Aku Dia Bagimu

Aku Dia Bagimu
Bab 87


__ADS_3

"Apa maksudnya ini Gio?" bentak Abraham ketika melihat sebuah surat bertuliskan pengunduran diri sang sahabat


Gio menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia merasa tidak mampu lagi bekerja dengan Abraham. ntah kenapa setelah menyaksikan adegan menyayat hati antara Clara dan Arsen membuat dirinya sedikit membenci sang sahabat yang menurutnya sangat lemah ini


Padahal Abraham adalah tipe pria yang setia, sulit jatuh cinta dan tidak pemain wanita tetapi kenapa dia bisa mudah tergoda hingga kembali meniduri mantan kekasihnya bahkan hingga hamil


Sementara dirinya yang masih suka bermain wanita ini saja rasanya tidak akan pernah terjerumus kedalam dosa yang sangat mengerikan tersebut hingga melukai istri dan anaknya


"Maafkan aku, namun sepertinya aku juga ingin mandiri dan memulai karirku juga tanpa bayang bayang dirimu" Gio berusaha mencari jalan aman karena memang Abraham juga tahu Gio sebenarnya sudah sangat mampu mendirikan usahanya sendiri namun dia masih belum siap saja untuk lepas dari Abraham


Sehingga Gio memanfaatkan alasan tersebut dan yang membuat dirinya juga semakin tidak ingin bekerja dengan Abraham karena istri sahabatnya bukan lagi Clara wanita lemah lembut yang menghasilkan keponakan gantengnya yaitu Arsen yang dia anggap seperti anaknya sendiri


Dia mungkin akan menggila jika sampai bertemu dengan istri baru sahabatnya ini dan bukan sesuatu yang mustahil mereka akan sering berjumpa karena status wanita tersebut yang sudah sah menjadi istri Abraham


Sehingga dia memilih untuk menjauh dari Abraham agar kewarasannya juga terjaaga


"Jadi kau memutuskan untuk menjadi rivalku begitu?" tanya Abraham dengan nada sinis, dia kesal karena sahabatnya inipun memutuskan untuk meninggalkannya didalam keterpurukannya ini


"Sadarlah Gio, kau bukan siapa-siapa tanpaku" sejujurnya Abraham tiada maksud berkata seperti itu dia hanya merasa kesal dan emosi karena sahabat yang dia harapkan menjadi tempatnya berkeluh kesah juga meninggalkannya


"Abraham kauu!" ucap Gio geram akan perkataan sahabatnya itu, dia tidak menyangka malah perkataan seperti itu yang keuar dari mulut Abraham,dia berpikir Abraham mungkin akan membujuknya namun ternyata malah sebaliknya


"Pergilah, aku tidak akan menahanmu. aku akan melihat sejauh apa kau mampu berdiri diatas kakimu sendiri" ucap Abraham ketus tanpa menoleh kearah Gio, dia kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya

__ADS_1


Gio yang mendapat respon Abraham seperti itu segera berlalu dan membanting pintu dengan keras


Baru saja beberapa langkah dia keluar dari ruangan Abraham dengan emosi yang memuncak namun sialnya wanita yang sangat dia tidak harapkan untuk bertemu justru sedang berjalan kearahnya dengan senyum mengembangkan


"Gio" sapa Key dengan sangat ramah dan memberikan senyum manisnya


Gio tidak peduli dan terus berlalu tanpa mempedulikan sapaan wanita sialan itu


"Seharusnya kau sadar siapa majikanmu sekarang, bersikaplah layaknya pesuruh terhadap majikannya" ucap Key sinis, dia sangat kesal Gio mengacuhkannya seperti itu padahal statusnya sekarang adalah nyonya besar


Langkah Gio seketika berhenti karena mendengar kalimat penuh sindiran wanita sialan itu yang dia yakini memang ditujukan kepada dirinya


"Bersikaplah layaknya wanita ****** karena bagaimanapun kau membalut tubuhmu dengan pakaian mahal sekalipun tidak akan mengubah statusmu yang hanya wanita murahan" balas Gio sengit


Key berjalan memasuki ruangan Abraham dengan kekesalan memenuhi hatinya


"Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk?" ucap Abraham sengit ketika melirik sekilas siapa yang masuk dengan tidak sopannya kedalam ruangannya


"Ma-maaf Bi" Key merutuki dirinya yang dengan bodohnya masuk kedalam ruangan Abraham dengan setingan penuh emosi padahal dia harus masih berusaha meluluhkan Abraham yang memang dia tahu sangat membenci dirinya


Abraham tidak menggubris permintaan maaf Key dan tetap melanjutkan pekerjaannya


"Bi, bisakah temani aku makan siang?" inilah tujuan Key datang kekantor Abraham karena dia memang sedang ingin makan berdua dengan sang suami

__ADS_1


"tidak bisa! apa kau tidak lihat aku sedang sangat sibuk" balas Abraham ketus bahkan tanpa menatap lawan bicaranya


"Bi, please. sepertinya baby ingin makan dengan daddynya" Key berusaha membujuk dengan membawa bawa nama sang bayi


"Jangan mengada ada, pergilah dan tunggu aku dirumah" Abraham tidak peduli mau itu keinginan baby atau tidak dia tidak peduli karena dia memang tidaak mengharapkan bayi itu


Key mengelus perutnya yang sudah agak menyembul tersebut, berharap sang bayi tidak mendengar perkataan sang ayah


"Apa kamu akan pulang cepat" tanya Key lagi masih berusaha bernegosiasi namun Abraham hanya diam


"Apa kamu ingin aku masakin sesuatu? bagaimana dengan makanan kesukaan kamu yang sering kita masak diapartemen dulu Bi? ahhhh aku rindu kebersamaan kita ketika diapartemen"


Brakkk


Key terlonjak kaget ketika mendengar Abraham menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras


"Jangan melewati batasmu Key, aku menikahimu hanya untuk memastikan apakah benar bayi itu benar anak ku atau bukan" ucap Abraham sengit dia sangat tidak terima masa lalunya yang menurutnya menjadi sumber kehancurannya diungkit ungkit karena itu akan mengingatkannya aknan kehilangan istri dan anaknya


"Pulanglah dan jadilah ada namun seperti tidak ada bagiku hingga bayi itu lahir dan berdoalah semoga kau memang tidak menipuku karena jika kau menipuku maka aku akan membunuhmu dan bayi yang kau kandung itu" ucap Abraham dengan tatapan yang sangat tajam menghujam tepat mengenai jantung Key


Tanpa banyak perlawanan Key akhirnya keluar dari ruangan tersebut dengan pelupuk mata yang menggenang


"Maafkan daddymu ya sayang, daddy tidak bermaksud seperti itu nanti juga daddy akan sayang sama kamu sama mami juga" Key berusaha menenangkan dirinya dan sang jabang bayi yang dia rasa sedikit menegang mungkin karena dia terlalu takut dengan ekspresi Abraham tadi

__ADS_1


__ADS_2