
Hana mengajak Helin ke kamar seusai sarapan untuk beristirahat kembali. Hadi mengikuti mereka dari belakang karena tidak percaya jika Hana mampu memapah Helin hingga ke tempat tidur. Nyatanya Hana mampu melakukanya walaupun tubuhnya sangat mungil tapi tenaganya kuat juga.
"Kakak, istirahatlah. Jika memerlukan sesuatu katakan saja pada kak Hadi. Aku akan pergi ke sekolah dulu."
Helin mengangguk.
"Kak Hadi, aku berangkat." Sambil mengambil tangan kanan kakaknya dan menyentuhkan ke keningnya.
"Hati hati, belajar yang benar dan jangan nakal." Jelas Hadi pada adiknya.
"Kakak, aku bukan anak kecil lagi" Hana menggembungkan pipinya tidak terima dengan nasehat kakakya itu seperti menasehati anak kecil.
Hadi tertawa dengan wajah adiknya terlihat lucu saat sedang cemberut. Hadi mengusap kepala adiknya dengan kasar membuat rambut adiknya sedikit terlacak acak.
"Pergilah, nanti kau terlambat."
"Hem"
Hana meninggalkan Hadi dan Helin di ruangan itu dan akan pergi ke sekolah.
Helin tersenyum melihat keakraban kakak adik itu yang sangat nyaman di pandang mata. Itu kasih sayang dari hubungan keluarga yang sebenar benarnya pikir Helin.
Dokter Hadi duduk di pinggir tempat tidur mendekati Helin yang sedang beristirahat. Dia ingin menghilangkan rasa penasaran terhadap Helin atas kejadian kemarin saat dia menemukan Helin.
"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu!"
"Bertanya sesuatu, mengenai apa?"
"Aku hanya penasaran, kenapa kamu bisa pingsan di jalanan. Untung aku yang menemukanmu jika tidak aku tidak tau apa yang akan terjadi."
Helin mencoba mengingat ingat kembli kejadian 3 hari lalu yang menimpa dirinya.
__ADS_1
"Seingatku aku baik baik saja waktu itu. aku juga tidak tau kenapa aku bisa tidak sadarkan diri. Atau karena aku sangat mengantuk sehingga tertidur di sana."
"Ada ada saja. Lalu mengapa kamu membawa barang barangmu sangat banyak?, Lihat itu" Hadi menunjuk 2 koper besar milik Helin yang dia taruh di dekat lemari miliknya.
"Itu karena-----"
"Atau karena kamu di usir oleh Bu Suti?"
"Tidak. Ibu tidak mengusirku, dia hanya tidak mengizinkanku tinggal di sana lagi."
"Itu sama saja dia mengusirmu".
"Tidak, itu sangat berbeda. Jika di usir berarti dia menyuruhku pergi. Tapi jika tidak di izinkan artinya aku tidak boleh tinggal di sana." Jelas Helin.
"Terserah kau saja, bagiku itu sama saja dengan di usir, Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Helin menggeleng kan kepalanya.
Helin menyambar lengan Hadi dan memohon.
Hadi menepis tangan Helin yang memohon padanya.
"Apa yang kau lakukan? kau memohon padaku. Aku tidak melarangmu, kau boleh tinggal di sini semaumu. Sesuka hatimu, rumahku selalu terbuka untukmu kapanpun itu. Apalagi jika kamu ingin menjadi nyonya di rumah ini. Aku siap."
"Kau----" Helin melotot kan matanya.
Hadi menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal. " Aku hanya bercanda Hehehehe, jangan marah."
**
Ke esokan harinya.
__ADS_1
Helin sudah tampak lebih segar dan bertenaga tidak sepucat kemarin. Kali ini Helin yang menyiapkan sarapan untuk Hadi dan Hana.
Hana kali ini bangun agak terlambat, dia buru buru pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat meja makan di rumahnya sudah tersaji sarapan dengan aroma yang wangi membuat gadis itu menelan ludah karena aromanya.
"Apa kak Hadi yang menyiapaknnya?"
"Aku yang menyiapaknnya, khusus untukmu" Helin menyahut sambil membawa susu hangat yang akan di hidangkan di meja makan.
Hana duduk di meja makan meperhatikan dengan seksama.
tak lama Hadi juga datang dan duduk di sana.
"Wah, hari kau membuat sarapan yang berbeda Hana?" Tanya Hadi ceplos.
Hana menggeleng, bibirnya menunjuk ke arah Helin yang sedang meneguk susu.
"Kau yang membuatnya?" Tanya Hadi tidak percaya.
Helin mengangguk sebagai jawaban mengiyakan pertanyaan Hadi.
"Aku akan mencobanya"
"Aku juga kak." Hana memasukan makanan itu kedalam mulutnya. "Emmm, ini benar benar sangat lezat. Ternyata kamu bisa memasak seenak ini kak." Puji Hana kepada Helin.
Setelah menghabiskan sarapan, Hana berpamitan kepada Hadi dan Helin untuk berangkat ke sekolah.
Sedangkan Hadi mengambil cuti selama beberapa hari hanya untuk merawat Helin yang sedang sakit kemarin.
Karena tidak ada kegiatan lagi hari itu, Hadi memutuskan untuk mengajak Helin keluar sekaligus mengajak Helin jalan jalan agar dia tidak merasa bosan hanya di rumah saja.
Saat ini tidak ada banyak hal yang Helin lakukan. Dia tidak bisa kembali ke rumah dan belum bisa kembali berkerja atau kuliah karena kondisinya yang belum pulih seutuhnya.
__ADS_1
Satu hal yang tidak terpikirkan olehnya.
Betapa khawatir orang orang terdekatnya karena tidak mendapat kabar selama beberapa hari dari dirinya.