niko serba salah melihat Helin menangis di sampingnya. Tidak berani menanyainya lagi, tapi dia sangat penasaran.
Helin membuka tas yang di pakainya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
3 Lembar foto dia sodorkan kepada Niko yang sedang menyetir.
Suasana di dalam mobil itu hening, hanya sesekali Isak tangis Helin yang terdengar lembut.
"Tadi aku melihat seorang wanita yang mirip seperti di foto itu, aku sangat yakin dia saudara ibuku. Tapi sayang sekali aku kehilangan jejaknya. Aku harus bertemu lagi dengannya, karena dia kembaran ibuku. Jika aku bisa melihatnya maka aku juga bisa melihat sosok ibu ku di dalam dirinya."
Air mata Helin tetap saja masih membasahi pipinya walaupun dia sudah menceritakan kesahnya.
Niko memberhentikan mobilnya lalu menyandarkan Helin di bahunya membuat Helin sedikit lebih nyaman.
Setelah terlihat tenang mereka keluar dari mobil dan memasuki apartemen milik Niko.
Mereka berdua di sambut Leo dengan wajah yang teramat kesal.
"Kenapa lama sekali,?"
"Maaf kak, sudah membuatmu lama menunggu, aku akan membuatkan minum untukmu."
"Makanan juga, aku sangat lapar."
__ADS_1
"Biar aku saja yang membuatnya, kita semua belum memakan apapun." Helin langsung menuju dapur tanpa persetujuan dari siapa pun.
"Ada apa dengannya?" Leo bertanya kepada Niko karena Helin tidak seceria biasanya.
"Ada sedikit masalah denganya, Tapi sebentar lagi akan baik baik saja. Apa Luna merepotkan mu?"
Leo menarik nafas dalam mendengar nama Luna di depannya.
"Aku hampir gila berada di dekatnya, ini yang terakhir kalinya kau menitipkan gadis gila itu padaku."
"Kenapa?, apa kakak tidak tertarik padanya, dia sangat cantik, hampir mendekati kata sempurna dari semua gadis yang ku temui, bahkan mengalahkan dia." Sambil menunjuk punggung Helin yang sedang memasak.
Leo memukul kepala adiknya.
"Apa yang barusan kau katakan, bukanya dia kekasihmu, mengapa ingin membaginya denganku. Ku harap kau bukan pria yang seperti itu. Atau mungkin kau mulai menyukai temanmu itu?" Menunjuk Helin dengan bibirnya sedikit di monyongin.
Niko meringis sambil menggosok bagian kepala yang di pukul Leo.
"Kakak, aku hanya bercanda tapi kau memukulku sekeras itu."
Helin datang membawa 4 porsi nasi goreng yang di peruntukan untuk mereka berempat termasuk Peri Luna.
"Kalian makanlah dulu, aku akan memanggil Luna untuk makan bersama kita."
"Dia sudah makan" Jawab Leo tapi tidak melihat lawan bicaranya.
"Kapan?, apa yang di makannya?" Helin merasa tidak percaya dengan perkataan Leo.
"Dia memakan semuanya yang bisa dia makan, Jika masih tidak percaya tanyakan saja langsung padanya" Cetus Leo.
Niko dan Helin saling berpandangan mendengar perkataan Leo, teringat kejadian kemarin malam yang di lakukan Peri Luna menghabiskan semua makanan.
"Nona Helin, kamu sudah datang. Aku merindukanmu" Peri Luna menghambur memeluk Helin.
"Luna, aku juga merindukanmu. Lihat apa yang kami bawa untukmu!" Helin menunjuk belanjaan yang di bawa Niko tadi.
Mereka berdua membawa semua barang barang itu ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Suara tawa dua wanita itu terdengar samar sampai ke luar ruangan membuat Niko penasaran apa yang mereka tertawa kan.
__ADS_1
Jangan Lupa like dan komentarnya ya Reader agar saya bisa mengetahui kekurangan tulisan dalam karya saya. Terimakasih