AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
66. Tidak Bisa Memberi Penjelasan


__ADS_3

Bisma dan Helin hanya berdua di dalam ruangan itu. Mereka duduk berhadap hadapan. Bisma mengambil kedua tangan Helin dan memegangnya.


"Apa kau merasa lebih baik sekarang?" Tanya Bisma basa basi.


Helin mengangguk, "Aku merasa lebih baik," Helin menatap mata Bisma "Apa kau marah padaku?"


Bisma menundukan kepala beberapa detik, lalu menatap Helin kembali. "Tidak, aku tidak marah padamu, aku hanya khwatir." Jawab Bisma pelan.


"Maaf kan aku. Aku sengaja tidak memberitahukan keberadaan ku padamu. selain karena aku sakit, aku juga memiliki beberapa masalah. Aku tidak ingin merepotkan mu dan tidak bermaksud membuat mu khwatir."


Bisma masih menatap Helin, kali ini tatapannya sedikit berbeda. "Lalu bagaimana dengan Hadi? Kau lebih percaya padanya untuk merawat mu dari pada aku?" Apa kau berpikir aku tidak bisa membantu setiap masalah mu. Apa hanya Hadi yang bisa menyelesaikanny?"


Helin menggeleng dan melepaskan tangannya dari pegangan Bisma.


"Bukan seperti itu" Helin menjawab lalu memalingkan wajah.


"Lalu" Bisama menunggu penjelasan dari Helin.


"Aku juga tidak tau kenapa aku bisa bersamanya?!, Tapi ini bukan salahnya juga!" Helin kembali menatap Bisma, dia tidak ingin siapapun di salahkan dalam maslahnya.


"Kau membelanya?"


"Tidak, aku tidak membelanya. Tapi ini benar benar bukan salahnya. Dia menolongku."


"Dia menolongmu?, Apa hanya dia yang bisa menolongmu?"


Helin tidak bisa menjawab, Bahkan dirinya seakan terpojok.


Helin menarik nafas lalu membuangnya dengan cepat." Baiklah, aku yang bersalah. Tapi Ku mohon jangan salahkan siapapun dalam masalah ini. Salahkan aku saja."


Bisma membuang wajah mendengar kalimat Helin. Dia diam sejenak.


"Bukan jawaban yang seperti itu yang ku ingin kan." Bisma berdiri dan hendak melangkah pergi karena kecewa dengan jawaban Helin.


"Kau tidak mengerti masalahnya, Ku mohon mengertilah."


Bisma menghentikan langkahnya dan membalikan badan. "Aku tidak bisa mengerti dengan keterpaksaan, Seharusnya kau katakan saja apa yang seharusnya membuat diriku bisa mengerti!"


Helin diam, tubuhnya terasa lemah karena tidak bisa menjawab pertanyaan Bisma lagi.


Karena tidak ada jawaban dari Helin lagi, Bisama kemudian pergi keluar dari ruangannya meninggalkan Helin sendirian.


Bisma melangkahkan kakinya dengan lemah, dia menyusuri lorong dari meja makan di restoran miliknya.

__ADS_1


"Bisma," Langkah Bisama berhenti ketika suara wanita memanggil namanya. Bisma menoleh ke asal suara.


Wanita itu tersenyum kearahnya, lalu melambaikan tangan agar Bisma menghampiri dirinya.


Bisma menghampiri wanita itu lalu duduk di kursi pada meja yang sama dengannya.


"Bagaimana, apa Helin sudah ditemukan?


"Sudah" Jawab Bisma singkat.


Wanita itu terkejut "Sudah, lalu dimana dia sekarang?"


Kenapa bisa ketemu sih? kenapa dia tidak menghilang saja dari muka bumi ini?!, Ini akan sulit untuku mendekati Bisma lagi. Apa dia sudah mengatakan apa yang sudah kulakukan padanya pada Bisma?. Naura meneliti wajah Bisma. Sepertinya Bisma belum mengetahuinya, Pikir Naura.


"Dia ada di dalam" Jawab Bisma masih dengan wajah sendu.


Naura masih meneliti wajah Bisma, Naura menebak jika Bisma sedang memiliki masalah. Tapi entah apa masalahnya. Harusnya dia senang karena Helin sudah di temukan tapi kenapa malah sebaliknya. Mungkin dia sedang ada masalah dengan Helin pikir Naura. Naura tertawa dalam hati. Dia sangat senang jika Bisma dan Helin benar benar ada masalah.


