AKU DAN PERI

AKU DAN PERI
67. Tempat Tinggal Baru


__ADS_3

Helin tidak ingin tinggal atau menginap di rumah Bisma jika hanya mereka berdua di sana. Alasannya sederhana, tidak ingin ada komentar negatif lagi tentang dirinya seperti waktu lalu.


Bisma mengalah dengan keputusan Helin, Dia tidak ingin berdebat lebih jauh hanya karena penolakan yang di lakukan Helin terhadapnya.


Bisma mengambil Handphone dari saku celana dan mengirim pesan pada seseorang.


"Jika tidak ingin tinggal di sini setidaknya bisa duduk sebentar saja sebagai tamu. Aku sudah menyuruh seseorang untuk mencarikan tempat tinggal yang baru untukmu."


Helin mengikuti perintah Bisma, setelah mengangguk lalu dia duduk di sofa ruang tamu.


Suasana terasa sunyi di ruangan itu. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Helin merasa tidak nyaman dengan hal itu, dia melirik Bisma sesekali. Wajah Bisma tampak datar dengan tatapan kosong sambil memutar mutarkan handphone miliknya.


Helin ingin mengajak Bisma berbicara untuk mencairkan suasana tapi pada waktu yang bersamaan, Handphone yang ada di tangannya berdering. Helin mengurungkan niatnya.


Bisma mengangkat panggilan telfon dan meletakan benda pipih itu di telinganya lalu menutup kembali tanpa menjawab.


"Ayo kita pergi sekarang" Ajak Bisma kepada Helin.


"Hem... kemana? Tanya Helin karena merasa bingung tiba tiba Bisma mengajaknya pergi.


"Kamu tidak ingin menginap di sini kan?, Aku sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru untukmu."


Bisma mengambil genggaman tangan Helin dan menggandengnya menuju pintu keluar.


Mereka melakukan perjalanan kembali di malam itu menuju tempat tinggal untuk Helin yang baru.


Bisma tidak banyak bicara seperti biasanya, membuat Helin menjadi serba salah. Helin beberapa kali melirik Bisma, tatapan Bisma masih sama seperti di rumah tadi.


"Mas Bisma?, kenapa tidak mengajak ku bicara? apa kamu marah kepadaku?"


Bisma menoleh sekali lalu menggeleng. "Tidak, bagaimana mungkin aku bisa marah pada orang yang ku cinta!"

__ADS_1


Helin tersenyum malau malu mendengar pertanyaan Bisma kepadanya. Hatinya seakan meleleh hanya dengan kalimat Bisma yang seperti itu.


"Mas Bisma!, Panggilnya lagi.


"Hem," Jawab Bisma sambil menoleh ke arah Helin sebentar lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan karena dia sedang menyetir.


"Terimakasih"


"Terimakasih untuk apa?"


"Terimakasih karena sudah baik kepadaku."


Seulas senyuman yang baru saja terukir di bibir Bisma berlahan menghilang.


"Kamu seperti berbicara kepada seorang teman."


"Tidak tidak, bukan seperti itu," Helin menggaruk pipinya "Apa aku salah bicara?"


Helin kembali mengajak Bisma bicara untuk meluruskan kalimatnya, Helin berfikir jika Bisma menjadi salah faham dengan kata katanya.


Helin memegang lengan Bisma yang sedang menyetir. "Maksudku terimakasih sudah mencintaiku."


Kali ini Bisma menjadi tersenyum karena kalimat yang di ucapakan Helin. Wajahnya yang datar sudah tak terlihat lagi.


Bisma menghentikan mobilnya karena mereka sudah Samapi di tempat tujuan.


Mereka keluar dari mobil dan menatap tempat itu sebentar.


"Ini tempat tinggalmu yang baru."


Helin dengan polos mengitarkan pandanganya ke tempat yang di maksud. "Wah, sebesar ini?"

__ADS_1


Bisma menarik lengan Helin agar lebih mendekat dengannya. "Tidak, kamu hanya menempati salah satunya. Ini kos susun, Kamu tidak akan tinggal sendirian di sana. Ada banyak tetangga yang akan kamu kenali nanti. Ayo...." Bisma mengajak Helin menaiki tangga.


Mereka menaiki tangga karena kosan yang akan di tempati Helin berada di lantai dua.


Bisma memperlihatkan ruangan bagian dalam tempat itu kepada Helin. Tempat yang tampak simpel dan sangat cocok untuk di tinggalinya sementara waktu.


"Apa kamu suka?"


Helin tersenyum sambil memeluk lengan Bisma yang dari tadi di pegangnya. "Aku suka"


Bisma mengelus rambut Helin, "Bagus lah jika kamu menyukainya." Bisma melepaskan tangannya yang di peluk Helin. Kini dia membuat Helin menghadap tepat di depan dirinya sambil memegang kedua bahu Helin. "Ingat, kamu tinggal di sini hanya sementara. Jika Ibu sudah kembali kamu harus tinggal bersamaku."


Helin mengangguk mengiyakan kaliamat Bisma.


Seulas senyuman terukir di wajah Bisma, Pandangan mereka menjadi bertemu cukup lama. Perlahan wajah mereka semakin dekat, Helin menjadi sedikit gemetar akan hal itu, dia seakan mengerti apa yang akan di lakukan Bisma kepadanya.


Hanya berjarak beberapa sentimeter saja, tiba tiba Helin memalingkan wajah dan mendorong sedikit tubuh Bisma agar menjauh darinya. Helin memejamkan mata beberapa detik, lalu membukanya kembali sambil mengatur nafas pelan.


"Maaf, aku tidak bermaksud...."


Helin menggelengkan kepalanya seakan memberitahukan Bisma jangan melakukan hal itu lagi.


"Baiklah, malam semakin larut, aku akan pulang." Bisma mendekati Helin kembali dan mengusap kepalanya. "Jaga dirimu baik baik di sini, aku akan kembali lagi besok."


Helin mengangguk dan mengantar Bisma di depan pintu lalu menutupnya kembali setelah Bisma hilang dari pandanganya.


Helin bersandar di pintu yang telah tertutup rapat, "Maaf Mas Bisma, aku menolak kamu melakukan itu. Aku tidak akan melakukan apapun denganmu sebelum kita benar menjadi pasangan yang resmi."


Helin kemudian berjalan menuju tempat tidur barunya, dia menjatuhkan tubuh dan beristirahat disana. Sebelum memejamkan mata, Helin teringat kepada Peri Luna. Pikirnya sudah lama dia tidak bertemu sang peri. Dia merasa sangat merindukannya.


Dia meraba saku untuk mengambil handphone miliknya tapi Helin tidak menemukan apa yang di cari. Dia baru teringat sesuatu, Helin menepuk kening dengan sebelah tangan. "Aku lupa jika handphone ku sudah rusak kemarin terkena hujan. "Baiklah besok aku akan menemui peri Luna." Setelah memutuskan hal itu Helin memejamkan mata dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2