
Helin tinggal sendiri di ruangan itu ketika Niko meninggalkan dirinya untuk pergi ke toilet.
Helin masih sibuk melihat bingkisan yang merupakan sebuah tas di dalamnya. Dia mengeluarkan tas itu dan terlihat begitu senang mengamati tas barunya.
"Apa kau menyukai nya?"
"Tentu saja, apalagi ini...."
Helin menjawab pertanyaan yang baru saja di dengarnya. Tapi seketika dia teringat bahwa Niko baru saja berpamitan dengannya untuk pergi ke toilet. Jadi siapa yang mengajakku bicara? Pikir Helin.
Helin memutar badannya dan melihat ke belakang karena asal sumber suara itu dari belakangnya.
Helin merasa terkejut saat melihat seorang yang sedang duduk di kursi dengan bersandar. Dia tidak tau kapan pria itu datang.
Pria itu menarik kursinya dan duduk di dekat Helin.
"kamu." Helin menunjuk pria itu.
Kapan dia datang, kenapa aku tidak menyadarinya.
"jangan menunjukku seperti itu, itu sangat tidak sopan."
Pria itu menangkap tangangan Helin dan mendekatkan wajahnya.
"Beberapa hari lalu menggoda sahabat sahabatku dan hari ini kamu menggoda pria lain, seperti nya kau sangat ahli dalam menggoda."
Pria itu mengeluarkan kalimat nya dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.
Sebenarnya Helin ciut dengan ekspresi itu, tapi setelah mendengar kalimat yang di dengarnya membuat Helin berontak menepis tangan pria yang sedang memegang pergelangan tangannya.
"Apa maksud mu dengan kata menggoda?, memangnya siapa yang aku goda dan apa urusannya denganmu?"
"Bukanya sudah ku katakan tadi. Apa aku harus mengulang nya lagi"
__ADS_1
Dasar tidak jelas, ada apa dengan pria ini kemarin memarahiku dan sekarang menuduhku. Apa Dia sebegitu dendam padaku karena tidak meminta maaf padanya kemarin.
"Kenapa diam,.... apa kamu tidak bisa menjawabnya." Pria itu menaikan sedikit ke atas garis bibirnya seperti senyuman mengejek. "Oh atau kamu sedang berfikir bagaimana cara untuk menggodaku juga." Sambil melipat tangan di atas dada.
Helin merasa tidak terima dengan tuduhan itu. "Dengar ya pria sommmbong, ku rasa kau juga tau jika menuduh seseorang tanpa bukti itu merupakan sebuah kejahatan."
"Ya.. benar sekali yang kamu katakan gadis penggoda. Menuduh seseorang itu harus memiliki bukti" Pria itu menaruh tangan kanannya yang berpangku pada tangan sebelah kiri dan meletakkannya di bawah dagu seperti orang yang sedang berfikir.
Pria itu seperti orang yang sedang berfikir namun juga tidak, intinya dia hanya mengejek.
Pria itu menunjuk sesuatu yang sedang Helin pegang di sebelah tangan kirinya.
"Itu Buktinya"
Helin merasa heran dan tidak mengerti mengapa pria itu mengatakan bahwa tas yang diberikan oleh Niko menjadi sebuah bukti.
"Jika kau tidak menggoda mana mungkin seorang pria bisa memberikan tas bermerek seperti itu, aku yakin kamu tau berapa harganya."
Helin mengangkat tas itu dan memperhatikannya.
Helin menurunkan benda itu dari tangannya dan menaruhnya kebelakang. Dia meremas benda itu dengan keras.
Apa benar yang dikatakannya, jika benar kenapa Niko memberikan barang mahal ini padaku, apa maksudnya. Dia harus menjelaskan ini padaku nanti.
"Jangan menipuku.. ku pikir kamu hanya iri padaku karena aku mendapatkan ini dari seseorang yang baik dan tulus padaku."
Pria itu mengerutkan keningnya mendengar kalimat Helin yang mengatainya.
"Iri... hah bahkan aku bisa membeli tas 10x lipat lebih mahal untuk memenuhi gedung ini"
Sangat sombong dan arogan, aku bersumpah suatu saat nanti akan ku tahklukan dirimu sehingga bertekuk lutut kepadaku.
"Permisi Tuan Leo"
__ADS_1
Seseorang yang terlihat sudah berumur dan berbadan tegap menghampiri pria itu yang tak lain adalah Leo sang penguasa dunia bisnis.
Pria itu membisikan sesuatu kepada Leo, lalu memundurkan diri dengan hormat di belakang Leo.
Leo memerhatikan Helin di depannya,
"Lalu bagaimana.??"
"Lalu bagaimana apanya. aku tidak ingin berdebat lagi denganmu lagi"
Helin mulai melangkah untuk pergi dan dengan sengaja dia menabrak Lengan Leo karena Leo lebih tinggi darinya jadi dia tidak bisa menabrak bahu Leo.
"Nona anda...."
seseorang yang berada di belakang Leo coba menghentikan Helin karena telah menabrak tuan mudanya.
Seketika itu juga Leo mengangkat tangannya tanpa menoleh ke belakang.
Sekertaris Jimi mengerti dengan tanda itu dan menghentikan niatnya dan segera pergi untuk mengantar Helin keluar.
Setelah kepergian Helin, Niko baru saja keluar dari toilet karena dia merasa sakit perut setelah menyantap makannya bersama Helin tadi. Dia bergegas untuk menemui Helin karena takut Helin menunggunya terlalu lama.
Sebenarnya Leo yang sengaja membuat Niko sakit perut, dia menyuruh seorang pelayan untuk menaburkan sedikit bubuk di piring yang akan di gunakan Niko karena mengetahui dari pelayan di sana bahwa Niko akan mengadakan jamuan untuk teman wanitanya. Leo sebenarnya juga tidak menyangka bahwa teman wanita Niko adalah Helin.
Leo memiliki alasan melakukan itu karena tempat itu akan di gunakan oleh ayah dan ibu tiri mereka melakukan jamuan bersama Leo. Karena Niko tidak mengetahui hal itu jadi Leo menyusun rencananya agar Niko tidak tersinggung untuk menyudahi acara Niko dan temanya itu secara paksa.
Niko bergegas ke tempat dimana dia meninggalkan Helin tadi tapi sesampainya di sana dia tidak menemukan Helin tapi malah Leo yang berada di sana.
"Kakak, apa yang kau lakukan disini ?, Di mana teman ku?"
"*Dia memanggilku kakak.!! berarti dia sudah tidak marah lagi kepadaku.
***Hay teman, perkenalkan Nama saya Rita Haryani.
__ADS_1
jika menyukai karya ini jangan lupa like, komentar dan tips nya ya agar saya lebih semangat lagi untuk melanjutkan novel ini sampai selesai. Terimakasih***.....