***


Hari sudah menjelang sore, Bisma kembali keruangannya. Bisma berharap setelah dia meninggalkan Helin beberapa jam lamanya Helin bisa memberikan alasan yang dapat di pahami dirinya.


Bisma masuk ke dalam ruanganya. Dia mencari keberadaan Helin. Dia menemukan Helin masih di posisi yang sama di saat dia meninggalkanya tadi.


Helin membelakangi dirinya sambil membenam kan wajahnya di sandaran sofa.


"Kau menangis lagi?, Bisma merangkul Helin ke dalam pelukannya.


"Tidak, aku hanya sedikit bersedih!"


"Apa karena aku? Sambil memandangi Helin di dalam pelukannya.


Helin menyeka bekas airmatanya. "Tidak, Aku juga tidak tau. Entah kenapa sekarang aku lebih suka menangis?!"


"Jangan berbohong lagi, Maaf kan aku. Aku tidak akan bertanya apa apa lagi. Sekarang jangan menangis, Maafkan aku." Bisma membujuk Helin yang berada di dalam pelukannya. Dia tidak tahan melihat wanita menangis.


"Sekarang ayo pulang" Bisma mengajak Helin pulang bersamanya.


Ketika Bisma sudah melajukan mobilnya membelah keramaian jalan raya, Bisama dan Helin saling diam, tercipta kesunyian di antara mereka selama beberapa menit.


Bisma memulai percakapan untuk mengusir kesunyian di antara mereka.


"Di mana aku akan mengantarmu?, kamu sudah tidak tinggal di tempatmu yang lama kan?

__ADS_1


Helin tidak menjawab, Dia hanya menggelangkan kepalanya.


"Kenapa kamu pergi dari sana? Dan sekarang kamu tinggal dimana?"


Helin memandang Bisma dengan ekor matanya tanpa menolehkan wajah. Ah, kenapa dia bertanya. Apa yang harus ku jawab?. Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku di usir!.


"Aku.... aku hanya tidak ingin merepotkan mereka lagi." Helin menyembunyikan kebenaran di depan Bisma, Helin tidak ingin Bisma berpendapat buruk lagi.


Bisma mengangguk berulang." Lalu sekarang kamu tinggal dimana?"


Helin memejamkan mata. Dia tidak yakin jika Bisma menyukai jawabannya.


"Aku... aku tinggal di rumah Hadi." Jawab Helin terbata dan pelan.


Bisma kembali diam dan terlihat fokos dengan setirannya setelah mendengar jawaban Helin.


"Tapi, aku tidak hanya tinggal berdua di rumahnya. Di sana ada Hana juga, adik Hadi." Jelas Helin takut jika Bisma berfikir buruk tentang dirinya.


Bisma masih tidak merespon, seolah olah dia tidak mendengar perkataan Helin.


Bisma menaikan gas mobinya melaju lebih kencang dari kecepatan yang tadi.


Helin mencari apapun yang bisa di pegangannya karena dia merasa takut.


Bisma menyadari hal itu, dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Helin menjadi lebih tenang setelah mengusap dadanya beberapa kali.


Kemudian mereka berhenti di depan rumah besar dan tampak mewah menurut Helin.


Bisma mengajak Helin turun dan masuk kedalam rumah itu. "Sekarang kamu bisa tinggal di sini sesukamu!"


Helin mengitari ruangan itu dengan pandanganya, " Ini rumah siapa?" Tanya Helin penuh tanda tanya.


"Rumahku!, Nanti kamu juga akan tinggal di sini setelah kita menikah."


"Tapi kita belum menikah, aku tidak ingin tinggal di sini hanya berdua saja denganmu. apa kata orang nanti?" Tolak Helin.


"Kamu menolak tinggal di rumahku, tapi tidak menolak tinggal di rumah Hadi." Ada kekecewaan di mata Bisma.


Helin merengutkan wajahnya, "Kau memulainya lagi, Tadi aku sudah bilang ada Hana juga di sana."


"Di rumah ini juga ada ibuku." Bela Bisma lagi agar Helin tetap tinggal.


"Benarkah, Dimana?" Tanya Helin semangat karena ada org lain di rumah itu.

__ADS_1


"Sedang keluar kota, Minggu depan baru kembali."


"Ya sudah kalau begitu Minggu depan saja aku tinggal di sini." Helin tetap kekeh tidak ingin tinggal di rumah Bisma jika hanya ada mereka berdua saja.


__ADS_2