AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
45. Hukuman


__ADS_3

Naura sengaja menunggu Helin di ruang tamu.


Dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Helin. Ingin sekali detik itu juga dia melampiaskan apa yang di rasakannya saat ini, karena sejak tadi dia menahan rasa sakit melihat Bisma yang di sukainya begitu mencurahkan rasa sayang dan perhatian kepada Helin begitu jelas di depannya.


Hampir setengah jam Naura menunggu, lalu terdengar suara pintu di buka dari luar.


Helin muncul dari balik pintu itu.


Naura langsung menghampiri dan menyerangnya.


"Helin, kau benar benar keterlaluan."


Helin tidak mengerti dengan apa yang di katakan Naura.


"Nauura, apa maksudmu ?, Aku keterlaluan apa ?"


"Jangan berpura pura tidak mengerti." Emosi Naura semakin bertambah.


"Aku benar benar tidak mengerti, kenapa kamu Semarah ini padaku ?,


Apa karena tadi, aku tertumpah minuman Tuan Muda Leo dan memarahinya, apa kamu marah tentang itu."


"Bukan hanya itu, kau juga bersalah karena telah menjalin hubungan dengan Bisma, pria yang ku sukai." tegas Naura jujur.


"Naura, apa kamu kehilangan akalmu ?, bukankah kamu baru saja merayakan hari jadian kamu dan Haris, kenapa kamu mengatakan menyukai pria lain di belakangnya. Apalagi pria yang kamu sukai juga sudah memiliki kekasih."


"Maksudmu kekasihnya itu dirimu ?" Suara Naura meninggi.


"Naura, kamu tidak boleh seserakah itu, Bagaimana mungkin kamu menyukai dua pria sekaligus ?" Helin mencoba menjelaskan.


"Apa ?, Kau mengatai aku serakah ?"


'PLAAAAK', Sebuah tamparan mendarat ke pipi Helin.


Mendengar suara ribut, Bu Suti dan Pak Wanto menghampiri mereka.

__ADS_1


"Ada apa ?, Apa yang sedang kalian ributkan malam malam begini." tanya Bu Suti.


Helin menggelengkan kepalanya, sedangkan Naura menunjuk dirinya.


"Dia yang bersalah Tante," Naura berlari memeluk tantenya sambil menangis. "Hukum dia tante."


Melihat ponakan kesayangannya menangis seperti itu membuat Bu Suti gelap mata, dia berfikir kesalahan Helin kepada Naura benar benar sangat besar.


Tanpa berfikir panjang dan mencari tau apa masalah mereka, Bu Suti langsung menghukum Helin.


"Helin, kamu harus di hukum karena telah membuat Naura menangis seperti itu."


"Tapi Bu,.. aku bisa menjelaskan ini.."


"Tidak ada penjelasan apa pun" Potong Bu Suti dan menarik lengan Helin dan menyeretnya.


Bu Suti membuka sebuah pintu dan mendorong Helin ke dalamnya.


"Bersihkan tempat ini sampai selesai, jika tidak selesai kau tidak boleh keluar dari ruangan ini." Tegas Bu Suti.


Helin di kunci dalam sebuah kamar yang di jadikan gudang penyimpanan barang barang.


Helin merasa kesal karena dirinya dari dulu selalu diperlakukan seperti itu, Selalu di hukum oleh ibu angkatnya jika terlibat masalah. Tidak peduli salah dirinya atau orang lain dia akan tetap di hukum.


"Butuh bantuan ku"


Peri Luna tiba tiba muncul di hadapan Helin dan membuat Helin sangat terkejut dengan kehadirannya.


Helin memejamkan mata dan memegang dada merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.


"Peri Lonceng, jangan lakukan ini lagi, kau bisa membuat jantungku lepas dari tempatnya."


Peri Luna terbang mengelilingi Helin dan memutar tongkatnya ke segala arah, saat itu juga barang barang dalam ruangan itu bergerak dengan sendirinya merapikan diri masing masing.


Dalam hitungan menit semua sudah terlihat rapi.

__ADS_1


"Bagaimana Nona Helin, apa masih terkejut ?"


Helin menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan.


"Sudah tidak lagi, terimakasih Peri Lonceng, kamu selalu membantu di setiap masalahku."


"Jangan sungkan Nona, kamu adalah temanku dan aku adalah temanmu. Itulah gunanya teman agar dapat saling tolong menolong, seperti kamu dulu yang menolongku keluar dari makam tua dan membebaskan diriku dari lonceng kecil itu."


Setelah mengucapkan kata katanya, wajah Peri Luna tampak berubah menjadi sedih.


Melihat hal itu, Helin menangkapnya dan meletakan Peri Luna di telapak tangannya.


"Apa kamu merindukan keluargamu ?" Tanya Helin.


Sang peri mengangguk.


"Aku juga." ekspresi Helin juga berubah dan menundukkan kepalanya.


Peri Luna merasa tidak nyaman karena Helin ikut bersedih karenanya.


"Nona Helin, aku tidak bermaksud begitu."


Helin tetap saja tertunduk.


Peri Luna lalu mencari cara untuk menghibur Helin. Dia pergi ketumpukan barang untuk mencari sesuatu yang bisa dia berikan agar Helin terhibur.


Peri Luna mengeluarkan barang barang yang tersusun rapi membuat lantai di ruangan itu di penuhi dengan barang barang lagi.


Hal itu menarik perhatian Helin untuk melihat ke arahnya.


"Nona Helin, maafkan aku. aku tidak bisa menemukan apapun untuk bisa menghiburmu di tempat ini." Sang Peri merasa putus asa.


Helin sepertinya melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia mendekati Peri Luna di antara tumpukan barang. Helin mengambil beberapa foto dengan bingkai kecil.


Sepasang pengantin di dalam foto itu, Lalu foto wanita hamil sedang duduk di kursi taman. Helin mengenali kursi dan taman itu karena itu di halaman rumah yang dia tempati sekarang. Dan yang terakhir foto dua orang wanita yang berwajah sangat mirip, Helin menebak bahwa mereka adalah kembar.

__ADS_1


__ADS_2