
"Helin...." tunjuk Bu suti ke wajah pak Wanto.
Pak Wanto kaget dan reflek memundurkan wajahnya kebelakang agar tangan buk Suti tidak mengenai wajahnya.
"bagaimana pak.??? nama ini cocokkan sama wajah bayi cantik ini"
"ya.... sepertinya begitu Bu" sambil menurunkan tangan Bu suti yang menunjuk wajahnya.
akhirnya mereka sepakat memberi nama bayi itu Helin
Jika bukan karena harta peninggalan orang tua Helin mana mungkin Bu Suti mau merawat Helin. wajah cantik dan lucu bayi kecil Helin mungkin tergambar tumpukan harta dan uang di mata Bu Suti sehingga dia rela merawat Helin dengan segenap nyawanya.
***
Hari demi hari... bulan demi bulan hingga tahun demi tahun terlewat kan. Bayi Helin kini tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Tapi kecantikannya tidak sesuai dengan pakaiannya. Pakaiannya terlalu sederhana dan apa adanya.
Helin tumbuh menjadi gadis yang penurut, pendiam dan rajin. Bu Suti mendidik Helin dengan caranya sendiri agar Helin selalu patuh terhadapnya.
__ADS_1
Setelah lulus dari bangku SMA Helin bekerja keras untuk melanjutkan kuliah. Bu Suti tidak ingin mengeluarkan biaya sepeserpun untuk Helin sehingga Helin harus banting tulang sendiri mencari biaya kuliahnya. sungguh Helin yang malang.
Helin hanya merasakan kasih sayang Bu Suti saat dia masih kecil saja, tapi setelah dia beranjak remaja hingga sekarang sikap Bu Suti 180 derajat berubah terhadapnya. Mungkin Bu Suti bosan terhadap dramanya selama bertahun tahun.
Pak Wanto yang semakin hari semakin menua dan sakit sakitan tidak bisa berbuat apa-apa dengan perlakuan istrinya terhadap Helin.. tapi sesekali pak Wanto menasehati sang istri agar bersikap baik terhadap anak angkatnya.
Helin mengetahui bahwa dia hanya anak angkat dari pak Wanto dan Bu Suti, dia juga mengetahui harta peninggalan orang tuanya juga di kuasai oleh Bu Suti ibu angkatnya. Tapi satu kali pun dia tidak pernah menuntut haknya bahkan sekalipun dia d perlakukan tidak baik oleh Ibu Suti. Dia tetap beranggapan bahwa Bu Suti adalah ibu satu satunya yang dia miliki di dunia ini, ibu yang dia sayangi dan ibu yang telah merawat ya selama ini.
Setiap hari Helin harus membagi waktunya di mana dia harus kuliah, kerja dan membantu Bu Suti.
***
"Selamat pagi bapak, selamat pagi ibu." Sapa Helin kepada kedua orang tuanya.
"Pagi.." jawab Pak Wanto.
sementara Bu Suti tidak menjawab dan langsung menarik kursi di meja makan untuk duduk.
__ADS_1
Dalam sarapan pagi itu seperti biasa sangat sunyi tanpa ada yang bicara hanya bunyi Kentingan sendok dan piring saja yang berbenturan.
" bapak, ibu... Helin di terima kerja di sebuah restoran." ujar Helin memecah keheningan.
"Benarkah.??" Tanya Bu Suti. "Lalu bagaimana kau membagi waktumu antara kuliah dan bekerja.?? tanya Bu Suti sekali lagi.
"Helin bisa kok Bu bagi waktunya"
"Bagus bila kau bisa membagi waktumu., dan jangan lupa sisakan juga waktumu untuk membersihkan rumah ini.Cetus Bu Suti santai.
"iya Bu.." jawab Helin lirih.
"Nak.,, jika kamu tidak bisa melakukannya jangan lakukan, jika itu hanya menguras tenaga dan fikiranmu." Sambung Pak Wanto
Helin menoleh Pak Wanto lalu tersenyum
"jangan khawatir bapak.. Helin bisa kok, Helin juga senang melakukannya itung-itung menambah pengalaman pak."
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Helin pun berpamitan berangkat kuliah...