AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
64. Hinaan lagi


__ADS_3

Hadi keluar dari toilet dan segera mendatangi meja tempatnya berada bersama Helin tadi.


Hadi tidak menemukan Helin di posisi mejanya, Hanya pria yang ia kenali sedang duduk di sana dengan wajah datarnya dan terlihat kesal.


"Leo, kau di sini juga. Ada apa denganmu?, apa yang terjadi?, Kenapa kau basah begini?, kau tertumpah jus ya?" Tanya Hadi kepada Leo karena aroma jus lemon tercium dari arah Leo yang terlihat sedikit basah.


"Hem.." Leo hanya menjawab singkat pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Oh iya, apa tadi kau melihat Helin? Dia duduk di kursi ini, aku datang bersamanya."


Hadi mengitarkan pandangannya barangkali Helin berpindah meja pikirnya.


"Dia sudah pergi keluar, mungkin saja sudah pulang."


"Apa..?, Bagaimana mungkin, kondisinya belum benar benar pulih. Bagaimana dia bisa pergi?, Aku akan menyusulnya."


Hadi bergegas meninggalkan Leo dan segera mencari keberadaan Helin yang Leo katakan sudah pergi.


Hadi keluar dari tempat itu. Dia mencari Helin di luar ruangan cafe Zoo museum. Di sana dia menemukan Helin yang sedang duduk di kursi antri pembelian tiket.


Hadi merasa lega karena Helin dalam jangkauan pandanganya. Dia mengmapiri Helin yang sedang duduk sendirian di sana.


"Helin, kau di sini?," Helin mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk.


"Dokter Hadi." Helin mengusap genangan genangan air mata yang membasahi ke dua pipinya dengan cepat berkali kali.


Hadi terkejut, "Helin, kau menagis?, Apa yang membuatmu menangis katakan?, Apa kau merasa sakit lagi?."

__ADS_1


Helin menggelengkan kepalanya sambil terus mengusap air matanya yang tidak henti mengalir walau ia coba menahannya.


"Helin," Seseorang mendorong tubuh Hadi dan membuatnya terpinggirkan. Dia adalah Bisma yang baru saja datang. "Kenapa kau menagis?, Apa dia melakukan sesuatu padamu?" Sambil memandangi Hadi.


Helin menggelengkan kepalanya dengan cepat, mulutnya seakan terkunci tidak bisa menjawab karena airmatanya terus mengalir.


Bisma beralih ke Hadi yang semapat ia dorong tadi. "Apa yang terjadi padanya? kenapa dia menangis seperti itu?"


"Aku juga tidak tau kenapa dia menangis seperti itu." Tegas Hadi.


Bisma menarik kerah baju sahabatnya. "jangan bohong, aku tau dia di sini bersamamu. Apa yang kau lakukan padanya, cepat katakan" Tegas Bisma kepada Hadi.


Hadi menepis tangan Bisma yang menarik kerah baju yang ia kenakan.


"Aku sudah mengatakan aku tidak melakukan apa pun kepadanya, Aku sama Seli tidak membuatnya menangis, bahkan aku menolongnya." Bela Hadi.


"Hei mau Kau bawa kemana dia?, Helin belum sepenuhnya pulih!" Pekik Dokter Hadi.


Bisma menghentikan langkahnya, Dia mengajak Helin bicara sebentar memastikan perkataan Dokter Hadi.


"Apa kamu sakit?" Tanya Bisma ke pada Helin yang berada di hadapannya.


Helin menggangguk.


kemudian Bisma melanjutkan langkahnya membawa Helin, kali ini langkahnya pelan dan tidak terburu buru seperti tadi untuk mengimbangi Helin.


Hadi hendak mengejar Helin dan Bisma yang semakin menjauh dari pandanganya, tapi langkahnya di hentikan oleh Leo.

__ADS_1


"Jangan mengejarnya"


"Leo, bagaiman Bisma bisa ada di sini, apa kau yang memberi tahunya?"


Leo mengangguk.


"Kenapa kau memberitahunya, sekarang dia membawa Helin pergi. Padahal Helin belum pulih sepenuhnya, dia masih dalam masa rawatanku." Jelas Hadi masih merasa kesal.


"Dia sakit?"


"Ia, selama beberapa hari dia sakit dan aku yang merawatnya"


"Jika benar dia sakit, kenapa kau tidak memberitahu keluargannya?, semua orang mencari Dia selama beberapa hari. Dan kau lihat itu Bisma hampir gila karena tidak menemukan dirinya."


"Dia yang meminta agar aku tidak memberi tahukan kepada Bisma, Dia tidak ingin membuat Bisma khawatir terhadapnya."


"Lalu kenapa tidak memberi tahu keluarganya?"


"Keluarganya yang mana?, Dia yatim piatu dan tidak memiliki satu keluarga pun, bahkan dia sudah di usir dari rumahnya sendiri."


Sepertinya mereka semua mengenal gadis penggoda itu dengan sangat baik. Apa penilaian ku selama ini salah terhadap dia?


Pikiran Leo mulai terbang kesana kemari memikirkan apa yang pernah dia perbuat pada gadis malang itu. Semua orang di sekitarnya menilai positif tentang Helin, hanya dia menilai gadis itu dari sisi sebaliknya.


"Aku penasaran, apa yang membuat Helin menangis seperti itu tadi, air matanya seakan tidak ingin berhenti. Padahal dia bersamaku sebelumnya baik baik saja!" Hadi masih berusaha mengingat ingat tentang Helin yang tidak biasanya seperti itu. "Aku merasa kasihan padanya, dia gadis yang sangat baik tapi cobaan hidupnya cukup berat untuknya sebagai wanita"


'deeeg', kalimat yang Hadi keluarkan seakan seperti senapang yang menembak Leo. Timbul perasaan bersalah dalam hatinya mengingat hinaan hinaan yang sering dia katakan kepada Helin.

__ADS_1


__ADS_2