Aku Dia Bagimu

Aku Dia Bagimu
Bab 100


__ADS_3

Di sore hari yang seharusnya senja muncul yang akan membuat warna bumi menguning namun saat ini tidak, hujan turun dengan derasnya membasahi bumi untuk menyegarkan segala makhluk hidup yang ada di bumi.


Namun bagi seorang wanita yang terduduk dikursi roda hujan membuatnya mengingat segala tragedi yang terjadi yang mengakibatkan luka tidak terobati


Clara menatap kosong keluar melalui jendelanya, tidak ada suara isak tangis namun air mata selalu keluar membasahi pipinya. Mata itu sudah tidak memancarkan gairah kehidupan lagi


Gairah hidupnya telah pergi, jiwanya dibawa pergi oleh kekasih hatinya yang sudah tidak bisa dia gapai lagi bagaimanapun dia berusaha


Sentuhan lembut dibahunya seolah menarik kembali Clara dari dunianya sendiri, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun tersebut berjongkok dihadapan Clara dan mengusap air mata mantan menantu yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri


"Masuk yuk? anginnya sangat kencang nak tidak baik untuk kesehatan kamu" ucap wanita paruh baya tersebut dengan lembut


Semua terluka atas tragedi yang menimpa mereka, seorang anak semata wayang kesayangan keluarga telah pergi, seorang kekasih hati yang berjanji akan kembali dan memulai semua dari awal lagi nyatanya tidak pernah kembali, seorang ayah yang sosoknya sangat dicintai sang anak pergi tanpa berpamitan meninggalkannya dalam belenggu kerinduan yang tidak akan pernah terobati


Semua menangis dalam kesendiriannya masing-masing, berusaha mencoba untuk saling menguatkan agar tetap dalam kesadaran


Clara mengerjapkan matanya melihat mantan ibu mertua yang sudah seperti ibu baginya, sejak tragedi itu kedua orang tua Abraham memutuskan membawa Clara dan Arsen untuk tinggal dengan mereka karena mereka tahu kedua manusia ini adalah harta Abraham yang paling berharga, mereka juga tidak mampu meninggalkan Clara dan Arsen hanya berdua didalam keterpurukan


"Mama, apakah Abraham tidak kedinginan didalam sana?" mata kosong itu menatap sang ibu dengan tatapan penuh kesedihan


"Mama hujan sangat deras, kita tidak bisa meninggalkan Abraham sendirian disana. Mama ayok kita jemput Abraham mama" Clara terisak dengan pilu


Mama Claudya pun tidak mampu lagi menahan air matanya, bibirnya bergetar dengan hebat. Kehilangan sang anak semata wayangnya belum dapat dia terima hingga saat ini. Anak kebanggaannya pergi secepat ini belum pernah dia bayangkan

__ADS_1


Dia tidak terima akan takdir Tuhan yang mengambil anaknya lebih dulu dari dirinya, sakit hatinya sangat tidak terlukiskan


Mama Claudya memeluk Clara dengan erat dan menangis histeris, dia sudah berusaha tegar demi menantu dan cucunya namun ternyata tidak mudah bahkan dia rasa dia tidak mampu menghilangkan perih hatinya atas kepergian sang anak


"Hiksss.... hiksss... sayang jangan begini" Sudah beberapa hari setelah pemakaman Abraham namun semua orang masih belum mampu ikhlas, terlebih Clara yang bahkan berbicara sendiri seakan Abraham berada didekatnya


Clara melepaskan pelukan mama Claudya lalu memencet tombol kursi rodanya untuk berjalan keluar rumah


"Aku tidak bisa membiarkan Abraham sendirian, disana pasti gelap"


Ketika akan keluar dari pintu utama kursi roda Clara tergelincir untungnya bertepatan dengan datangnya Gio


"ARA" Teriak Gio lalu berlari menghampiri tubuh ringkih tersebut


"Kau mau kemana hujan begini" tanya Gio


"Justru itu Gio kita harus pergi karena ini hujan, Abraham sendirian disana Gio aku yakin Abraham pasti takut disana juga gelap pasti Gio"


Gio terpaku ketika mengetahui maksud Clara, direngkuhnya tubuh itu kedalam pelukannya. Tiada niat lain semua murni memang untuk menguatkan


"Ara sadarlah, Abraham tidak akan tenang jika kau seperti ini terus" Setengah mati Gio berusaha menahan air matanya, diapun sama terlukanya atas kepergian sahabat sejatinya itu


"Abraham tidak kehujanan, Abraham juga tidak merasakan gelap. Dia sudah ditempat yang terang Ara"

__ADS_1


"Benarkah?" Clara melepaskan pelukannya dan menatap mata Gio lekat


Gio mengangguk


"Jadi kita tidak perlu khawatir, besok jika sudah tidak hujan kita akan kemakam Abraham" bujuk Gio


"Jangan katakan itu" Clara tidak dapat menerima jika orang orang mengatakan Makam Abraham, Abrahamnya masih ada hanya saja mempunyai rumah sendiri itulah yang dia yakini


"Maaf, maksudku rumah. besok kita kerumah baru Abraham ya"


Clara mengangguk lalu Gio kembali mendudukkan Clara dikursi roda dan membawanya masuk menuju rumah


Arsen yang menyaksikan itu semua segera berbalik badan dan masuk kekamarnya, awalnya Arsen sangat terpukul daan histeris namun semua orang memberinya pengertian bahwa dia harus kuat, harus tegar agar dapat menjaga sang mami yang lemah


Sehingga tertanam dibenaknya memang sekarang tidak ada lagi yang bisa dia harapkan akan menjadi pahlawan bagi dia dan sang ibu selain dia sendiri yang harus berubah menjadi pahlawan itu


Arsen berjalan kearah nakas yang ada disamping ranjangnya diatas nakas tersebut terdapat figura yang berisi gambar dia, sang mami dan daddy nya


"Kau berbohong lagi, nyatanya kau tidak pernah kembali. kau kembali membuat mami menangis, apakah kau senang disana? aku membencimu" walau kata benci terucap namun Arsen mengusap lembut wajah sang daddy dan mendekap figura tersebut


Dia menanamkan pikiran untuk membenci sang daddy agar dia menjadi kuat dan tidak berlarut dalam kesedihan, namun hatinya seakan ingin berteriak memanggil pria tersebut


Sejak peristiwa tragis tersebut semua orang berubah....

__ADS_1


__ADS_2