AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
47. Menyelesaikan tugas


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan menyiapkan makanan, Helin langsung berangkat kerja.


Helin mengawasi semua karyawan karena dia sudah naik jabatan menjadi kepala pelayan dan tidak lagi bekerja di bagian belakang.


Semua karyawan di sana hormat dan patuh padanya apalagi mereka tau bahwa Helin juga sebagai kekasih Bisma, pemilik restoran tempat mereka bekerja.


Seseorang mendekati Helin,


"Selamat pagi Nona Helin"


"Selamat pagi," Helin mengenali orang itu yang tak lain adalah sekertaris Jimi.


Sekertaris Jimi, kenapa dia begitu pagi datang kemari. Padahal restoran ini baru saja buka. Apa dia ingin sarapan?.


"Nona Helin, karena Tuan Bisma tidak ada jadi saya menemui anda."


Menemui ku? untuk apa?


"Nona Helin, apa anda mendengar saya?"


Sekertaris Jimi mengulangi kalimatnya karena Helin tampak melamun.


"Ya ya sekretaris Jimi, aku mendengarmu"


Helin menjawab dengan cepat karena sekretaris Jimi terlihat pendiam tapi tegas di matanya.


"Ya baiklah, dengarkan. Tuan Muda Leo akan mengadakan jamuan untuk kliennya jadi dia memilih tempat ini. Saya harap anda memenuhi segala sesuatu yang akan di perlukan di tempat ini terutama hidangan terbaik."


"Tapi Sekretaris Jimi,..." Helin menghentikan kalimatnya sendiri.


"Tapi apa"


Kalimatnya begitu singkat membuatku berkeringat dingin menghadapi nya. Sekretaris Jimi, kau manusia atau robot. Kenapa bersikap dingin sekali.


"Tapi tunggulah Mas Bisma sebentar lagi, anda bisa membicarakan ini padanya."


"Tidak ada waktu untuk menunggunya karena dia tidak akan datang hari ini, bukankah sekarang kamu kepala pelayan di sini? jadi kamu yang bertanggung jawab jika boss mu tidak ada."


Sekretaris Jimi menatap Helin yang tampak ragu ragu.


"Nona Helin, Semakin tinggi jabatan yang kita miliki maka semakin besar tanggung jawab yang kita pegang, itu lah tugas dari sebuah pekerjaan. Maka dari itu profesional lah. jika kamu tidak sanggup untuk melangkah maka selamanya kamu tidak akan bisa maju."


Sekretaris Jimi, selain anda sangat arogan ternyata anda juga penasihat yang bijak. hahahaa...


Helin menggangguk pertanda mengerti.

__ADS_1


Sekretaris Jimi berlalu dari hadapan Helin, tapi setelah beberapa langkah sekretaris itu membalikan badannya. Menatap Helin untuk memastikan.


Sorotan mata dingin itu seolah olah mengatakan jangan mengecewakan.


Helin mengangguk sekali lagi dengan tatapan itu.


Sekretaris Jimi melanjutkan langkahnya yang terhenti dan berlalu tanpa menoleh lagi.


uuuuhps, berada di hadapannya seperti terikat tali tambang yang sangat terik membuatku sulit bernafas.


Helin kemudian meminta beberapa pelayan menyiapkan ruangan, dan bergegas ke belakang untuk meminta koki memasak hidangan.


Sesampainya di dapur belakang sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Helin mondar mandir sambil memegang keningnya.


"Aku Harus apa?"


Jamuan Tuan Muda Leo 1 jam lagi, tapi koki yang biasa memasak tidak bisa datang karena sedang sakit sedangkan Koki pengganti akan datang 1 jam lagi.


Aku harus menghubungi mas Bisma,


Sebuah ide muncul di kepala Helin yang dia fikir dapat menyelamatkan dirinya dari tanggung jawab.


Helin mengambil handphone yang berada dalam saku celana miliknya.


'Selamat pagi kesayangan...'


Helin tersenyum membaca pesan teks dari Bisma.. Kemudian melanjutkan membaca, 'Hari ini, calon mertua mu akan datang dan aku akan menjemputnya.' Garis bibir Helin makin mengembang kegirangan. Lalu menggeser pesan itu lebih ke bawah.


'Jadi hari ini aku tidak bisa menemanimu bekerja, Ku serahkan semua masalah restoran kepadamu. Aku mempercayai mu.


~Kekasihmu Bisma.


