AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
60. Tinggalkan saja


__ADS_3

Dia sudah kembali!, aku mengira Sekretaris Jimi yang membuat gadis konyol itu menangis. Leo hendak masuk lagi ke kamarnya, tapi suatu kekhawatiran tiba tiba melintas dari benaknya. Apa mungkin terjadi sesuatu pada temannya?.


Leo membalikan badan memaksakan dirinya untuk lebih dekat ke posisi Niko dan Luna.


"Ada apa?"


"Dia menagis" Jelas Niko sambil mendekap wajah Luna kedalam pelukannya. Membuat Luna sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


Jawaban yang sangat konyol, pikir Leo. Dia juga tau jika Luna sedang menangis.


"Apa yang membuatnya menangis?" tanya Leo lagi dengan lembut. Ia merasa adiknya juga tertular konyol seperti Luna.


"Dia khawatir terhadap Helin, karena masih belum di temukan sampai sekarang."


"Oh hanya itu" Jawabnya cuek tapi sebenarnya dia juga penasaran kenapa Helin tiba tiba menghilang. Apa karena ancamannya kemarin untuk menjauhi adiknya. Tapi rasanya tidak mungkin, sebab semua orang tidak pernah bertemu dengannya sejak 3 hari terakhir, termasuk juga Bisma yang merupakan kekasih Helin.


***


Bisma tertidur di sembarang tempat di antara kursi kursi dan hiasan bunga yang berserakan.


Dia di bangunkan seorang wanita yang merupakan ibunya


"Kenapa merusaknya?, bukankah kau meninggalkan pekerjaan mu selama beberapa hari untuk mendekorasi semua ini?" Tanya wanita itu sambil mengusap kepala putra satu satunya yang ia miliki.


Bisma sengaja merusak tempat yang akan dia gunakan untuk melamar Helin. Melampiaskan kekesalan yang ada di dalam hatinya karena tidak kunjung bertemu dengan Helin selama beberapa hari.


Kemarin malam sebelum dia merusak tempat itu, Bisma menghubungi Soni. Soni merupakan dosen dari tempat Helin kuliah. Soni menjelaskan bahwa Helin tidak pernah terlihat sejak 1 Minggu terakhir.


Begitu juga di rumah yang Helin tempati. Bisma malam itu memberanikan diri untuk datang ke sana sendiri, Hanya Naura yang ada di dalam rumah itu, Naura mengatakan jika Helin tidak lagi tinggal di sana. Pernyataan pernyataan itu membuat Bisma semakin frustasi. Di mana lagi dia harus mencari kebenaran Helin, pikirannya.


Tersirat kekecewaan di manik mata Bisma, membuat sang ibu ikut merasakan kesedihan itu.

__ADS_1


"Putraku, bangunlah..., Ini bukan pertama kalinya kau merasa kecewa karena wanita. Jadi jangan seperti ini. Masih banyak wanita di luar sana yang mau menerimamu. Lupakan saja wanita ini." ucap sang ibu dengan lembut, agar putranya menurut.


Bisma membulat kan matanya, masih menatap sang ibu dengan tatapan sopan.


"Ibu, ini yang keduakalinya dirimu menyuruhku meninggalkan wanita yang ku cintai."


"Putraku, mengertilah. Jangan pertahankan seseorang yang tidak mencintaimu. Itu hanya akan membuat hatimu sakit. Lebih baik lepaskan saja dia."


"Aku yakin Helin juga mencintai ku, dia pasti punya alasan akan hal ini. Aku tidak bisa melakukanya lagi ibu, maafkan aku." Bisma bergegas pergi meninggalkan ibunya sendiri setelah mengatakan kalimat terakhirnya.


Sang ibu masih menatap punggung Bisma yang berlalu menjauh darinya.


Putraku, aku sangat menyayangimu. Kau putraku satu satunya. Aku tidak ingin kau mengalami nasip yang menyedihkan seperti diriku, karena menikahi orang yang salah.


