
Helin memperhatikan sekelilingnya, tidak ada siapapun di sana padahal dia mendengar dengan jelas jika suara pintu terbuka tadi.
Helin membuka pintu yang masih tertutup rapat. Dia mengitarkan pandanganya di bagian teras, Helin juga tidak menemukan siapapun.
Helin mencoba melanjutkan mengecek di bagian tangga barangkali tadi tetangganya di lantai atas ada yang melintas dan tidak sengaja mendorong pintu kosannya.
Ketika sampai di bagian tangga, Helin melihat seorang kurir yang membawa bingkisan besar menaiki anak tangga dengan susah payah.
Helin menunggu kurir itu hingga sampai ke anak tangga paling atas, Helin mengambil bingkisan itu karena itu merupakan paketan untuknya.
Helin kembali masuk kedalam kosannya dengan membawa bingkisan yang dia ambil tadi, sebelumnya Helin tidak lupa mengunci pintu, takut kejadian barusan terulang kembali.
Helin membuka paketan miliknya, Gaun pengantin berwarna silver yang sangat indah dia keluarkan dari sana.
"Nona, indah sekali...."
Helin meloncat di atas kursi karena terkejut ketika suara wanita tiba tiba terdengar sangat dekat di daun telinganya. Helin juga melempar gaun pengantinnya hingga menutupi tubuh seseorang di sana.
"Nona tolong... aku tidak bisa melihat..."
Helin mengenali suara itu tapi dia tidak yakin.
Helin pelan pelan menarik gaun pengantin miliknya dan setelah menurunkan semuanya baru dia merasa yakin jika seseorang itu adalah Peri Luna.
"Luna...."
Peri Luna menyunggingkan senyum yang paling lebar, lalu senyuman itu berlahan melemah.
"Nona, kau benar akan menikah dengan kekasihmu itu?"
"Hem... benar, bahkan kami sudah membeli gaun pengantin. Ini, indah kan?" Helin sambil memegangi gaun pengantinnya dan mencoba merapikannya kembali.
__ADS_1
"Oh iya, bagaimana caramu masuk? bahkan aku tidak melihatmu." Helin penasaran karena Peri Luna tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan kosannya.
Peri Luna berkecak pinggang sambil menunjuk Helin dengan ujung jarinya ke atas ke bawah. "Nona, apa kau lupa aku ini seorang peri, Sangat mudah bagi ku untuk masuk jika pintu tidak terkunci."
Helin mencebik, itukah keahlian peri? Bahkan anak kecil juga bisa melakukanya.
"Hem baiklah, dimana Niko?"
Peri Luna mengangkat bahu, "Aku tidak tau."
Helin menaikan alisnya merasa bingung dengan jawaban Peri Luna, setahunya mereka selalu bersama setiap waktu.
"Lalu bagaimana caramu kemari?"
"Nona, aku sudah mengatakannya padamu tadi, aku ini seorang peri, sangat mudah bagiku melakukan hal kecil seperti itu. Aku bisa pergi kemanapun kecuali ke Negri Peri."
Helin menyipitkan matanya meneliti Peri Luna dengan penuh curiga.
"Baiklah lihat ini." Peri Luna memutar jari telunjuknya di gaun pengantin yang di pegang Helin. ketika cahaya biru keluar dari ujung jari Peri Luna, Gaun pengantin milik Helin sudah terlipat dengan rapi di atas meja.
"Kekuatanku sudah kembali" Peri Luna melipat kedua tangannya di bagian dada. Peri Luna kembali mengumbar senyum.
Helin mendekati Peri Luna dan meneliti pundak Peri Luna bagian belakang.
"Kau tidak memiliki sayap, bagaimana mungkin kekuatanmu bisa kembali?"
Senyuman Peri Luna memudar, pipinya menjadi memerah seperti bayi saat Helin bertanya padanya.
Peri Luna memainkan jarinya sambil mencari ide untuk menjawab pertanyaan Helin, "Karena, karena.. karena aku sering berlatih, ya benar karena aku sering berlatih setiap hari." Jawab Peri Luna sambil kembali tersenyum lebar.
Peri Luna menunduk menyembunyikan warna rona pipinya sembari membayangkan ciuman pertama Niko padanya yang membuat kekuatannya kembali.
__ADS_1
"Hem baguslah jika begitu." Helin mengulurkan tangannya, "Selamat ya" Senyuman Helin memancar ikut merasa senang karena kekuatan Peri Luna sudah kembali.
Peri Luna menyambut uluran tangan Helin, "selamat untukmu juga nona." Peri Luna menarik lengan Helin dan memeluknya. "Jangan lupakan aku jika kau sudah menikah sekalipun" Tambah Luna berbisik di telinga Helin.
"Aku menyayangimu" Itu kata terakhir yang di dengar Helin.
Saat Helin menyadari Peri Luna sudah tidak ada lagi. Helin merasa dia sedang berhalusinasi tapi rasanya sangat nyata.
***
Di tempat lain, Peri Luna membuka matanya saat Niko menyentuh lengannya.
"Kau tertidur saat sedang duduk?istirahatlah!, itu tandanya kau sangat kelelahan."
Peri Luna memperhatikan Niko tapi dia tidak membuka suaranya. Peri Luna merasa bingung jika di dekat Niko ataupun Leo kekuatanya sama sekali tidak bisa di fungsikan dengan baik.
Niko merasa aneh karena Peri Luna tidak secerewet biasanya, Niko memeriksa suhu kening Peri Luna. "Apa kau sakit?"
Peri Luna menggeleng tanpa suara.
Niko semakin bertambah bingung, "Apa ada masalah?" Tanyanya memastikan karena tidak biasanya Peri Luna sediam itu.
Peri Luna kembali menggeleng, lalu memegang kedua pipinya. "Aku merasa masih sedikit mengantuk dan.... merasa lapar."
Niko meletakan sesuatu yang dia bawa dan menaruhnya di atas meja. "Aku sudah menduga itu, Ini aku membelikan makanan untukmu!"
Peri Luna memperhatikan bingkisan yang di letakan Niko.
"Tunggu apa lagi?, apa kau ingin aku suapi?" Tanya Niko dengan nada menggoda.
"Tidak, aku bisa sendiri" Peri Luna menyambar bingkisan itu dan membawanya ke dapur. Sementara Niko memperhatikan Peri Luna sambil tersenyum nakal ketika Peri Luna meninggalkannya dengan wajah tertunduk.
__ADS_1
Sejak kejadian kemarin Peri Luna merasa malu berdekatan dengan Niko. Dia seakan ingin menghindar sejauh mungkin tidak ingin Niko melihat rona merah di pipinya. Peri Luna merasa itu sangat memalukan jika Niko melihatnya, karena bayangan dalam pikirannya selalu keluar saat melihat wajah Niko.