Setelah selesai membaca pesan teks secara keseluruhan, senyumnya memudar. Dia berteriak sambil memegang kepalanya.


Beberapa pelayan dapur menghampiri Helin karena teriakannya.


"Nona, apa yang terjadi?, apa Nona baik baik saja?' Tanya salah seorang pelayan memastikan.


Helin menarik nafas dan membuangnya dengan cepat. "Aku baik baik saja" jawabnya Lesu.


"Sekarang siapkan beberapa bahan, aku akan memasak." Helin melangkah dengan lesu.


Pelayan pelayan itu mengikuti perintah Helin, dan menyiapkan semua bahan yang Helin minta. Walaupun sebenarnya mereka ragu dengan yang Helin lakukan tapi mereka tidak berani membantah.

__ADS_1


Helin mulai memasak. Sebenarnya dia ragu, tapi dia tidak ada pilihan lain. Dalam pikirannya membayangkan wajah kekecewaan Bisma padanya dan juga membayangkan wajah Sekretaris Jimi yang menatapnya dengan tajam.


Beberapa pelayan dapur yang awalnya berisik bercanda sambil membantu Helin tidak memperhatikan kepanikan di wajah Nonanya itu, tapi setelah aroma masakan Helin semerbak memenuhi ruangan dapur membuat mereka takjub bahkan koki yang sudah lama memasak di ruangan itu tidak pernah melakukanya karena koki hanya memasak makanan modern.


"Nona, anda memasak makanan tradisional?, Bau nya sangat lezat pasti rasanya sangat enak."


"Benar Nona Helin, baunya saja sudah enak begini apalagi rasanya." Sambung pelayan lain.


"Ya ya terimakasih," Pujian pelayan dapur membuat semangat Helin sedikit bertambah.


"Sekarang hidangkan semua masakan ini, sebentar lagi Sekretaris Jimi akan membawa tuan mudanya."


Semua pelayan dapur mengangguk tanda mengerti dengan perintah Helin.


Semua hidangan selesai di hidangkan, rombongan Tuan Leo sudah datang tapi mereka masih berbincang di luar.


Sekretaris Jimi menghampiri Helin,


"Nona, anda yakin dengan hidangan sesederhana ini?"


'Deeek' Jantung Helin seakan berhenti berdetak mendengar kalimat sekretaris Jimi.


Sekretaris Jimi benar benar keterlaluan, dia tidak tau aku mempertaruhkan hidup dan mati ku memasak hidangan ini, dengan santainya dia bilang masakan ku sederhana. Rasanya aku ingin mencakar wajahnya sekarang juga.


Helin mengeluarkan senyum terbaiknya dengan penuh kepalsuan.


"Sekretaris Jimi, hidangan ini memang terlihat sederhana tapi apakah anda tau rasa nya sangat istimewa karena...." Helin menghentikan kalimatnya karena bingung untuk melanjutkan kalimatnya dengan kalimat apa.


"Karena apa Nona?" Sekretaris Jimi mengintimidasi Helin, khawatir Helin melakukan kesalahan.


"Karena aku membuatnya penuh dengan cinta."


Ya Tuhan, bagaiman mungkin aku mengeluarkan kalimat seindah itu untuk menyembunyikan kekhawatiranku.


Rombongan Tuan Muda Leo sudah memenuhi kursi dengan meja yang penuh dengan hidangan yang tertata di sana. Sekretaris Jimi meninggalkan Helin dan mendekati Tuan Mudahnya.


Leo memperhatikan hidangan di depanya.


Aromanya sangat familiar. Sekilas bayangan sang ibu melintas di fikirannya.


"Tuan muda Leo, saya tidak menyangka di balik kemewahan dan kesuksesan anda ada sisi sederhana. Anda menyukai makanan tradisional juga."


Leo menyeringai dengan kalimat kliennya itu, Dia tidak tau itu kalimat hinaan atau pujian untuknya.


"Saudara Han, Sebagai warga negara yang baik, kita juga harus mencintai warisan budaya kita. Dulu sebelum mengenal makanan dari luar bukankah makanan seperti ini yang mengisi perut kita."

__ADS_1


"Hahaha...Anda benar sekali Tuan Muda, aku tidak sabar mencicipinya, aromanya begitu menggugah selera apalagi sudah begitu lama aku tidak pernah menemukan hidangan seperti ini selama di luar negri."


Leo mempersilakan kliennya itu untuk menyantap hidangannya.


__ADS_2