Cairan bening mulai bergenang di pelupuk mata wanita itu, hingga akhirnya menetes membasahi pipinya. Teringat akan masalau yang di alaminya. Entah seperti apa itu, hanya dia yang tau. Tapi sepertinya sangat menyedihkan dan menyakitkan untuk di ingatnya kembali.


"Nyonya Rossa!" Panggil seorang supir pribadi kepadanya karena wanita itu tak kunjung menampakan diri setelah Bisma pergi dari tempat itu.


Wanita itu buru buru menyembunyikan wajahnya dan menghapus deraian air mata yang sedang membasahi pipinya agar tidak terlihat oleh sang supir.


Sang supir mengangguk akan perintah itu, lalu mengikuti langkah nyonya Rossa dari belakang.


Bisma pulang kerumahnya hanya untuk membersihkan dirinya. Setelah itu dia pergi ke restoran miliknya. Mengontrol restoran sebentar lalu pergi lagi.


Kali ini dia tidak memiliki tujuan dengan pasti. Bisma menyusuri sepanjang perjalanan dengan mengemudikan mobil miliknya. Pikirannya kacau tanpa solusi.


Hingga akhirnya dia memutuskan berhenti di suatu tempat yang hendak di lewati nya. Tempat itu tidak terasa asing baginya. Tempat yang sangat nyaman di pandang mata dan tempat kebanyakan orang berkumpul bersama keluarga mereka.Ya, itu merupakan taman danau yang sering di kunjungi Helin ketika hari libur.


Bisma memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia khusus untuk mobil. Lalu keluar dari dalam mobilnya dan memasuki area taman.


Dia duduk di sebuah kursi panjang sambil memantau orang orang yang sedang berada di sana. Hingga akhirnya pandangan Bisma tertuju pada seorang gadis yang tidak asing baginya.

__ADS_1


Gadis yang tidak ia ketahui namanya.


Gadis itu juga melihat ke arahnya dan berangsur berjalan mendekati keberadaan dirinya.


"Hei, kau pria kemarin malam. Bagaimana apa sudah mendapat informasi tentang keberadaan Nona Helin?" Tanya gadis itu tanpa basa basi.


Bisma menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Gadis itu tampak kesal dengan jawaban Bisma yang menggelengkan kepalanya. Wajahnya berubah tidak bersahabat.


"Tentu saja kau tidak bisa menemukan dirinya. Bukan mencari, kau malah bersantai di tempat ini!"


Kalimat yang terdengar pedas dari gadis manis di hadapannya membuat Bisma menaikan alisnya. "Aku...."


Seseorang mengunakan jaket Hoodie dengan menutup wajahnya menggunakan masker polos datang secara tiba tiba dan mendekap mulut gadis itu.


Bisma kaget dan reflek berdiri dari tempatnya sehingga tidak melanjutkan kalimatnya. Dia berfikir orang itu akan berniat jahat terhadap gadis di hadapannya.


Seseorang itu menghentikan Bisma agar tidak mendekat ke arahnya dengan membuka masker yang menutup wajahnya.


"Kau..."


"Ya, ini aku Niko."


Bisma kembali duduk di tempat nya semula, mencari ketenangan nya kembali.


Sementara gadis di hadapannya meronta agar Niko melepas dekapan tangannya dari mulutnya. Aksinya membuahkan hasil. Dia terlepas dari dekapan Niko setelah beberapa kali berusaha meronta.


Gadis itu memukul Niko beberapa kali sebagai balasan. "Kenapa kau menutup mulutku seperti itu?, Bahkan aku belum selesai memarahinya." Sambil menoleh Bisma.


"Luna, ini bukan saatnya untuk memarahi siapapun. Jangan banyak bicara dulu, kau sangat cerewet." Perintah Niko kepada Luna agar dia diam tapi malah di balas Luna dengan manyunan dari bibirnya.

__ADS_1


"Bisma, maafkan perkataan Luna tadi, dia memang seperti itu, sangat banyak bicara." Jelas Niko agar Bisma tidak merasa tersinggung.


Bisma mengangguk.


__ADS_2