
Mobil melaju dengan kecepatan sedang memecah keramaian jalan, Kali ini Helin yang mengemudi.
Sepanjang perjalanan Helin banyak bicara seolah olah mengenal Naura dengan akrab. Helin bercerita tentang hal hal yang tidak penting, kadang dia bercerita hal konyol dan membuat Naura tersenyum di balik penutup wajahnya. Helin sengaja berceloteh agar dia tidak merasa bosan di sepanjang perjalanan. karena sejak awal Naura hanya diam saja maka Helin berinisiatif memulai pembicaraan walaupun sebenarnya dia sendiri tidak mengerti ke mana arah pembicaraan nya.
Naura hanya merespon seadanya cerita cerita yang di buat Helin karena dia juga sebenarnya merasa canggung untuk berkomunikasi dengan Helin. Mungkin karena sikap nya kepada Helin selama ini kurang baik.
Di balik ceritanya sebenarnya ada rasa penasaran di dalam hati Helin untuk bertanya kepada Naura apa yang membuat wajah cantik Naura bisa menjadi seperti itu.
Helin menahan egonya untuk tidak bertanya tapi rasa penasaran terus menggugah sehingga pertanyaan begitu saja terlontar dari mulutnya. Ternyata egonya terkalahkan dengan rasa penasaran yang alami.
"Kenapa wajahmu bisa seperti itu?" Tanya Helin sambil menyetir mobil dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh Naura.
Naura cemberut tapi tetap menjawab pertanyaan Helin.
"Aku juga tidak tau kenapa bisa begini. Awal nya wajahku baik baik saja, tapi setelah malam itu wajahku jadi seperti ini." Naura menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya kemarin.
Naura meraba wajahnya yang tertutup dan matanya berbinar binar seperti hendak menangis.
Helin menjadi kasihan mendengar jawaban itu. Walaupun Helin tidak melihat mata Naura yang sedang berbinar tapi dia bisa mendengar kesedihan dari suara Helin yang terdengar lirih. Kemudian dia mencoba menyemangati Naura kembali.
Sebenarnya mereka sama sama masih polos, tapi entah apa yang di isi Bu Suti kedalam otak Naura sehingga dia juga bersikap tidak baik kepada Helin.
__ADS_1
Tapi hari ini dia melihat Helin sangat berbeda dengan apa yang di ceritakan Bu Suti kepadanya. Mungkin hari ini Naura merasa terpesona dengan cara Helin berkomunikasi dengannya. Tapi di sisi lain dia masih ragu dengan apa yang di lihatnya hari ini karena menurutnya Helin bisa saja sedang mengelabuinya, Tapi Tak pernah terfikir olehnya bahwa sebenarnya Bu Suti lah yang sedang mengelabuinya.
Rasa rasanya ada keinginan untuk Naura mengenal Helin lebih dalam. Mungkin ada rasa nyaman ketika dia bersama sama dengan Helin hari ini.
Setelah beberapa belas menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Helin mengikuti Naura masuk kedalam ruang pemeriksaan. Awalnya dia hanya mengantar Naura saja tapi lagi lagi Naura mengancam jika tidak menemaninya sampai selesai di periksa.
Setelah masuk ke dalam ruang pemeriksaan Naura merasa sedikit terkejut karena dokter yang akan memeriksa nya adalah dokter yang berdebat dengan Bu Suti kemarin.
Helin juga mengenali sang Dokter, tapi reaksinya berbeda dengan Naura. Naura bereaksi terkejut karena tantenya pernah bermasalah dengan sang dokter sedangkan Helin menyapa sang dokter dengan ramah.
"Selamat Pagi Dokter Hadi." Sambil tersenyum ke arah sang dokter.
Dokter Hadi menyambut sapaan dan senyuman Helin dengan hangat dan mempersialkannya untuk duduk.
Satu hal yang menarik perhatian dokter Hadi dari Helin yaitu seragam yang di kenakannya. Sang dokter merasa familiar dengan seragam itu.
Dokter Hadi mempersilakan Naura untuk di periksa. Naura duduk di tempat pemeriksaan dan membuka penutup wajah dan topi miliknya.
Setelah di periksa ternyata bintik di wajah Naura hanya di sebabkan oleh alergi. Alergi dari efek cream obat gatal yang di oleskan kewajahnya melebihi dosis semestinya.
__ADS_1
Dokter Hadi memberi beberapa resep untuk pemulihan wajah Naura. Naura menerimanya dan langsung berpamitan setelah menutup wajahnya kembali.
Melihat Naura sudah beranjak dari tempatnya, Helin juga menyusul mengikuti Naura tapi Dokter Hadi menghadang langkahnya.
"Bagaimana dengan luka di lenganmu, apa sudah sembuh?" Seperti khawatir.
Helin merasa canggung dengan aksi sang dokter, tapi dia tetap menjawab pertanyaan itu dengan ramah.
"Sudah dokter, sudah lebih baik dari kemarin. Terimakasih telah mengobatinya."
Dokter Hadi tersenyum lalu bergeser sedikit dari hadapan Helin.
Helin melangkah maju karena dokter Hadi telah membukakan jalan untuknya.
Setelah beberapa langkah hampir mencapai pintu, Dokter Hadi lagi lagi memanggilnya dan menghampirinya seperti tidak rela Helin meninggalkan ruangannya.
"Maaf menghentikan mu lagi, aku belum mengetahui namamu" Dokter Hadi malu malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Helin".
Helin menjawab lalu buru buru keluar dari ruangan sang dokter setelah meninggalkan sebuah senyumannya karena Naura sudah meninggalkan nya terlalu jauh.
__ADS_1